RSS
Syndicate content

PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA KAMBING

Sumber Gambar: www.google.com
Semua ternak yang dipelihara harus mendapatkan penanganan yang cukup dalam segala hal. Salah satu diantaranya adalah ketika ternak tersebut mengalami gangguan atau diserang penyakit. Namun demikian, sebelum mengambil langkah yang tepat berupa pencegahan maupun pengobatan, terlebih dahulu kita harus memastikan apakah penyakit tersebut menular atau tidak. Sebab, cara dan tindakan yang akan diambil juga berbeda antara penyakit menular dengan tidak menular.
Pada ternak kambing, tidak semua penyakit yang menyerangnya dikategorikan menular. Atau, dengan kata lain banyak penyakit yang sebenarnya tidak menular dan tidak perlu dikhawatirkan akan berpindah ke ternak yang lain. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh gangguan mekanis. Misalnya saja, luka-luka karena terkena benda tajam, gangguan kimiawi (seperti keracunan zat-zat tertentu). Atau, disebabkan gangguan dari sumber pakan (misalnya kekurangan unsur hara, vitamin, dan mineral tertentu) serta gangguan karena kelainan alat-alat tubuh (misalnya cacat). Beberapa jenis penyakit yang tidak menular dan sering dijumpai pada kambing adalah:
1)Kembung; Kembung berarti perut banyak terisi angin. Sakit kembung pada kambing bisa terjadi karena adanya gangguan pencernaan. Gangguan ini disebabkan proses fermentasi dalam perut berlangsung terlalu cepat. Sebenarnya, yang mengawali penyakit ini adalah pakan yang banyak mengandung gas. Kalau dimakan dalam keadaan tertentu bisa mengakibatkan ternak menderita kembung. Misalnya, ternak memakan tanaman muda atau bagian tanaman yang masih banyak mengandung air, hijauan dari jenis kacang-kacangan yang digiling halus dan tumbuh yang dipupuk dengan urea. Kalu kembungnya sampai timbul buih, penyebabnya adalah bahan pakan yang banyak mengandung saponim, sejenis zat yang berbuih seperti sabun.
Penyebab lain adalah; kondisi dan kesehatan tubuh ternak itu sendiri. Ternak dalam keadaan bunting, anemia (kurang darah), sedang sakit atau baru dalam proses kesembuhan, dan lemah badan biasanya lebih rentan. Gas dari pakan yang membuat kambing kembung berasal dari proses fermentasi yang berlangsung dalam rumen (perut besar). Gejala yang ditimbulkannya adalah mengembungnya lambung akibat rumen yang membesar. Bagian yang kembung kalau diketuk-ketuk dengan jari tangan seperti bola kosong atau berisi air.
Pengendaliannya, kembung ringan bisa sembuh dengan sendirinya, terutama kalau ternak bisa bergerak (berjalan-jalan) dan bersendawa (kentut). Kembung yang disebabkan gangguan pencernaan umumnya bersifat akut dan sering menimpa ternak yang kurang gerak. Ini harus diobati agar tidak berakibat fatal. Obat yang bisa digunakan adalah antibiotic. Misalnya, penicillin yang berfungsi untuk mengurangi bakteri penghasil gas dalam perut besar. Setiap ekor kambing dapat diberi 30-50 ml tymposol yang dilarutkan dalam 0,3-0,5 liter air.
Pencegahan penyakit ini, jangan biarkan kambing terlalu lapar dan hindarkan pakan penyebab kembung. Jika pakan hijauan jenis kacang-kacangan diransum, sebaiknya tidak lebih dari 50%. Akan lebih baik lagi sebelum ternak diberi hijauan segar, diransum dulu dengan hay (jerami atau rumput kering). Pakan kering tersebut mampu mempertahankan kontraksi refleksi (gerak penyusutan) perut besar secara normal.
2) Kejang-kejang tetanus; Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani, yaitu tetanus bakteri yang masuk kedalam tubuh melalui luka. Gejala; Penyakit ini biasanya menyerang otot sekitar rahang dan leher atas. Gejala penyakit mulai timbul setelah 7-14 hari terinfeksi. Mula-mula hewan terlihat gelisah, demam tinggi, cuping hidung mengembang, dan mata terbuka lebar.
Pengendalian; Pengobatan pada umumnya kurang membawa hasil karena harus diberikan dalam dosis tinggi. Untuk mencegah atau mengobatinya dengan memberikan suntikan gentramycin 5% Inj dengan dosis 0,5-1 ml pada anak kambing umur 3 minggu.
3)Acidosis dan salah cerna; Penyebabnya adalah adanya asam berlebihan dalam darah. Penyakit ini terjadi karena kambing terlalu banyak memakan bahan pakan yang mudah dicerna dengan kadar zat pati dan gula yang tinggi. Gejalanya, denyut nadi lemah, kecepatan nafas meningkat, serta kotoran berair dan berbau busuk. Ternak penderita kondisinya sangat lemah. Bahkan, kadang-kadang tidak bisa berdiri. Bila tidak diobati ternak bisa mati dalam waktu 1-2 hari. Bentuk ringan dari acidosis adalah salah cerna. Gejalanya terlihat dengan kehilangan nafsu makan. Salah cerna bisa juga terjadi karena ternak diberi pakan kasar yang bermutu rendah.
Pengendaliannya, kedalam lambung dimasukan 1-2 sendok makan minyak makan dicampur dengan 5 gram bubuk arang dan sodium bikarbonat dengan menggunakan pipa lambung. Pemberiannya cukup satu kali.
4)Kejang rumput; Penyakit ini dikenal juga dengan kejang otot berlebihan (grass tetany). Penyebabnya adalah gangguan metabolis karena bahan pakan kurang mengandung kadar magnesium. Gejalanya, ternak yang menderita penyakit ini suka mengembik-embik, badan gemetaran, dan bersifat agresif. Seringkali setelah 6 bulan gejala ini berlangsung ternak tidak bisa berdiri.
Pengendaliannya, bisa diobati dengan tympasol. Sebanyak 30-50 ml obat dilarutkan dalam 0,3-0,5 liter air. Untuk pencegahan sebaiknya disediakan garam mineral untuk memenuhi unsur yang diperlukan. Misalnya, mineral blok. Satu botol (blok) mineral dapat digunakan untuk 3-6 bulan per 10 ekor kambing.
5)Kekurangan kolostrum; Anak kambing yang menderita kekurangan kolostrum akan sakit-sakitan seumur hidup. Tubuhnya kerdil dan tidak akan menjadi dewasa secara layak. Penyakit ini disebut hypogammlobinemia. Gejalanya, dimulai dari mulut kering, demam, persendian bengkak, puntung pusar membesar, dan kondisinya lemah. Kebanyakan anak kambing berumur sekitar dua bulan yang menderita penyakit ini mati.
Penyakit ini tidak bisa diobati, karena anak kambing tidak mempunyai zat kebal terhadap penyakit yang diperoleh dari susu induk yang pertama. Untuk mencegahnya, anak kambing harus menyusu pada induknya sejak hari pertama sampai hari ke tujuh. (Inang Sariati)
Sumber Informasi:
1. Sarwo, B, "Beternak Kambing Unggul", Jakarta: Penebar Swadaya, 2010
2. Prabowo, Agung, "Petunjuk Teknis, Budidaya Ternak Kambing (Materi Pelatihan Agribisnis bagi KMPH)", BPTP Sumatera Selatan, 2010