RSS
Syndicate content

PRODUKTIVITAS KERJA

Produktivitas kerja bukan semata-mata ditujukan untuk mendapatkan hasil kerja sebanyak-banyaknya melainkan kualitas untuk kerja juga penting diperhatikan. Produktivitas individu dapat dinilai dan apa yang dilakukan oleh individu tersebut dalam kerjanya. Dengan kata lain, produktivitas individu adalah bagaimana seseorang melaksanakan pekerjaan atau unjuk kerja.

Pengaruh Motivasi Terhadap Produktivitas Kerja. Unjuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan tidak dapat menghasilkan keluaran yang tinggi. Untuk melihat efektivitas kinerja, Larsen dan Mitchell mengusulkan beberapa teori antara lain pendekatan kontingensi yang merupakan gabungan dari berbagai pendekatan lain. Intinya adalah kinerja akan tergantung kepada adanya perpaduan yang tepat antara individu dan pekerjaannya. Untuk mencapai produktivitas kerj yang maksimum, organisasi harus menjamin terpilihnya orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat disertai kondisi yang memungkinkan mereka bekerja optimal. Motivasi dapat diartikan sebagai suatu daya pendorong yang menyebabkan orang berbuat sesuatu atau yang diperbuat karena takut akan sesuatu. Perbuatan atau tindakan yang dimaksud dapat berarti kerja keras guna lebih berprestasi, menambah keahlian, sumbang saran, dan lain-lain. Yang menjadi pendorong dalam hal ini adalah bermacam-macam faktor diantaranya adalah faktor ingin lebih terpandang di antara rekan sekerja atau lingkungan dan kebutuhannya untuk berprestasi.
Tidak ada motivasi jika tidak dirasakan adanya kebutuhan dan kepuasan serta ketidakseimbangan. Rangsangan terhadap hal termaksud akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh akan merupakan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan. Menurut Maslow, kebutuhan tingkat rendah yaitu untuk menjamin kelangsungan hidup menjadi dominan sampai kebutuhan tersebut dirasakan cukup terpenuhi. Apabila kebutuhan tingkat rendah sudah terpenuhi, maka individu termotivasi untuk mencapai kebutuhan tingkat yang lebih tinggi. Setiap orang mempunyai kebutuhan yang sama, tetapi berbeda dalam dominasi kebutuhan. Kebutuhan akan menjadi motivator penggerak jika kebutuhan itu belum terpenuhi.

Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja. Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja baik yang berhubungan dengan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan organisasi dan kebijakan pemerintah secara keseluruhan. Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah, enam faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja adalah: (1) Sikap kerja seperti kesediaan untuk bekerja secara bergiliran, dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam satu tim; (2) Tingkat keterampilan yang ditentukan oleh pendidikan, latihan dalam manajemen dan supervisi serta keterampilan dalam teknik industri; (3) Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu dan panitia mengenai kerja unggul; (4) Manajemen produktivitas yaitu manajemen yang efisien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas; (5) Efisiensi tenaga kerja seperti perencanaan tenaga kerja dan tambahan tugas; (6) Kewiraswastaan yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreativitas dalam berusaha, dan berada pada jalur yang benar dalam berusaha.

Di samping hal tersebut, terdapat pula berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, di antaranya adalah (1) sikap mental yang terdiri dari motivasi kerja, disiplin kerja, dan etika kerja; (2) pendidikan, pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lbih tinggi akan mempunyai wawasan lebih luas terutama penghayatan akan arti pentingnya produktivitas. Pendidikan di sini dapat berarti pendidikan formal maupun non formal. Tingginya kesadaran akan pentingnya produktivitas dapat mendorong pegawai yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif; (3) keterampilan, pada aspek tertentu apabila tenaga kerja semakin terampil, maka akan lebih terampil apabila mempunyai kecakapan dan pengalaman yang cukup; (4) manajemen, pengertian manajemen di sini dapat berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh pimpinan untuk mengelola ataupun memimpin serta mengendalikan staf/bawahannya. Apabila manajemennya tepat, maka akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong tenaga kerja untuk melakukan tindakan yang produktif; (5) tingkat penghasilan, apabila tingkat penghasilan memadai maka dapat menimbulkan konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas; (6) jaminan sosial yang diberikan oleh suatu organisasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengabdian dan semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi maka akan dapat menimbulkan kesenangan bekerja sehingga mendorong pemanfaatan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja; (7) Lingkungan dan iklim kerja yang baik akan mendorong tenaga kerja agar senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik menuju ke arah peningkatan produktivitas; (8) sarana produksi, mutu sarana produksi berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik, kadang-kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai; (9) teknologi, apabila teknologi yang dipakai tepat dan lebih maju tingkatannya maka akan memungkinkan tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi, jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu, dan memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa.
(12) Kesempatan Berprestasi. Tenaga kerja yang bekerja tentu mengharapkan peningkatan karier atau pengembangan potensi pribadi yang nantinya akan bermanfaat baik bagi dirinya maupun organisasi. Apabila terbuka kesempatan untuk berprestasi, maka akan menimbulkan dorongan psikologis untuk meningkatkan dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja. Tiap faktor yang dapat saling berpengaruh dan dapat mempengaruhi peningkatan produktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Pendidikan membentuk dan menambah pengetahuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih cepat dan lebih tepat. Latihan membentuk dan meningkatkan keterampilan kerja. Dengan demikian, tingkat produktivitas kerja seorang pegawai akan semakin tinggi pula. Tingkat produktivitas tenaga kerja sangat tergantung pada kesempatan yang terbuka padanya. Kesempatan dalam hal ini sekaligus berarti kesempatan untuk bekerja, pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan keterampilan yang dimiliki seseorang, dan kesempatan mengembangkan diri. Keterampilan dan produktivitas seorang tenaga kerja berkembang melalui pekerjaan dan di dalam pekerjaan. Keterampilan tertentu yang tidak diterapkan dalam jangka waktu tertentu dapat menurunkan atau menghilangkan keterampilan yang telah dimiliki. Sikap mental dan keterampilan sangat besar perannya dalam meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk memantapkan sikap mental serta meningkatkan keterampilan tenaga kerja guna mewujudkan produktivitas kerja.

(Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Penyuluh Pertanian Madya. Sumber: Prof. Dr. Hj. Sedarmayanti, M. Pd., APU., Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja 2009)