RSS
Syndicate content

Teknologi Panen Hujan dan Teknologi Irigasi untuk Pengelolaan Air dan Iklim

Dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim, Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan dan mengembangkan beberapa teknologi pengelolaan sumberdaya air, antara lain teknologi panen air (water harvesting), teknologi pemanfaatan air secara efisien melalui system irigasi tetes di tingkat desa dengan membangun jaringan tingkat desa (jides) dan di tingkat usaha tani dengan membangun jaringan irigasi tingkat usahatani (jitut), teknologi prediksi iklim dan teknologi penentuan masa dan pola tanam.

Teknologi Panen Hujan
1. Embung
Embung adalah salah satu teknologi pemanenan aliran permukaan dan air hujan, berfungsi sebagai tempat resapan yang dapat meningkatkan kapasitas simpan air tanah dan dapat dimanfaatkan untuk pengairan tanaman pada musim kemarau. Agar berdaya guna dan berhasil guna, pembuatan embung perlu memperhatikan
beberapa hal berikut:
a. Embung dibangun dikawasan yamg mempunyai luas daerah aliran air (tampungan) yang cukup, sehingga limpasan air hujan dapat disalurkan ke dalam embung hingga mengisi penuh pada musim hujan. Untuk embung ukuran 400 m 3, daerah aliran/tangkapan air hujan di atasnya minimal 800m 2;
b. Kedalaman embung berkisar antara 4 - 10 m.
c. Jika merupakan milik perorangan atau keluarga, embung hendaknya dibuat di dekat atau di lahan pertanian miliknya. Bila merupakan lembung kelompok, letaknya harus pada tempat yang disepakati, memenuhi persyaratan daerah aliran dan tidak terlalu jauh dari saluran pembuangan utama agar memudahkan pembuangan kelebihan air;
d. Jika embung dibuat pada lahan miring, perlu memperhatikan sifat-sifat tanah terutama stabilitas dan porositas. Pada tanah yang labil, embung mudah longsor atau retak, contohnya pada tanah vertisol/Grumusol atau tanah lain yang mudah retak;
Pada dasarnya embung dapat dibedakan menjadi embung pertanian dan embung tradisional. Embung pertanian dirancang untuk irigasi lahan pertanian dalam skala yang cukup luas, biasanya dibuat permanen atau semi permanen. Semen dan plastik dibutuhkan untuk membuat dasar dan dinding kedap air. Embung tradisional adalah galian tanah yang dibuat petani untuk menampung hujan dan aliran permukaan dengan volume yang tidak terlalu besar. Embung tradisional biasanya dibuat pada tanah-tanah yang lapisan bawahnya kedap air, dapat pula dibuat pada dasar sungai yang mengering di musim kemarau.


2. Dam Parit
Dam parit dibangun untuk membendung aliran air pada suatu parit (drainage network) dan mendistribusikannya untuk mengairi lahan disekitarnya. Pada prinsipnya teknologi dam parit bertujuan untuk:
a. Menurunkan debit puncak untuk menghindari banjir dan tanah longsor serta erosi. Pembuatan dam parit yang memotong aliran air akan mengurangi kecepatan aliran parit;
b. Memperpanjang selang waktu antara saat curah hujan maksimum dengan debit maksimum untuk meningkatkan debit dan lamanya ketersediaan air, sehingga meningkatkan luas lahan yang dapat diairi;
Keuntungan pembuatan dam parit di antaranya:
a. Mengurangi resiko erosi tanah dan banjir di daerah hilir;
b. Tersedianya air menurut ruang dan waktu, sehingga menekan resiko kekeringan dan meningkatkan luas lahan yang dapat dibudidayakan.


Sumber : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi