RSS
Syndicate content

TEBANG DAN ANGKUT TEBU

Sumber Gambar: http://gunungmadu.co.id

Tebang dan angkut tebu, merupakan proses menebang, memuat dan mengangkut tebu dari kebun ke meja tebu untuk siap digiling.

 

Pelaksanaan tebang dan angkut merupakan kegiatan panen yang harus mendapat perhatian secara cermat. Resiko kehilangan produksi gula karena tebang dan angkut sangat besar, baik dari aspek kuantitas seperti pasokan bahan baku tebu dan tebu tertinggal/terbuang, maupun aspek kualitas seperti pengurangan kandungan dan mutu gula.


Kriteria keberhasilan pelaksanaan tebang dan angkut diukur dari kemampuan kotinuitas pasokan bahan baku sesuai kapasitas giling dan mutu tebang yang layak giling. Mutu tebang sangat dipengaruhi oleh kesiapan prasarana, sarana angkutan, sumber daya tenaga tebang, kondisi lingkungan, kelancaran giling pabrik dan sistem pengupahan tenaga tebang dan angkutan.


Sarana pelaksanaan Tebang dan angkut :
Sarana pelaksanaan tebang dan angkut adalah : 1) Timbangan berupa jembatan timbang 2) Alat pemindah tebu dari truk ke lori / meja tebu 3) Alat tebang manual berupa : parang, golok maupun sabit khusus 4) Alat tebang mekanis 5) Alat muat manual oleh manusia, alat muat mekanis 6) Alat angkut berupa truk, lori dan trailler.


Prasarana tebang dan angkut :
Prasarana tebang dan angkut harus dipersiapkan agar lalu lintas angkutan menuju Pabrik Gula dapat berjalan lancar. Untuk itu penyiapan jalan lori, jalan mobil dan jembatan yang akan dilalui untuk kelancaran lalu lintas angkutan tebu dari kebun ke Pabrik Gula harus betul-betul diatur sehingga kontinuitas pasokan tebu sesuai kapasitas giling, dengan sisa pagi maksimal 15 % dari kapasitas giling dengan mutu tebang layak giling sesuai standart Manis, Bersih dan Segar (MBS).


Standart mutu tebang layak giling sesuai standart MBS adalah sebagai berikut : 1) Manis dapat dilakukan dengan memanen tebu pada umur minimal 10 bulan dan maksimal 14 bulan sesuai kemasakan tebu. Bebas sogolan (tebu muda) yang panjangnya kurang lebih 1,50 meter. Jika dipanen dengan cara tebang pandes, maka sisa tunggak maksimal 5 cm dari permukaan tanah. 2) Bersih dapat dilakukan dengan cara hasil tebangan tebu yang akan digiling harus bersih dari kotoran-kotoran berupa daun kering dan hijau, pucuk tebu, tebu muda / sogolan ± 1,50 meter, tebu mati, tanah, akar dan rumput atau bahan lain non tebu. 3) Segar dapat diperoleh dengan cara hasil tebangan tebu berwarna hijau atau tidak terbakar. Waktu tunda sejak tebu ditebang sampai digiling maksimal 24 jam di kebun dan di meja tebu dengan sistem First In First Out ('FIFO"). Waktu tunda tebang terjadi karena angkutan tidak lancar, kerusakan pabrik sehingga berhenti giling.


Cara tebang dan angkut tebu :
Cara tebang dan angkut tebu dapat dilakukan dengan tiga sistem yaitu : sistem tebu ikat, tebu urai dan tebu potong.
• Tebu ikat
Pangkal batang tebu ditebang rata dengan permukaan tanah menggunakan golok, demikian juga pucuk tebunya pada ruas terakhir. Kurang lebih 30 batang tebu diikat dengan tali bambu atau bisa juga dengan kulit tebu. Namun bila menggunakan kulit tebu membawa sampah kepabrik sekitar 8 %, jika menggunakan tali bambu hanya sekitar 2,87 %. Tebu yang sudah diikat dinaikkan ke atas truk kemudian diangkat ke pabrik.
Rata-rata tiap orang mampu menebang tebu 2 - 3 ton per hari. Untuk truk dengan bak terbuka, muatanya dibongkar dengan menggunakan cane stacker, sedangkan truk dengan bak kotak (box truck) dibongkar dengan menggunakan tipper.
• Tebu urai
Pangkal batang tebu ditebang rata dengan permukaan tanah menggunakan golok dan dipotong bagian pucuknya pada ruas terakhir, selanjutnya tanpa diikat tebu ditumpuk sehingga membentuk onggokan sebesar cakupan mesin pemuat.
• Tebu potong
Tebu dipotong-potong sepanjang ± 25 cm, menggunakan mesin potong. Mesin bekerja di setiap petak mulai dari baris tanaman paling tepi, disampingnya diikuti box truck dan dipastikan bahwa potongan tebu yang keluar dari cerobong mesin potong jatuh tepat di dalam bak truk. Pekerjaan ini dilakukan sampai ujung petak selanjutnya pindah ke baris tanaman berikutnya sampai bak truk penuh. Demikian seterusnya sampai dengan petak selesai. Sistem ini biasanya hanya dioperasikan pada saat jumlah tenaga tebang menurun yaitu pada bulan Agustus dan Hari Raya Idul Fitri.


Tebang dan angkut tebu merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam proses produksi untuk itu, dalam pelaksanaannya harus direncanakan dengan cermat sehingga dapat memenuhi pasokan bahan baku yang sesuai kapasitas giling dan mutu tebang yang layak giling.


Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan.
Sumber :
1) Anonim, 2006. Pedoman Budidaya Tanaman Tebu Lahan Sawah. Direktorat Budidaya Tanaman Semusim. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.
2) http://gunungmadu.co.id