RSS
Syndicate content

PENYAKIT JERUK: GEJALA DAN PENGENDALIANNYA

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)
Gejala :
Gejala serangan CVPD pada tanaman jeruk adalah daun berwarna kuning, kaku, lebih tebal dan sering berdiri tegak serta terdapat warna hijau mengelompok tidak merata. Tulang daun menonjol dan berwarna hijau gelap. Pada intensitas serangan yang berat, daun menjadi lebih kecil dan menghasilkan buah lebih kecil (sebesar kelereng) dengan biji berwarna hitam.

Pengendalian :
• Menjaga kebersihan dan membuang tanaman sakit
• Penanaman bibit yang bebas penyakit
• Penerapan teknologi bududaya yang baik
• Pengawasan lalu lintas bibit/benih
• Pengendalian serangga penular
Penyakit tepung

Gejala :
Permukaan daun atau ranting muda yang terserang cendawan Oidium tingitanium ditutupi oleh lapisan tepung berwarna putih. Daun yang terserang mengeriting atau mangalami penyimpangamn bentuk dan mengering.

Pengendalian :
• Sanitasi terhadap tunas dan daun-daun sakit yang tidak produktif
• Penghembusan dengan serbuk belerang atau penggunaan fungisida yang efektif dan mudah terurai bila dijumpai serangan. Penghembusan dengan serbuk belerang dilakukan pagi hari, saat bunga dan daun masih basah oleh embun.
Penyakit Tristeza (Quick decline)
Gejala :
Infeksi virus pada tanaman jeruk melalui serangga penular Toxoptera citricida dan beberapa janis kutu lainnya mengakibatkan kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (phloem). Gejala khas penyakit ini adalah daun-daun tanaman berubah warna menjadi perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit.
Terjadi pemucatan tulang daun berupa garis-garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya. Daun tampak kaku dan berukuran lebih kecil dan tepinya melengkung ke atas. Tanaman yang terserang menghasilkan bunga berlebihan tetapi tidak dapat berkembang menjadi buah yang matang.

Pengendalian :
• Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza
• Penyemprotan serangga penular dengan insektisida efektif dan mudah terurai
• Eradikasi tanaman sakit dan sanitasi tanaman inang serangga penular.

Penyakit kulit Diplodia
Serangan Diplodia basah mengakibatkan tanaman mengeluarkan belendok berwarna kuning emas dari batang atau cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang dapat sembuh, mengering dan mengelupas. Apabila penyakit terus berkembang, pada kulit terjadi luka-luka tidak teratur dan dapat berkembang melingkari batang atau cabang sehingga menyebabkan kematian cabang atau tanaman.
Serangan Diplodia kering lebih berbahaya karena gejala awal sulit diketahui. kulit batang atau cabang mengering, terdapat celah kecil pada permukaan kulit, dan bagian kulit dan batang di bawahnya berwarna hijau kehitaman. Perluasan kulit mengering sangat cepat dan bila sampai melingkari tanaman, daun-daun menguning dan menyebabkan kematian cabang atau tanaman.


Pengendalian :
• Mencegah penyebaran penyakit dengan menbersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misalnya dengan karbolinium plantarum 8%
• Menghindari pelukaan bagian tanaman
• Bagian kulit yang terinfeksi dikuliti/dilepas (+ 1-2 cm kulit sehat di sekitarnya), lalu luka yang terjadi ditutup misalnya dengan karbolinium parafin
• Eradikasi, dengan membongkar tanaman yang terserang berat untuk mengurangi sumber infeksi.
Penyakit busuk pangkal batang (Brown rot gummosis)


Gejala :
Pangkal batang atau sambungan antara batang atas dan bawah pada bibit okulasi yang terserang cendawan Phytophthora sp. menimbulkan gejala awal berupa bercak basah berwarna gelap pada kulit batang. Kulit batang yang terserang permukaannya cekung dan mengeluarkan blendok, dan sering terbentuk kalus. Apabila serangan pada kulit sampai melingkari batang dapat mengakibatkan kematian tanaman.
Perkembangan penyakit ke bagian atas, umumnya terbatas sampai 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bawah dapat meluas ke akar tanaman.


Pengendalian :
• Penggunaan batang bawah yang toleran Phytophthora sp. misalnya Troyer dan Cleopatra Mandarin dengan tinggi sambungan lebih dari 45 cm di atas permukaan tanah
• Menghindarkan terjadinya pelukaan pada akar maupun batang
• Menjaga agar drainase tanah tetap baik dan mencegah adanya penggenangan di sekitar pangkal batang
• Melabur atau mencat batang dengan bubur Bordo atau Cupravit. Apabila serangan ringan, dapat dikendalikan dengan membuang kulit byang terserang, dan kemudian diolesi luka tersebut dengan bubur Bordo, atau diolesi sekeliling bagian kayu dengan aspal ataupun karbolineum plantarum.


penulis: Ume Humaedah
Sumber:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hortikultura