RSS
Syndicate content

PROFESIONALISME PENYULUH PERTANIAN (Bagian 1)

Sumber Gambar: www.google.com
Profesionalisme berasal dari bahasa Anglosaxon, yang mengandung pengertian; kecakapan, keahlian, dan disiplin. Dalam kamus Webster, profesionalisme diterjemahkan sebagai suatu tingkah laku, suatu tujuan atau rangkaian kualitas yang melukiskan corak suatu "profesi" (The Conduct, aims or qualities, that characteristize a professional). Oleh Nitibaskara (1999) menyatakan profesionalisme dicirikan dengan adanya expertise, responsibility, dan corporateness, yang terwujud dalam perilaku dan kemauan kuat untuk selalu menampilkan perilaku ideal, dorongan yang kuat untuk meningkatkan citra profesi, rasa bangga terhadap profesinya dan motivasi yang kuat untuk mewujudkan tujuan.
Dengan demikian, profesionalisme selalu menunjukkan kualitas perilaku prima, yang dapat diukur dengan cara membandingkan kepuasan dan kerugian yang dirasakan oleh anggota masyarakat yang dilayani sebagai akibat dari tindakan profesinya. Perwujudan perilaku profesional dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh sikap dan nilai-nilai profesional (Benveniste, 1987).
Selanjutnya, Anoraga (1998) mengemukakan beberapa ciri orang-orang yang memiliki profesionalisme yaitu : (1). Memiliki kemauan mengejar kesempurnaan hasil dan selalu mencari peningkatan mutu;(2). Memiliki kesungguhan dan ketelitian kerja yang diperoleh dari pengalaman dan kebiasaaan;(3). Memiliki ketekunan dan ketabahan dengan sifat yang tidak mudah puas atau putus asa sampai hasil tercapai; (4). Memiliki integritas yang tinggi, dan tidak tergoyahkan oleh keadaan terpaksa atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup; (5). Memiliki kebulatan pikiran dan perbuatan sehingga terjaga efektifitas kerja yang tinggi.
Untuk mengetahui sampai sejauh mana seorang penyuluh apakah sudah profesional atau belum, maka perlu mengintrospeksi diri tentang sikap, nilai-nilai dan ciri profesionalisme yang mereka sudah miliki dan laksanakan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban penyuluh yang bersangkutan, sebagaimana yang diutarakan oleh para ahli diatas.
Sekarang ini , sudah waktunya penyuluh pertanian selalu melakukan introspeksi diri dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Pertama, introspeksi terhadap hak dan kewajiban sebagai warga Negara. Salah satu kewajiban utama penyuluh pertanian adalah memberi pelayanan prima kepada petani dan masyarakat pertanian lainnya dalam hal kebutuhan informasi dan teknologi yang dibutuhkan sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi petani diwilayah kerjanya Sedang hak penyuluh pertanian adalah mendapat imbalan insentif berupa gaji dan biaya opersional lainnya setelah kewajiban dilakukan dengan baik. Sebagai penyuluh pertanian profesional yang menghayati hak dan kewajibannya kepada negara ini, akan selalu bertanya dalam dirinya "Apa yang telah saya berikan/sumbangkan kepada negara, bukan apa yang saya harus raih/ambil pada negara tercinta ini".
Kedua, introspeksi terhadap kesetiaan kepada negara, nusa dan bangsa. Kesetiaan penyuluh pertanian kepada negara dapat diukur dari kadar loyalitas, integritas dan curahan segenap tenaga untuk meraih prestasi dalam pekerjaan yang mereka emban. Dalam hal ini profesionalisme penyuluh pertanian menuntut integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh "keadaan terpaksa" atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup. Selain itu memerlukan kebulatan pikiran dan perbuatan sehingga efektivitas dan prestasi kerjanya terjaga kapan dan dimana saja.
Ketiga, introspeksi terhadap keberadaannya sebagai abdi (pelayan) masyarakat. Penyuluh pertanian harus sadar bahwa imbalan pengabdian yang mereka terima, dibayar dan ditanggung dari hasil keringat rakyat/petani dan masyarakat yang dilayaninya. Untuk itu, tidak tepat apabila penyuluh pertanian tidak bekerja secara; serius, tekun, disiplin dan bertanggung jawab, mengingat profesionalisme penyuluh pertanian menuntut adanya ketekunan, keuletan, kreativitas, disiplin dan irama kerja yang pasti, karena apa yang dikerjakan akan melibatkan secara langsung pihak lain.
Keempat, introspeksi terhadap komitmen moral. Penyuluh pertanian sebagai insan manusia yang memiliki perasaan, pikiran, dan impian diharapkan mempunyai komitmen moral ynag tinggi untuk mensejahterakan petani diwilayah kerjanya. Oleh karena itu, profesionalisme penyuluh pertanian dituntut adanya komitmen moral dan tanggung jawab pribadi, untuk bekerja keras demi kemaslahatan manusia dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa yang adil, makmur dan sejahtera dunia akhirat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesuksesan tanpa profesionalisme adalah keberhasilan sementara, sebaliknya profesionalisme tanpa kesuksesan adalah keberhasilan yang tertunda, sebagaimana juga yang sering diucapkan oleh orang bijak: "Sebuah sukses lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata. Sebuah sukses terwujud karena diikhtiarkan melalui perencanaan yang matang, keyakinan, kerja keras, keuletan dan niat baik".

Penulis : Muhammad Ridha Ismail
Penyuluh Pertanian Madya