RSS
Syndicate content

PENGELOLAAN LAHAN TANAMAN KARET

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan ialah pengelolaan lahan yang kurang sempurna.

Pengelolaan Lahan.
Dalam bagian pengelolaan lahan ini akandijelaskan tentang kesesuaian lahan, pemnyiapan lahan dan Pentutup lahan.

Kesesuaian Lahan: Budidaya karet dapat tumbuh dan berproduksi baik pada agroklimat yang tepat. yaitu; Tinggi tempat; 0 - 200 m dpl, topografi < 10 %, Curah hujan 1500 - 3000 mm/thn, drainase tanah, sedang. ,Kelembapan nisbi ,70 - 80 % dan pH 4,3 - 5,

Penyiapan Lahan: Dikenal dua jenis penyiapan lahan tanaman karet yaitu; penanaman ulang (replanting) dan penanaman bukaan baru (new planting). Penyiapan lahan bertujuan untuk memberikan kondisi pertumbuhan yang baik bagi tanaman dan mengurangi infeksi Jamur Akar Putih, JAP, Rigidophorus liginosa.
Penyiapan lahan dapat dilakukan secara mekanis maupun khemis.

Penyiapan lahan secara mekanis dilakukan dengan tahapan, sebagai berikut:
Penebangan Pohon. Penebangan dilaksanakan dengan gergaji (chain saw) dan penumbangan dilakukan secara teratur agar tidak terganggu kegiatan selanjutnya. Tunggul yang tersisa dibongkar dengan buldozer dan dikumpul pada tempat yang banyak sinar matahari dengan jarak yang teratur agar tidak mengganggu kegiatan pegolahan tanah.
Pengolahan Tanah. Tahapan pengolahan tanah, adalah:
- Ripper. Ripper dimaksudkan untuk mengangkat tunggul dan sisa-sisa tanaman yang tetinggal menggunakan traktor rantai dengan kedalaman garpu sekitar 45 cm.
- Luku. Meluku dilakukan dua kali dengan arah menyilang saling tegak lurus sedalam 40 cm menggunakan taktor luku. Interval waktu luku I dan luku II adalah 21 hari.
- Ayap Akar. Semua sisa akar dan potongan karet yang masih tertinggal diayap secara manual dan dikumpulkan ditempat tertentu untuk memudahkan pemusnahannya.
- Rajang. Rajang dilakukan untuk meratakan bongkahan-bongkahan tanah sebagai aki at luku.

Penyiapan lahan secara khemis dilakukan dengan tahapan, sebagai berikut:
Penumbangan dan Pengumpulan pohon. Penumbangan pohon dilakukan dengan arah teratur menggunakan kapak atau chain saw pada ketinggian 50 cm.
Peracunan tanggul. Peracunan dilakukan dengan menggunakan 2,4,5 T yang dilarutkan dalam minyak solar dengan dosis 5 % dengan atau garlon.Larutan 2,4,5 T dalam minyak solar dioleskan pada pangkal tunggul dengan ketinggian 20 cm dengan lebar 20 cm. Bila menggunakan garlon, terlebih dahulu kulit dikupas pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah lalu diracuni dengan garlon yang telah dilarutkan dalam solar dngan dosis 10 %.
Pengimasan dan penyemprotan gulma. Pengimasan dan penyemprotan menggunakan herbisida sistemik atau kontak diperlukan pada areal yang gulmanya cukup tinggi atau pada areal vegetasi alang-alang. Untuk mencapai efectivitas terbaik, pada areal yang gulma atau alang-alang sudah berdaun tua sebaiknya diadakan pembabatan terlebih dahulu.

Pembangunan Penutup tanah: Penutupan lahan karet siap olah dengan kacang-kacangan (LCC) sangat diperlukan dan memberi keuntungan. Keutungannya antara lain; meningkatkan kesuburan tanah, melindungi permukaan tanah dari erosi, memperbaiki sifat-sifat tanah, meningkatkan pertumbuhan tanaman karet, menekan jamur akar putih dan menekan biaya pengendalian gulma.

Reference
1. Tim Penulis Penerbit Swadaya, 1994. Karet, Strategi Pemasaran Tahun 2000, Budidaya dan Pengolahan, Penerbit Swadaya
2. Dirjen Perkebunan, 2006, Pedoman Teknis Budidaya Karet