RSS
Syndicate content

SITEM SIRAMAN (SPRINKLER) TEKNOLOGI HEMAT AIR PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH

Wilayah di Indonesia yang terdiri dari kepulauan dengan gunung dan lembah menyebabkan adanya perbedaan karakter iklim di beberapa wilayah terutama di Indonesia bagian timur, yang mempunyai jumlah curah hujan yang cukup rendah. Untuk mengantisipasi rendahnya curah hujan dan terbatasnya fasilitas irigasi, di daerah sentra bawang perlu dilakukan sistem siraman (sprinkler). Sistem siraman ini air dialirkan melalui pipa ke lahan pertanian yang membutuhkan. Distribusinya pun melalui pipa. Jika dengan cara konvensional, dengan menunggu curah hujan turun, hal ini menyebabkan produksi bawang merah rendah (4 ton/ha) jika dibanding potensi produksinya yang mencapai lebih dari 8 ton/ha.

 

Teknologi hemat air
Dari sisi penghematan air, teknologi siraman dapat menghemat sampai 50% air dibandingkan yang digunakan dengan cara gelontor. Artinya setiap hektar air yang digunakan dalam irigasi konvensional sesungguhnya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman bawang merah seluas dua hektar. Suatu pertambahan areal yang sangat nyata, apalagi ketersediaan air permukaan pada saat curah hujan rendah sangat terbatas.

 

Investasi yang perlu dpersiapkan
Pipa PVC. Untuk menerapkan sistem irigasi sprinkler dan tetes bawah permukaan, diperlukan investasi sekitar 35-45 juta rupiah. Pada instalasi irigasi yang dipasang permanen, diperlukan pipa-pipa PVC yang berkualitas. Pipa PVC yang dikubur dengan baik dapat bertahan lebih dari lima tahun, untuk itu perlu kualitas penyambungan pipa yang benar-benar baik. Selain itu juga perlu dipersiapkan pompa air dan rotator.
Gotong royong. Mengingat biaya pemasangan jaringan irigasi, pompa air dan rotator membutuhkan biaya yang mahal, sebaiknya dikerjakan secara bergotong royong dengan anggota kelompok. Pengadaan sarana dapat dilakukan dengan cara iuran anggota.

 

Teknik pembuatan sprinkler dari Balit Tanah
Mengingat mahalnya biaya, Balit Tanah memperkenalkan teknik irigasi bawah permukaan dengan jaringan yang dibuat dari pipa PVC berdiameter 0,5 inci di setiap jarak tertentu diberi lubang dengan diameter 1 mm. Pipa ini dibenamkan pada kedalaman lapisan olah (15 cm). Teknik ini diperkenalkan sebagai alternatif pilihan petani. Teknologi ini lebih murah, karena tidak diperlukan pompa air dan rotator. Namun karena jaringan pipa harus dipasang lebih rapat, yaitu setiap 1,3 m atau sama dengan lebar bedengan, maka penggunaan pipa akan lebih banyak. Pengadaan pipa relatif lebih mudah dibandingkan dengan pengadaan rotator. Pompa air untuk irigasi siraman membutuhkan kekuatan dorong sampai 2 atmosfer, sedangkan pompa air untuk irigasi bawah permukaan tidak membutuhkan tekanan tersebut.

 

Mengingat mahalnya sarana yang harus dipersiapkan, maka perlu kiat-kiat untuk meringankan petani yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Memperkuat kelembagaan petani dengan mengaktifkan kegiatan kelompoktani/ gabungan kelompok tani yang dapat menggerakkan dalam pengumpulan dana investasi yang dapat bermanfaat bagi anggota kelompok;
2. Pemasangan instalasi jaringan irigasi yang permanen dalam lahan pertanian, dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan dana kelompok;
3. Pembelian pompa air dilakukan oleh kelompok tani agar setiap anggota kelompok dapat menggunakan pompa air sesuai kebutuhan masing-masing. Untuk itu diperlukan penjadwalan irigasi agar setiap anggota dapat terlayani seluruhnya;
4. Instalasi irigasi sprinkler dapat dibuat tidak permanen. Sistem ini mudah untuk dibuat secara knock down, sehingga mudah dipindahkan ketempat yang memerlukan;
5. Jika instalasi dibuat permanen, maka rotatornya dapat digunakan secara bersama oleh petani sesuai jadwal yang telah ditentukan
6. Untuk lebih efisiensi, sebaiknya sprinkler mengairi luas areal lebih dari satu hektar. Untuk petani yang mempunyai lahan kurang dari satu hektar sebaiknya bergabung dengan petani lain yang berdekatan supaya waktu tanam dan pengaturan jadwal irigasi bisa bersamaan. Penggabungan jadwal tanam dan pemeliharaan memberikan keuntungan berupa penghematan biaya operasional dan biaya investasi.

 

Agar usaha bawang merah mencapai titik impas pada MT II, maka yang perlu diperhitungkan adalah:
1. Petani harus mempertahankan produksi sekitar 7 ton per musim per hektar;
2. Mempertahankan tingkat kesuburan tanah dengan cara mempertahankan tingkat kesuburan tanah dengan cara mempertahankan dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah pada tiingkat 2,5-3,0%, setara dengan pemberian kotoran ternak sebanyak 25 ton/musim atau 2,5 kg/m2
3. Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tentang instalasi irigasi agar dapat memperbaiki apabila terjadi kerusakan.

 

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Teknik Irigasi Diminati Petani Bawang Donggala, Warta Sumberdaya Lahan, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan, 2007; Teknologi dan Strategi Konservasi Tanah dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian, Pengembangan Inovasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian, 2008.