RSS
Syndicate content

PROSES BENIH PADI BERSERTIFIKAT DAN PENGGUNAANNYA OLEH PARA PETANI

Benih padi yang bersertifikat telah melalui berbagai proses dari sejak penyiapan lahan, pengolahan lahan, penyediaan benih yang bermutu, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen serta penyimpanan dilakukan dengan sebaik mungkin, sehingga diperoleh benih yang baik. Oleh karena itu jika benih padi bersertifikat digunakan para petani maka petani akan memperoleh produksi yang tinggi.

Penggunaan benih padi bersertifikat oleh petani pada tahun 2008 sebesar 53,20% dan pada tahun 2009 diperkirakan petani yang menggunakan benih padi bersertifikat sebesar 62,8%. Sebagian besar petani telah menggunakan benih padi bersertifikat. Petani yang belum menggunakan benih padi bersertifikat umumnya petani yang menanam padi lahan kering mereka menggunakan varietas lokal atau dari hasil pertanaman sendiri yang telah dipilih dan dianggap memenuhi syarat untuk dijadikan benih padi.

Penggunaan benih padi bersertifikat telah lama dianjurkan diharapkan para petani menggunakan benih padi yang bersertifikat, karena dengan menggunakan benih padi bersertifikat petani akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam penggunaan padi bersertifikat ini hanya anjuran yang dilakukan oleh para penyuluh di lapangan serta instansi lain yang terkait dengan kegiatan pertanian. Petani diberi pemahaman bahwa bila menggunakan benih yang tidak bersertifikat akan merugikan petani itu sendiri
karena hasil yang diperoleh rendah.

Penggunaan benih padi bersertifikat memberikan produktivitas yang tinggi dikarenakan benih padi bersertifikat itu disiapkan dengan perlakuan khusus antara lain;
a) persiapan lahan untuk penanaman benih bersertifikat dilakukan secara baik dari pemilihan lokasi yang tanahnya subur sampai pengolahan tanahnya,
b) penyediaan benih (benih pokok) untuk perbanyakan benih bersertifikat benar-benar menyiapkan benih yang unggul,
c) pemeliharaan tanaman padi dengan baik dan terkontrol (penyiangan, pemupukan, pengairan dan pemberantasan hama dan penyakit) dengan kontinyu terlaksana dengan baik dan,
d) waktu panen dan pelaksanaan panen yang bagus, pelaksanaan panen memenuhi ketentuan-ketentuan untuk dijadikan benih padi sebagai benih yang bersertifikat untuk ditanam petani,
e) pengepakan yang bagus, dilakukan pembungkus benih padi dengan plastik atau bahan lain yang memenuhi standar sehingga benih padi terhindar dari serangan hama penyakit dan pengaruh kelembapan,
f) penyimpanan dan pendistribusian yang bagus. Sehingga dengan perlakuan-perlakuan itu diperolehlah benih padi yang baik misalnya daya tumbuh di atas 80%, varietas yang homogen, pertumbuhan tanaman yang serentak dan benih padi yang disiapkan terhindar dari gangguan hama penyakit karena diperlukan perlakuan khusus untuk memproduksi benih padi bersertifikat maka sampai saat ini yang memperbanyak atau memproduksi benih padi sebar bersertifikat adalah produsen baik pihak BUMN ataupun swasta serta petani penangkar benih.

Contoh BUMN yang memproduksi benih padi bersertifikat adalah Shang Hyang Sri yang lokasi penanamannya berada di daerah Sukamandi Jawa Barat. Sedangkan petani penangkar benih padi umumnya tersebar di seluruh Indonesia. Umumnya para petani penangkar benih padi melakukan penangkaran benih di lahan usahataninya sendiri, dimana lahannya memenuhi syarat untuk dijadikan penangkaran benih padi bersertifikat.
Yang melakukan pengawasan benih/sertifikasi benih padi tersebut adalah Balai Sertifikasi Benih yang ada di daerah, yang tersebar di 32 propinsi (kecuali Kepulauan Riau). Balai sertifikasi benih itulah yang mengadakan pengawasan dari sejak pengolahan tanah sampai kepada pengemasan, jika tahapan-tahapan perlakuannya dilakukan dengan baik dan memenuhi syarat baru diberikan sertifikasi benih untuk benih sebar dengan label biru. Selain itu ada benih lagi yaitu ; benih penjenis dengan warna kuning, diperbanyak untuk menghasilkan benih dasar, benih dasar dengan warna putih diperbanyak untuk menghasilkan benih pokok, benih pokok dengan warna ungu diperbanyak untuk menghasilkan benih sebar dengan warna biru.
Untuk menjadi penangkar benih sejak awal harus melaporkan ke Balai Sertifikasi Benih, sehingga Balai Sertifikasi Benih melakukan cek ke lapangan mulai dari persiapan lahan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan misalnya pemupukan, pengairan, pemberantasan hama penyakit, pascapanen dan pengepakan. Kesemua kegiatan itu dikontrol oleh petugas sertifikasi benih daerah setempat, sehingga dengan perlakuan itu diharapkan akan diperoleh benih padi yang unggul yang mempunyai daya tumbuh tinggi di atas 80%. Bila salah satu tahapan yang harus dilalui di atas tidak memenuhi syarat maka benih padi tersebut tidak memenuhi standar untuk dilakukan sertifikasi.

Adapun ciri-ciri benih sebar yang bersertifikat dapat dilihat dari; a) adanya label biru, b) pada label tertulis data-data;
- Nama jenis dan varietas
- Kelas benih dan nomor kelompok benih
- Keterangan mutu
- Berat/volume benih
- Masa berlaku label dan
- Nama dan alamat produsen
Dari penjelasan yang ada pada kemasan dapat dengan mudah dibedakan, karena yang berhak mengeluarkan sertifikasi benih yang berlabel hanyalah Balai Sertifikasi Benih Padi yang ada di daerah setempat. Sebaiknya setiap musim tanam para petani harus menggunakan benih bersertifikat yaitu benih sebar dari produsen benih atau penangkar benih, tetapi jika hal itu tidak dilakukan maka untuk benih padi hibrida harus menggunakan dari benih sebar bersertifikat setiap musim tanam, sedangkan untuk padi non hibrida sebaiknya untuk setiap musim tanam menggunakan benih sebar yang bersertifikat dari produsen benih atau petani penangkar benih.
Karena benih yang berasal dari benih sebar bersertifikat kualitasnya telah terjamin dan terkontrol, sedangkan benih yang berasal dari hasil panen sendiri walaupun dipilih dari yang terbaik, kualitasnya seperti daya tumbuh, homogenitas dan terbebasnya dari hama penyakit belum terjamin.
Untuk benih padi hibrida kemungkinan besar bila menggunakan benih dari hasil panen sendiri maka produksinya akan menurun secara drastis dan ketahanan terhadap hama penyakit lebih rentan. Sedangkan untuk padi non hibrida bila menggunakan benih dari hasil panen sendiri penurunan produktivitas tidak terlalu drastis. Tetapi sebaiknya petani menggunakan benih sebar bersertifikat tiap musim tanam untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi.
Selain itu juga tiap tahun diperoleh hasil persilangan/varietas padi unggul yang di lepas oleh pemerintah banyak sekali sehingga petani dapat menggunakan varietas yang lebih baik. Dalam pemilihan penggunaan varietas padi, pada prinsipnya padi sawah ditanam di lahan persawahan, padi rawa-rawa di tanam di daerah rawa dan padi gogo di tanam di lahan kering.

Varietas unggul yang dilepas umumnya mempuyai kelebihan dan kekurangan misalnya padi hibrida sembada 5 produksi tinggi (11,5 ton/ha) tetapi peka terhadap wereng batang coklat biotipe 1, 2 dan 3. Varietas inpari 1 produksi 10 ton/ha tetapi tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 2 dan 3. Sebaiknya petani memilih varietas untuk ditanam di lahan usahataninya sesuai dengan kondisi lahannya bila di daerahnya sering terjadi serangan hama wereng sebaiknya menanam varietas yang tahan terhadap hama wereng seperti inpari 1. Varietas unggul padi yang dilepas Menteri Pertanian memang banyak, setiap varietas mempunyai diskripsinya untuk mengetahui lebih jelasnya sebaiknya petani menanyakan diskripsi varietas unggul tersebut kepada penyuluh pertanian atau petugas Balai Benih setempat, karena diskripsi varietas padi yang dilepas diperbanyak oleh Direktorat Benih Tanaman Pangan dan disebarluaskan ke Balai Sertifikasi Benih yang ada di seluruh Indonesia.
Pada umumnya produsen benih, penangkar benih dan penyalur benih (kios saprodi) menyalurkan varietas-varietas unggul ke suatu daerah dengan pertimbangan varietas tersebut cocok untuk ditanam di daerah itu, karena produsen dan penangkar serta penyalur memperhatikan diskripsi varietas itu dan umumnya mendapat bimbingan dari petugas terkait misalnya Dinas Pertanian dan Penyuluh Pertanian.

Sehingga di suatu daerah varietas yang disalurkan oleh produsen, penangkar dan penyalur tidak terlalu banyak (umumnya yang disenangi petani saja). Berdasarkan hal tersebut di atas diharapkan para penyuluh pertanian di lapangan dan para penangkar benih padi dapat memberikan penjelasan dan bimbingan yang baik kepada para petani sehingga para petani di lapangan pada musim tanam berikutnya menggunakan benih bersertifikat lebih banyak lagi sehingga produksi mereka meningkat yang akhirnya akan meningkatkan produksi beras nasional.

Oleh: Dr. H. Ibrahim Saragih/Penyuluhan Pertanian Pusat
Sumber: Derektorat Benih Deptan, 2007, Sertifikasi Benih, Jakarta