RSS
Syndicate content

Rehabilitasi Jaringan Irigasi Desa (JIDES) dan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT)

Air merupakan salah satu faktor penentu dalam proses produksi pertanian. Oleh karena itu investasi irigasi menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka penyediaan air untuk pertanian. Penyaluran air irigasi dari hulu sampai dengan hilir memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadahi, seperti bendungan, bendung, saluran primer dan sekunder, box bagi, bangunan-bangunan ukur, dan saluran tersier serta saluran tingkat usaha tani (TUT).
Sawah dengan irigasi sederhana dan sawah dengan irigasi semiteknis yang sudah punya jaringan utama saat ini kondisinya belum optimal. Demikian juga kondisi jaringan di bagian hilir banyak mengalami kerusakan atau bahkan belum terbangun. Hal ini disebabkan selain menurunnya daya dukung lingkungan akibat banjir, juga karena terbatasnya peran masyarakat dalam operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 7 tahun 2006 tetang irigasi bahwa tanggung jawab pengelolaan jaringan tersier sampai ke tingkat usahatani (JITUT) dan jaringan irigasi desa (JIDES) menjadi hak dan tanggung jawab petani pemakai air (P3A) sesuai dengan kemampuannya.

Pelaksanaan
Berkenaan dengan belum optimalnya jaringan pengairan maka perlu diperbaiki/direhab agar pengairan ke lahan usaha tani dapat lebih lancar. Adapun jaringan yang perlu diperbaiki adalah Jaringan Irigasi Desa (JIDES) dan Jaringan Irigasi Tersier/Tingkat Usahatani (JITUT). JIDES adalah jaringan irigasi berskala kecil yang terdiri dari bangunan penangkap air (bendung, bangunan pengambilan), saluran dan bangunan pelengkap lainnya yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa atau pemerintah desa baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Sedangkan JITUT adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kwarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kwarter, serta bangunan pelengkapnya pada jaringan irigasi pemerintah.
Rehabilitasi JIDES dan JITUT dilakukan untuk memperbaiki/menyempurnakan jaringan irigasi desa (JIDES)/tingkat usaha tani (JITUT) guna mengembalikan/meningkatkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula atau menambah luas areal pelayanan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan rehabilitasi JIDES/JITUS,yaitu :
1. Lokasi Rehabilitasi/perbaikan dilaksanakan di jaringan irigasi desa/jaringan irigasi tingkat usaha tani dari daerah irigasi pemerintah atau desa yang mengalami kerusakan.

2. Untuk mendapatkan bagian-bagian dari jides/jitut yang mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan, serta sketsa bagian-bagian jaringan yag perlu direhabilitasi, terlebih dahulu harus dilakukan survey investigasi yang dilakukan secara sederhana dengan melakukan penelusuran jaringan. Namun sebelum survey dilakukan, perlu ditentukan calon lokasi rehabilitasi jitut dan jides dan calon petani yang akan mengerjakan kegiatan rehabilitasi, apabila kegiatan ini dilakukan dengan sistem padat karya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi dan petani, adalah bahwa lokasi merupakan Daerah Irigasi Desa/Daerah Irigasi Pemerintah yang jaringan irigasi tingkat usaha taninya mengalami kerusakan, mempunyai potensi intensitas pertanaman dapat ditingkatkan, tersedia petani pemilik/penggarap, lokasi harus didelinasi dengan menunjukkan posisi koordinatnya (LU/LS, BT/BU). Sedangkan untuk petaninya adalah petani yang telah membentuk kelompoktani/P3A dan mempunyai semangat pertisipatif, apabila belum ada agar segera membentuknya sebelum penetapan lokasi. Kelompok tani/P3A yang terpilih adalah yang belum pernah mendapatkan bantuan sejenis. Selain itu kelompok tani tersebut membutuhkan dan mau membangun serta memelihara JITUT/JIDES, dan sanggup menanami lahannya minimal 2x (dua kali) tanam dalam 1 (satu) tahun (padi-padi). Setelah calon lokasi dan calon petani ditetapkan, baru dilaksanakan survei investigasi.

3. Desain atau rancangan teknis sederhana dilaksanakan setelah survei investigasi, yang meliputi pengukuran dan penggambaran rencana kegiatan rehabilitasi JITUT/JIDES. Hasil desain sederhana ini berupa sket lokasi, gambar rancangan teknis sedehana kegiatan rehabilitasi, perkiraan kebutuhan bahan, peralatan dan biayanya. Apabila biaya yang tersedia tidak mencukupi, maka dilakukan pemilihan skala prioritas, yaitu bagian yang direhab adalah bagian dari jaringan yang paling memberikan manfaat.
Dalam kegiatan ini keterlibatan petani sangat diperlukan untuk memberikan masukan terhadap hasil survey investigasi dan desain sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan sekaligus untuk Penyusunan Rencana Usulan Kebutuhan Kelompok (RUKK). Hasil SID dan RUKK yang disusun, berisikan rencana kegiatan kelompok sera rincian/uraian sumber biaya dari setiap komponen kegiatan baik dari dana yang dibantu pemerintah maupun kontribusi dari petani.

4. Perbaikan/rehabilitasi JIDES and JITUT adalah sebagai berikut :
a. Perbaikan/rehabilitasi JIDES meliputi rehabilitasi/perbaikan bangunan penangkal air, baik berupa bendung dan pengambilan bebas lainnya serta bangunan kelengkapannya, selain itu juga memperbaiki saluran termasuk lining saluran dan bangunan lainnya, seperti box bagi, siphon, talang, bangunan terjun, gorong-gorong, dsb.
b. Perbaikan/rehabilitasi JITUT meliputi perbaikan saluran tersier dan kwarter (termasuk lining saluran), perbaikan bangunan bagi kwarter dan bangunan lainnya, seperti siphon, talang, bangunan terjun, dsb. Apabila keadaan memaksa dan sangat dibutuhkan dapat dipergunakan untuk memperbaiki jaringan irigasi utama dan berkoordinasi dengan Dinas Pengairan setempat.
Untuk bahan konstruksi bangunan saluran, agar lebih ekonomis, mudah dikerjakan dan cepat pelaksanaannya diharapkan dapat dibuat dari bahan ferosemen yang dibuat dengan ukuran atau dimensi sesuai dengan kondisi di lapangan.

5. Partisipasi petani sangat diperlukan dalam segala aspek pengairan, dimana kelompoktani/P3A diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini sejak dari proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga kerja, bahan bangunan, dana dan sebagainya.

6. Pengawasan yang ketat perlu dilakukan untuk menjamin agar pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat sesuai dengan yang telah ditrencanakan.

7. Monitoring. pelaporan, dan evaluasi dilakukan oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota. Laporan pelaksanaan berisi tentang perkembangan pelaksanaan kegiatan (realisassi fisik) dan keuangan yang disampaikan setiap bulan, triwulan, dan laporan akhir. Laporan akhir berisi tentang pelaksanaan kegiatan mulai SID sampai dengan pelaksanaan konstruksi.Sedangkan evaluasi dilaksanakan pada pertengahan /akhir tahun.

8. Seluruh kegiatan ini dibiayai oleh pemerintah, termasuk kegiatan sosialisasi, pembinaan, monitoring, dan evaluasi.

 

Penulis : Wiwiek Hidajati (Penyuluh Pertanian Madya)
Sumber : Pedoman Teknis Rehabilitasi Jaringan Irigasi Desa (JIDES) dan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT)
Direktorat Pengelolaan Air, Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air, Dep.Tan, 2009