RSS
Syndicate content

Varietas dan Persemaian Benih Sawi Putih (Brassica Rapa Var. Pekinensis) Dengan Teknologi EMP

Sumber Gambar: isroi.wordpress.com
Sawi putih (Brassica rapa convar. pekinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae) dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa; karena itu disebut juga sawi cina dan dikenal pula sebagai petsai. Disebut sawi putih karena daunnya yang cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih bisa digunakan pada asinan (diawetkan dalam cairan gula dan garam), pada capcay, dan pada sup bening. Sawi putih beraroma khas namun netral. Habitus tumbuhan ini mudah dikenali yaitu memanjang, seperti silinder dengan pangkal membulat seperti peluru, warnanya putih. Daunnya tumbuh membentuk roset yang sangat rapat satu sama lain.

Varietas Sawi putih

Varietas sawi putih adalah sebagai berikut: a) Yokohama F-1, pertumbuhan tanaman tegak memanjang dan seragam. Bentuk krop oval, panjang dan berwarna hijau terang. Performa krop padat, dengan berat krop rata-rata 1,5 - 2,5 kg. Tekstur daun renyah, sehingga cocok untuk dikonsumsi segar. Tanaman ini tahan terhadap penyakit busuk lunak. Sawi putih varietas ini bisa tumbuh di tempat penanaman pada ketinggian 600 - 1.300 m dpl. Pemanenan dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 65 - 70 HST. Potensi produksi antara 30 - 35 ton per hektar; b) Okinawa F-1, pertumbuhan tanaman sangat kuat dan seragam. Bentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau terang. Performa krop padat, dengan berat rata-rata 1,5 - 2,5 kg dan tidak mudah pecah, sehingga tahan terhadap pengangkutan jarak jauh. Varietas ini tahan terhadap penyakit busuk lunak. Tanaman ini bisa tumbuh pada ketinggian 900 - 1.300 m dpl. Pemanenan dilakukan saat tanaman pada umur 55 - 60 HST. Potensi produksi antara 30 - 35 ton per hektar; c) Jerri F-1, pertumbuhan tanaman kuat dan seragam. Bentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau, terang. Performa krop padat dengan berat rata-rata 1,5 - 2,0 kg. Tanaman sawi putih varietas ini tahan terhadap busuk lunak dan downy mildew, dan bisa tumbuh pada ketinggian 500 - 1.500 m dpl. Pemanenan dilakukan saat tanaman berumur 55 - 60 HST. Potensi produksi antara 25 -30 ton per hektar; d) Leony F-1, pertumbuhan tanaman tegak dan seragam. Bentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau, terang. Performa krop padat dengan berat rata-rata 2 - 3 kg, tahan terhadap busuk lunak, akar gada, dan virus. Tanaman ini bisa tumbuh pada ketinggian 500 - 1.500 m dpl. Pemanenan dilakukan saat tanaman berumur 65 - 70 HST. Potensi produksi antara 30 -35 ton per hektar.

Syarat Tumbuh
Sawi putih termasuk dalam sayuran yang sistem perakarannya dangkal, tidak tahan kering dan tidak suka terendam air, sehingga cocok dibudidayakan di tanah berpasir dengan drainase yang baik. Namun demikian, tanaman sawi putih juga dapat tumbuh pada tanah lempung sampai lempung berpasir, gembur dan mengandung bahan organik, dengan pH tanah optimum antara 6,0 - 6,8.
Tanaman ini tumbuh di lokasi terbuka dan memperoleh sinar matahari langsung serta drainase air lancar. Sawi putih hanya tumbuh baik pada tempat-tempat sejuk dengan ketinggian 500 - 1.500 m dpl, sehingga di Indonesia ditanam di dataran tinggi.

Penyemaian Benih
Sebelum ditanam pada lahan penanaman, perlu dibuat persemaian benih terlebih dahulu. Kebutuhan benih per hektar sekitar 200 - 250 gr. Media semai disiapkan berupa tanah sebanyak 2-3 bagian dan pupuk kandang matang sebanyak 1 bagian. Kemudian campur tanah dan pupuk kandang, lalu saring dengan menggunakan ayakan pasir. Siapkan bumbungan semai yakni semacam polibag tetapi dibuat dari daun pisang. Kebutuhan bumbungan untuk persemaian 34.000-35.000 buah/ha. Berikut cara pembuatan bumbungan (a) belah lembaran daun pisang selebar 5 cm; (b) lingkarkan belahan daun pisang dengan diameter 4-5 cm, lalu sematkan dengan menggunakan lidi sehingga berbetuk tabung dengan diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm. Siapkan tempat persemaian berupa bedengan dengan lebar 100 cm dan tinggi 15-20 cm yang dilengkapi dengan pembatas sisi-sisinya. Pembatas tersebut dapat dibuat dari bilah bambu atau kayu. Tempat persemaian harus terbuka, mudah diawasi dan jauh dari gangguan binatang peliharaan sepserti ayam, anjing dan kucing. Susun bumbungan di tempat bedengan persemaian sambil mengisi media semai ke dalam bumbungan. Sehari sebelum penanaman benih, siram media semai di bumbungan dengan larutan Agrobost hingga lembab (sampai di dasar bumbungan) dengan dosis 1 ml/ liter air. Lalu tanam benih satu persatu di tengah media bumbungan secara berurutan dari ujung ke ujung agar tidak ada yang terlewat dengan jarak tanam perbatang 6 cm. Timbun permukaan media bumbungan dengan selapis media semai setebal 0,5 cm. Tutup bedengan persemaian dengan karung, daun pisang atau plastik selama 3-4 hari (hingga tampak benih sudah berkecambah).

Perawatan Persemaian
Setelah penutup dibuka dan benih sudah berkecambah, siram secara rutin untuk menjaga kelembaban media persemaian. Pada umur 15 hari, siramkan larutan Agrobost dengan dosis 1 ml/liter air. Bila ditemukan serangan penyakit Dumping off (bercak basah di pangkal batang yang menyebabkan benih rebah), semprotkan fungisida Benlate dengan dosis 1 gr/1 liter air atau Orthocide dengan dosis 3 gr/1 liter air. Benih bisa dipindahkan di lahan penanaman setelah berdaun sejati dua (2) lembar atau berumur sekitar 18 - 20 hari.

Penulis : Wiwiek hHidajati, Penyuluh Pertanian Madya. email : wiwiekhidajati@yahoo.co.id
Sumber : Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran Lebih Menguntunngkan dengan Teknologi EMP. Oleh Ir. Wahyudi