RSS
Syndicate content

PENGARUH IKLIM PADA PRODUKSI KOPI

Sumber Gambar: http://ayobertani.wordpress.com
Tanaman kopi yang diusahakan untuk produksi secara komersiil umumnya sudah bukan tanaman asli tetapi merupakan klon-klon unggul hasil persilangan dan seleksi. Tanaman klon ini memberikan hasil yang tinggi dan merupakan salah satu kunci keberhasilan perkebunan-perkebunan kopi. Tanaman kopi semaian umumnya baru mulai menghasilkan setelah tanaman berumur 4-5 tahun. Untuk itu sangat dianjurkan bahwa penanaman bibit-bibit sambungan dari klon unggul yang akan menjamin hasil tinggi dari kebun-kebun kopinya kelak dan tanaman sudah mulai menghasilkan pada umur 2-4 tahun. Ini semua sangat tergantung pada pemeliharaan dan iklim setempat. Hasil tanaman kopi tiap tahun sangat mudah naik turun. Adanya perubahan iklim dan gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sangat berpengaruh pada produksi kopi seperti terjadi Indonesia pada tahun 1973, kopi Indonesia hancur karena musim kering yang berkepanjangan.
Mutu kopi umumnya juga dipengaruhi oleh keadaan-keadaan khusus masing-masing daerah seperti ketinggia, iklim, keadaan tanah, pemeliharaan tanamannya, pemetikan dan pengolahannya sehingga masing-masing daerah mempunyai mutu dan keistimewaan yang khas.
 

Tanah dan Iklim yang sesuai untuk pertumbuhan kopi
Kopi akan tumbuh baik bila syarat pertumbuhan tanamannya dapat terpenuhi yaitu tanah dengan kedalaman efektif yang cukup dalam (>100 cm), gembur, berdrainase baik, serta cukup tersedia air, cukup tersedia unsur hara terutama Kalium (K), cukup tersedia bahan organik (> 3%). Derajat keasaman (pH) tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kopi berkisar antara 5,3-6,5. Selama ini kopi yang lazim ditanam di Indonesia ada dua macam yaitu Robusta dan arabika. Kedua jenis kopi tersebut secara fisiologis menghendaki persyaratan kondisi iklim yang berbeda. Kopi Arabika menghendaki lahan dataran lebih tinggi daripada kopi Robusta, sebab bila kopi ini ditanam pada lahan dataran rendah selain pertumbuhan dan produktivitasnya menurun juga akan lebih rentan penyakit karat daun. Persyaratan tumbuh kopi secara lengkap adalah sebagai berikut:
Kopi Robusta: 1) tinggi tempat 300-600 m diatas permukaan laut; 2) suhu udara harian 24-30 derajat Celcius; 3) Curah hujan rata-rata 1.500-3.000 mm/th; 4) jumlah bulan kering 3-4 bulan/tahun; 5) derajat keasaman (pH) tanah 5,5-6,5; 6) kandungan bahan organik >3%; 7) kedalaman efektif tanah >100 cm; 8) kemiringan maksimum 40%. Musim kering yang dikehendaki maksimal 1,5 bulan sebelum masa berbunga lebat, sedang masa kering sesudah berbunga lebat sedapat mungkiin tidak melebihi dua minggu.
Kopi Arabika: 1) tinggi tempat 700-1.400 m diatas permukaan laut; 2) suhu udara harian 15-24 derajat Celcius; 3) Curah hujan rata-rata 2.000-4.000 mm/th; 4) jumlah bulan kering 1-3 bulan/tahun; 5) derajat keasaman (pH) tanah 5,3-6; 6) kandungan bahan organik >3%; 7) kedalaman efektif tanah >100 cm; 8) kemiringan maksimum 40%. Pertanaman kopi arabika yang dekat dengan permukaan laut banyak diserang penyakit karat daun. Sedang pada ketinggian lebih dari 2.000 m sering diganggu dengan embun upas.
Pohon kopi tidak tahan terhadap angin yang kencang, lebih-lebih dimusim kemarau karena angin akan mempertinggi penguapan air dipermukaan tanah dan juga dapat mematahkan pohon pelindung.

 

Pengaruh Iklim pada produksi kopi
Perhatian dan kerjasama antara para ahli klimatologi dengan ahli pertanian di Indonesia saat ini makin meningkat, hal disebabkan adanya perubahan dampak iklim yang bila tidak ditangani dengan baik dan cepat akan membawa resiko yang besar terhadap produksi pertanian nasional. Adanya perubahan dampak iklim tidak saja mengganggu produksi pertanian tetapi juga berakibat pada gagal panen baik tanaman pangan maupun perkebunan.
Kombinasi antara curah hujan dan suhu udara sangat berperan dalam mekanisme proses fotosintesis. Bila dua faktor tersebut ada gangguan tentunya akan mengganggu fotosinsesis yang beujung pada menurunnya produksi kopi. Terjadinya iklim ekstrim seperti kekeringan sangat berpengaruh pada pertumbuhan kopi dari tingkat kerusakan ringan, sedang dan berat yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Tingkat kerusakan ringan dengan gejala: daun layu tetapi warna tetap hijau, ranting tanaman tetap sehat.
2. Tingkat kerusakan sedang, dengan gejala: daun layu dan warna daun berubah menjadi hijau pucat, ranting lebih dari 50% mengering, tunas bunga mengering
3. Tingkat kerusakan berat, gejalanya daun mengering dan gosong, ranting tanaman mengering dan mudah patah, akar mulai mengering, hampir 100% tunas bunga mengering, biji yang belum masak menguning lebih cepat, biji kopi akan mengeriput 100% dam beberapa tahun kedepan.

 

Iklim ekstrim juga berpengaruh terhadap pengeringan biji kopi. Jika tidak terjadi iklim ekstrim, cuaca memungkinkan petani kopi untuk menjemur biji kopi, hal ini sangat menguntungkan baik secara teknis, ekonomis maupun mutu hasil. Namun bila cuaca tidak menguntungkan maka petani harus melakukan proses pengeringan melalui dua tahap yaitu yaitu penjemuran untuk menurunkan kadar kopi sampai 20-25% dan dilanjutkan dengan pengeringan secara mekanis untuk menurunkan kadar air sampai dengan 12%. Proses pengeringan mekanis dianjurkan dilakukan secara berkelompok karena selain perlu modal investasi yang cukup besar juga prosesingnya juga lebih rumit.

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Jurnal Tanah dan Iklim, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 2009; Prospek dan arah Pengembangan Agribisnis Jeruk, Badan Litbang Pertanian, Jakarta, 2005.