RSS
Syndicate content

Pengendalian Hama Kutu Daun, Kumbang daun dan Ulat penggerek polong pada tanaman kedelai

Perlindungan tanaman dilaksanakan untuk mengantisipasi dan mengendalikan serangan OPT tanaman dengan meminimalkan kerusakan atau penurunan produksi akibat serangan OPT.
Pengendalian dilakukan berdasarkan prinsip dan strategi pengendalian hama terpadu (PHT). Khususnya pengendalian dengan pestisida merupakan pilihan terakhir bila serangan OPT berada diatas ambang ekonomi.
Penggunaan pestisida harus memperhatikan jenis, jumlah dan cara penggunaannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan resurjensi atau resistensi OPT atau dampak lain yang merugikan lingkungan.

1. Hama Kutu Daun (Aphis glycine)
Ciri-ciri: Aphis sering disebut kutu daun, bewarna hijau atau hijau kekuningan, berukuran 0,8 mm, serangga dewasa dapat bersayap, berkembangbiak secara pertenogenesis (tanpa kawin dulu) dengan siklus hidup 6 hari, kotorannya mengandung gula, sehingga seringkali mengundang semut.
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong.
Gejala serangan: sering merusak pucuk daun muda, kadang menjadi keriting dan mengkerut.
Pengendalian: (1) tanam serentak tidak lebih dari 10 hari; (2) Pergiliran tanaman bukan inang, (3) Penggunaan agens hayati Entomophtora sp yang serangannya dapat mecapai 100%.

2. Kumbang daun (Phaedonia inclusa)
Ciri-ciri: Hama ini disebut juga "wereng kedelai". Kumbang aktif pada pagi dan sore hari. Bila disentuh, kumbang akan menjatuhkan diri dan terdiam, sekana-kana mati.
Kepala dan dada berwarna kemerahan, sedangkan sayap berwarna kebiruan dan mengkilat, panjang 4-6 mm, umur 4-7 hari. Bertelur pada permukaan daun bagian bawah, dengan bentuk telur bulat panjang, berwarna kuning, terletak berkelompok 5-10 butir.
Larva yang baru menetas berwarna abu-abu gelap, umur larva 12 hari. Pupa berwarna kuning pucat, berbulu, panjang 3-5 mm, terdapat disela-sela bongkahan tanah, umur pupa 8 hari. Siklus hidup hama ini 20-21 hari.
Gejala serangan: kumbang menyerang tanaman muda sampai menjelang panen, kumbang maupun larva dapat merusak pucuk, tangkai daun muda, polong, serta daun. Serangan pada stadia kecambah menyebabkan tanaman mati.

3. Ulat penggerek polong (Ettiella zinchenella)
Ciri-ciri: Ulat penggerek polong berupa ngengat berwarna kuning keabu-abuan, berukuran 1,7-2,5 cm, aktif pada malam hari dan sangat menyukai cahaya, ngengat betina dapat bertelur 73-204 butir. Telur diletakkan pada bagian bawah kelopak bunga dan polong kedelai, bentuknya lonjong, dengan ukuran 0,6 mm.
Telur muda berwarna putih mengkilap dan setelah tua menjadi jingga berbintik-binitk merah, lama telur menetas 3-4 hari. Ulat yang menetas bergerak menuju polong, kemudian bersembunyi diliputi benang pintal putih, setelah menggerek polong, ulat memakan biji kedelai. Ulat berwarna hijau kekuningan sampai merah muda dengan bagian punggung bergaris hitam.
Pupa berada dalam tanah (kedalaman 2-3 cm), berwarna coklat, bentuknya bulat lonjong dan berukuran 1,5 cm.
Gejala serangan: ulat menggerek polong kedelai kemudian hidup dalam polong dan memakan biji kedelai yang masih utuh. Ulat menyebabkab kerusakan pada polong muda dan tua. Ulat juga sering merusak bunga, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan pembentukan buah atau polong. Kerusakan polong muda mengakibatkan biji kedelai tidak berkembang dan polong rontok; pada tingkat serangan tinggi, kerugian hasil mencapai > 90%.
Pengendalian : (1) tanam serempak tidak lebih dari 10 hari; (2) pergiliran tanaman bukan inang; (3) pemasangan lampu perangkap; (4) penggunaan insektisida Atabron 50 EC, Bassa 500 EC, Buldok 25 EC, Cymbush 50 EC, Dimacide 40 EC, Dimilin 25 WP dengan ambang kendali intensitas kerusakan polong >2 % atau terdapat 2 ekor ulat pertanaman saat umur >45 hari. Yulia TS (PP Madya)

Sumber:
1. Dr.Adisarwanto,Budidaya kedelai dengan pemupukan yang efektif dan pengotimalan
pe ran bintil akar. Cetakan Ke I Jakarta 2005.
2. Teknik Produksi Dan Pengembanga Kedelai, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian 2007
3. Teknologi Budidaya Kedelai, Balai Besar Pengkajian dan pengembangan Teknologi Pertanian , Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian,2008