RSS
Syndicate content

Teknik Budidaya Wijen

Sumber Gambar: http://www.google.co.id

Budidaya wijen relatif mudah, resiko kegagalan kecil, input rendah dan mudah ditumpangsarikan dengan palawija tanaman pangan atau tanaman industri, serta tidak diminati oleh mamalia, seperti kera, babi hutan, kijang, sehingga sesuai untuk ditanam dikawasan hutan.

 

Budidaya wijen secara sederhana


1. Waktu tanam.
Untuk lahan kering dimusim hujan yaitu wilayah yang bercurah hujan pendek dengan tipe iklim D4, E3, dan E4, wijen ditanam pada awal musim penghujan agar tanaman tidak mengalami hambatan suhu tanah, ketersediaan air, dan jazad pengganggu. Pada lahan sawah sesudah padi pertama (MK-1) atau padi kedua (MK-2) dimusim kemarau, wijen ditanam segera setelah tanaman sebelumnya dipanen.


2. Jarak tanam
Secara umum, wijen yang bercabang (Sbr 1, Sbr 3, dan Sbr 4) dianjurkan menggunakan jarak tanam 60 x 25 cm, atau 50 x 25 cm, sedangkan varietas yang tidak bercabang (Sbr 2) dianjurkan dengan jark tanam 40 x 25 cm dengan dua tanaman per lubang.


3. Pemupukan
Pemupukan dilahan kering digunakan N (100 kg Urea/ha), P2O5 (50 kg SP-36/ha) dan K2O (50 kg KCl/ha). Pemupukan di lahan sawah sesudah padi dengan 150 kg urea/ha. Urea 1/3 dosis, P dan K diberikan pada waktu tanam, sedangkan 2/3 dosis Urea diberikan pada saat tanaman berumur 30 - 35 hari setelah tanam. Cara pemupukan dan penempatan pupuk sebaiknya dengan cara ditugal dengan jarak sekitar 5 cm dari lubang tanam dan kedalaman 2,5 - 5,0 cm, dan ditutup dengan tanah.

4. Pola tanam
Pengembangan wijen di lahan sawah banyak dilakukan secara monokultur, akan tetapi dengan pertimbangan risiko kegagalan dan peningkatan pendapatan, dapat ditanam secara tumpangsari, tumpangsisip, atau campuran (dua tanaman atau lebih ditanam secara bersamaan). Di lahan kering wijen dapat ditumpangsarikan dengan jagung, kapas, jarak kepyar, kacang hijau, kacang tanah, atau padi gogo.

Tumpangsari wijen dengan jagung, dan setelah jagung dipanen disisipi kacang hijau memberikan penerimaan lebih besar dari pada wijen monokultur atau jagung monokultur, atau kacang hijau monokultur. Contoh tumpangsari wijen dengan jarak kepyar pada tahun 2000 di lahan kering di Asembagus memberikan penerimaan Rp. 10.000.000,-/ha - Rp. 11.000.000,-/ha.


5. Pengendalian gulma dan penggemburan tanah
Periode kritis adanya gulma yaitu pada awal tanam sampai menjelang berbunga. Oleh karena itu, pengendalian gulma dianjurkan mulai awal pertumbuhan sampai umur 45 hari. Setelah umur tersebut pertumbuhan lebih cepat dan tanaman menutup lahan dibawahnya, sehigga mampu menekan gulma, karena sebagian besar gulma tidak tahan naungan. Selain disiang, perlu dilakukan pembumbunan yang dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran, yaitu pada saat tanaman berumur sekitar 30 - 45 HST. Pembumbunan dimaksudkan akar tanaman dapat menembus lapisan tanah lebih dalam. Penyiangan dilakukan 2 - 3 kali.


6. Panen dan Pasca Panen
Waktu panen yang tepat adalah apabila sebagian besar polong sudah berwarna hijau kekuningan, dan daun sudah mulai rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong batang wijen 15 - 20 cm di bawah kedudukan polong. Batang wijen dibendel dengan garis tengah 15 - 20 cm, kemudian dijemur secara berdiri, disandarkan di para-para bambu. Kalau cuaca panas, dijemur 7 hari polong-polong ujungnya sudah membuka dan sudah dapat dibijikan dengan membalik bendelan sambil dipukul-pukul dengan kayu agar biji keluar dari polong. Setelah biji dikeluarkan kemudian bendelan dijemur kembali, dan pada hari berikutnya dibijikan kembali untuk mengeluarkan biji yang masih tersisa. Biji kemudian ditampi dan dijemur sampai kering sekitar 2 hari.

Slamet Widodo
Sumber ; Balittas-Malang