RSS
Syndicate content

SISTIM PERTANIAN ORGANIK MENGURANGI GAS RUMAH KACA (GRK)

Sumber Gambar: www.agrilands.net
Adanya peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menyebabkan terjadinya pemanasan global yang berakibat terjadinya perubahan iklim dan perubahan lingkungan. Emisi GRK yang disumbangkan dari kegiatan sektor pertanian tahun 1990 digambarkan sebagai berikut: gas methan (CH4) sebesar 3.387,52 Gg, nitrit dioksida N2O 13,53 Gg, nitroksida (NOx) 1.071 Gg, karbonolsia (CO) sebesar 30,96 Gg dan karbondioksida (CO2) sebesar 75.332,22 eq. Untuk mengurangi Emisi GRK diantaranya dapat dilakukan dengan pengembangan pertanian organik, selain menghasilkan tanaman yang sehat, tentunya juga mengurangi penggunaan pupuk kimia, pestisida yang bila diguanakan secara berlebihhan akan memicu meningkatnya GRK. Praktek pertanian yang menjamin keberlanjutan produksi dan produktivitas komoditas pertanian adalah dengan sistim pertanian organik yaitu sistim pertanian dengan penggunaan bahan kimia baik dalam penggunaan pupuk maupun pestisida sintetik seminimal mungkin. Untuk memenuhi unsur hara yang diperlukan tanaman dilakukan dengan pengelolaan bahan organik tanah dan pemakaian pupuk hayati, sedang untuk pembrantasan organisme pengganggu tanaman dilakukan dengan memberikan pestisida hayati.
Pengelolaan bahan organik tanah
Pengelolaan bahan organik ditujukan untuk menyediakan sumber energi dan nutrisi bagi biota tanah, sehingga keanekaragaman biota tanah terjaga dan dapat berfungsi membantu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap jenis biota tanah memerlukan senyawa organik yang berbeda dengan jenis biota lainnya, sehingga diperlukan keanekaragaman tanaman sebagai sumber organik. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan cara mengtur pola tanam dan pemakaian pupuk organik. Pola tanam: pola tanam selain dimaksudkan untuk memperoleh hasil tanaman yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, juga bertujuan untuk mendapatkan sisa tanaman/panen yang mengandung berbagai senyawa organik sehingga diperoleh bahan organik dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi biota tanah. Semua sisa panen dikembalikan ke tanah tetapi jika diperlukan untuk makanan ternak maka kotoran ternak atau pupuk kandang dikembalikan ke tanah. Pola tanam di lahan kering dapat dilaksanakan dengan pergiliran tanaman tumpang sari. Pemakaian pupuk organik: pupuk organik bermanfaat untuk menyuburkan tanah dan miningkatkan keanekaragaman dan kelimpahan biota tanah. Pupuk organik diberikan tidak pada setiap setiap musim tanam tetapi diberikan hanya sebagai pelengkap saja, dengan takaran 3-5 ton/ha. Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, kompos maupun pupuk hijau.
Pemakaian pupuk an organik
Pemakaian pupuk an organik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N, P, dan K, sehingga diberikan pada takaran yang rendah. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagai starter sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha, sedangkan untuk tanaman non legum takarannya lebih tinggi. Pemakaian pupuk P (P-alam) minima; 60 kg/ha untuk dua musim tanam, demikian pula untuk pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pengapuran diperlukan sebatas untuk memenuhi kebutuhan tanaman bukan untuk meningkatkan pH tanah maupun mengurangi Al tanah.
Pemakaian pupuk hayati
Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N, mikroba pelarut fosfat dan cendawan mikoriza arbuskula (CMA). Bakteri penambat N:Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar, bersimbiose dengan tanaman legum dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah; Mikroba pelarut fosfat: mikroba ini ada yang hidup bebas didalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobacteri). Mikroba ini dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutka P-tanah, sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi dosis penggunaan pupuk P; dan Cendawan mikroriza arbuskula (CMA). CMA merupakan bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Kemampuan asosiasi tanaman CMA memungkinkan tanaman memperoleh unsur hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering, perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun, dan secara tidak langsung dapat memperbaiki struktur tanah karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman.
Pestisida nabati
Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Karena terbuat dari bahan nabati/ alami maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai dialam (biodegradable) sehingga tidak mencemari lingkungan terutama senyawa sulfur. Yang termasuk pestisida nabati adalah tanaman biji bengkuang, bunga/tangkai bunga/daun cengkeh, umbi gadung racun, kulit buah jambu mete, biji lada, biji saga, daun dan batang serai, daun dan biji sirsak, biji srikaya dan daun dan batang tembakau.

Penurunan GRK dari sistim pertanian organik
Penggunaan pupuk organik menurunkan GRK, dalam proses nitrifikasi-denitrifikasi (tergantung kondisi tanah), mikroba turut berperan dalam pembentukan gas N2O dan bahan organik yang ada didalam tanah digunakan oleh mikroba sebagai sumber energinya. Dengan demikiam, bahan organik dapat merangsang aktivitas mikroba di dalam tanah dan meningkatkan konsumsi O2, sehingga pada kondisi tanah an aerob akan mempercepat proses reduksi N2O.
Penggunaan pupuk hayati menurunkan GRK, Penggunaan pupuk hayati yang lambat urai N cenderung meningkatkan efisiensi pupuk N, sekaligus mengemisi gas N2O lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan pupuk N (urea).
Pupuk hijau, menurunkan emisi N2O.
Tanaman legum selain sebagai pupuk hijau dapat menghambat pembentukan gas nitro-oksida. Menurut Shresta dan Ladha (1998), tanah sawah tadah hujan setelah empat puluh hari ditanami jagung (zea mays), indigo (indigofera tinctoria) dan Centrosoma menunjukkan penurunan nyata nitrat dalam tanah, yang pada gilirannya menurunkan pelepasan nitro-oksida ke atmosfer.
Penggunaan pestisida hayati, akan mengurangi emisi Sulfur Heksaflorida (SF6) salah satu emisi GRK dan pencemaran senyawa kimia sulfur sebagai akibat penggunaan senyawa pembrantas OPT yang umumnya menggunakan senyawa kimia sulfur.

 

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Pemanfaatan Pestisida nabati untuk pertanian Organik, Warta Peneltian dan Pengem-bangan tanaman Industri, Departemen pertanian 2005; Pemanfaatan Biota Tanah Untuk Keberlanjutan Produktivitas Pertanian lahan kering Masam, Pengembangan Inovasi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta 2008.