RSS
Syndicate content

Perbanyakan Tanaman Sirsak Secara Generatif

Sumber Gambar: http://balitbu.litbang.deptan.go.id
Perbanyakan tanaman sirsak dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif, tergantung pada kepentingan ekonomisnya. Masyarakat atau petani pada umumnya memperbanyak sirsak dengan biji. Tanaman sirsak termasuk kelas Dicotyledoneae yang lebih sering diperbanyak secara generatif. Biji tanaman dicotyledoneae terdiri atas dua cotyledone, testa, akar, dan plumula. Tanaman yang diperbanyak secara generatif biasanya lambat berbuah dan tidak serupa dengan induknya. Perbanyakan secara generatif dapat dilakukan dengan beberapa alasan, yaitu:
1. Menghendaki tanaman yang kuat, relatif berumur panjang.
2. Tanaman homozygot, yaitu sifat tanaman serupa dengan induknya.
3. Tanaman apogami, yaitu bunga hanya terdiri dari bakal buah dan kelopak bunga, tanpa tepung sari namun menghasilkan keturunan yang fertil.
4. Tanaman polyembrional, yaitu setiap biji mengandung lebih dari satu lembaga.
Keturunan tanaman famili Annonaceae hampir semuanya homozygot. Sehingga hasil perbanyakan dengan biji kualitas hasilnya tidak kalah dibandingkan tanaman induk. Biji yang terdapat dalam buah dapat dihasilkan melalui penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. Diharapkan biji akan membawa sifat-sifat baik dari kedua induknya. Baru-baru ini Lembaga Penelitian di Departemen Pertanian Malaysia yaitu MARDI (Malaysian Agricultural Research and Development Institute) telah berhasil melakukan penyerbukan buatan pada tanaman sirsak. Hasilnya berupa buah dengan bobot 1,5 kg - 3 kg, lebih berat daripada buah hasil penyerbukan alami yang berbobot 0,5 kg - 2 kg, bentuknya lebih membujur dan simetris, tidak melengkung, serta mampu meningkatkan persentase pembentukan buah dari 5 menjadi 30 .

Dalam penyerbukan alami prosentase keberhasilan bunga hanya 5. Hal ini terjadi karena bunga jantan matang tidak bersamaan dengan bunga betina. Umumnya bunga betina matang terlebih dahulu dengan mengeluarkan cairan berlendir. Pada saat bunga jantan matang, lendir tersebut sudah kering, sehingga tepung sari tidak dapat melekat pada putik yang mengakibat-
kan gagalnya penyerbukan. Gagalnya penyerbukan juga diakibatkan oleh bunga yang menghadap ke bawah. Perbanyakan dengan biji hams mengambil dari buah yang benar-benar
matang, lebih baik yang matang di pohon. Biji dari buah yang kurang matang tidak dapat tumbuh atau tumbuh kurang normal. Biji sirsak termasuk jenis Recalcitrant, yaitu benih yang tidak dapat disimpan lama, paling lama hanya 4 bulan. Tanaman yang berasal dari biji pertumbuhannya sangat lambat, terutama sampai umur 2 tahun. Untuk mendapatkan tanaman yang baik kualitas dan kuantitas hasilnya, hams diperhatikan pohon induk, buah, biji dan bibitnya. Benih yang bempa biji dapat diperoleh melalui tahap-tahap:
1. Dipilih buah yang telah tua dan diusahakan matang di pohon.
2. Buah berasal dari tanaman yang sehat.
3. Bentuk buah besar dan normal.
4. Buah terpilih dibelah dan bijinya diambil, kemudian dibersihkan dari
5. daging buahnya.
6. Seleksi biji-biji yang bernas, seragam, dan berat.
7. Biji dicuci dengan air, lalu dikeringanginkan sampai tidak ada air tersisa pada biji tersebut.
8. Apabila tidak langsung ditanam, maka biji disimpan pada tempat yang baik dan tidak lembab.
Untuk pertanaman dalam jumlah banyak, baik langsung dari biji maupun sebagai bahan batang bawah untuk perbanyakan vegetatif, sebaiknya biji disemai terlebih dahulu pada bedengan pesemaian. Tujuannya adalah agar dapat dilakukan pemilihan bibit, pemeliharaan yang lebih intensif, dan mendapatkan bibit yang sehat dan normal.
Cara yang dilakukan untuk pembibitan di pesemaian adalah:
1. Gemburkan tanah dan buat bedengan dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan tinggi sekitar 20 cm.
2. Bedengan yang dibuat di tempat terbuka, dapat diberi naungan.
3. Di atas bedengan diberi pupuk kandang sekitar 20 kg kemudian diaduk secara merata.
4. Sebelum disemaikan sebaiknya biji direndam dalam larutan Benlate 3 gram per liter air selama 2-3 menit.
5. Biji disemaikan pada bedengan dengan cara dibenamkan, jarak tanamnya 10x5 cm.
6. Bedengan disiram 2 kali sehari dan dijaga kelembapannya.
7. Setelah 4 minggu biasanya biji sudah mulai tumbuh.
Apabila bibit telah berumur 2 bulan, sebaiknya diperjarang dengan cara dipindahtanamkan ke dalam polybag, agar pertumbuhannya lebih baik. Pemindahan bibit dilakukan sebagai berikut.
1. Isi polybag dengan campuran tanah dan pupuk kandang, dengan perbandingan 2 : 1 sebanyak 1/2 bagian.
2. Siram pesemaian hingga basah dan air menyerap ke dalam tanah
3. Dengan menggunakan pencungkil, cungkil bibit beserta akar yang terbungkus bola tanah, dan usahakan jangan merusakkan perakaran.
4. Bibit dimasukkan ke dalam polybag tepat di tengah-tengah.
5. Penuhi polybag dengan media hingga penuh, kemudian disiram, dan dijaga kelembapannya.

Menurut Regina Kristiawati, secara fisik, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendapatkan bibit yang berkualitas baik, antara lain:
1. Bibit hams menunjukkan pertumbuhan yang sehat, yaitu jumlah daun seimbang dengan tinggi tanaman, wama, ukuran, bentuk, dan kerimbunan daun normal. Batang bibit tegak. kokoh, dan kuat. Perakaran bibit kuat dan tidak terdapat gejala serangan hama dan penyakit.
2. Umur tanam bibit telah mencukupi, sebab bibit yang masih muda mempunyai sangat besar resiko kematian.
3. Bibit hama benar-benar berasal dari biji terpilih dan tidak terkontaminasi. Bibit dari perbanyakan vegetatif hams benar-benar bersifat sama dengan induknya dan memiliki silsilah yang jelas.
4. Apabila membeli dari penangkar, maka bibit hams bersertifikat.

Seperti halnya tanaman buah yang lain, bibit sirsak bisa didapatkan melalui dua cara, yaitu membuat sendiri melalui pesemaian biji atau membeli bibit siap tanam dari penangkar.

Sumber : Ir. Juhaeni Radi, Sirsak Budidaya dan Pemanfaatanya, Bandung, 1996