RSS
Syndicate content

PENGARUH IKLIM PADA PERKEMBANGAN HAMA TIKUS (Rattus sp) PADA PADI

Sumber Gambar: http://www.google.co.id/imgres?q=hama+tikus+pada+padi
Perkembangbiakan tikus sangat ditentukan oleh kondisi tersedianya makanan. Musim hujan dengan persediaan makanan cukup tikus akan berkembang pesat dan pada musim kemarau perkembang biakannya akan sangat terhambat bahkan dapat terhenti. Di musim hujan dimana padi mulai ditanam, kemudian bulir padi mulai berisi sampai menjelang panen, hal ini merupakan kondisi yang sangat menguntungkan bagi perkembangbiakan tikus karena cukup tersedia cukup makanan sehingga populasi tikus akan meningkat pesat begitu pula sebaliknya bila sawah diberokan, sehingga tidak ada makanan bagi tikus maka populasi tikuspun akan berkurang bahkan kadang-kadang tidak dijumpai sama sekali.

Karakteristik
Hama Tikus memiliki sifat pemakan segala tidak hanya padi hama tikus juga menyerang berbagai macam hasil pertanian seperti jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu, kelapa dan tanaman hasil pertaniaan lainnya. Bila mana tidak tersedia cukup makanan tikus dapat memakan apa saja, yang terpenting bagi tikus adalah pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Adakalanya tikus juga akan memakan jenis-jenis serangga, siput, bangkai ikan dan makanan hewan lainnya. Hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan adalah malam hari. Beberapa jenis Hama tikus yang di kenal merusak usaha budidaya pertaninan adalah Rattus argentiventer, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Dua jenis tikus yang pertama di sebutkan dapat merusak usaha budidaya pertanian dari mulai proses penanaman benih hingga produk pertaninan yang disimpan. Tikus Sawah (Rattus argentiventer) umumnya berwarna kelabu gelap dengan dada berwarna keputihan. Panjang Badannya tikus sawah dari hidung sampai ujung ekor berkisar 270 -370 mm dengan berat sekitar 130 gr. Tikus sawah dapat berkembang biak mulai pada umur 1,5 - 5 bulan setelah kawin, masa bunting memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil dan menyusui dalam waktu bersamaan. Selama satu tahun satu ekor betina dapat melahirkan sampai 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat melahirkan sampai 32 ekor anak. Seekor tikus betina dapat bunting sebanyak 6- 8 kali dan perkehamilan bisa melahirkan sekitar 10 ekor sehingga satu ekor tikus betina berpotensi berkembang biak hingga 80 ekor per satu musim tanam. Tikus Rattus Exultant, hidup di semak-semak, padang rumput dan huma. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tikus sawah. Panjang badannya dari hidung sampai ujung ekornya berkisar antara 220-285 mm. Tikus semak pandai memanjat, bahagian atas badannya warna kelabu dan bahagian bawahnya berwarna putih kelabu. Tikus ini sering didapat disemak-semak, dirumah dan dipinggir-pinggir hutan namun kurang suka didaerah banyak air.

Tempat Hidup
Tikus lebih suka hidup ditempat yang tersedia makanan dan berada didaerah semak yang dapat memberi perlindungan. Didaerah yang bervegetasi, tikus sangat senang karena dapat memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Tikus sawah merupakan binatang yang sangat pandai membuat liang untuk bersarang. Liang sangat berfungsi sebagai tempat berlindung dan melahirkan anak-anaknya serta menimbun makanan.

Gejala

Tikus dapat menyerang beberapa jenis tanaman seperti padi, kacang tanah, kedelai, ubi kayu,ubi jalar, tebu kelapa. Tetapi tanaman yang sering diserang dan paling disenangi ialah padi. Serangan pada tanaman padi memperlihatkan pada bahagian batangnya terpotong. Bila serangan hama ini terjadi pada vase vegetatif seekor hama tikus dapat merusak tanaman antara 11-176 batang padi/malam. Pada saat bunting kemampuaan merusak meningkat menjadi 24-246 batang /malam. Besarnya kerugiannya yang disebabkan oleh tikus ditentukan oleh banyaknya anakan yang gagal menghasilkan malai masak pada waktu panen.

Pengendalian

Beberapa cara pengendalian yang dipadukan dalam satu srtategi pengendalian hama terpadu.yaitu sbb: 1) sanitasi lingkungan yaitu dengan membersihkan semak-semak dan rerumputan, membongkar liang serta sarang serta tempat perlindungan lainnya. Dengan lingkungan yang bersih tikus merasa kurang mendapatkan perlindungan; 2) dengan cara fisik dan mekanik yaitu pengendalian dengan membunuh tikus seperti dengan pukulan, diburu dengan anjing, menggunakan perangkap, penggunaan pagar plastik. Cara ini biasanya lebih berhasil apabila dilaksanan secara massal atau grapyokan; 3) pengaturan waktu tanam yang serentak dan diupayakan keserentakan pada saat bunting dan bermalai; 4) penggunaan bahan kimia; 5) pemasangan umpan beracun dengan rodentisida antikogulan pada saat berangkat hingga menjelang padi bunting. Pengumpanan dihentikan apabila padi sudah bunting; 6) pengemposan dengan asap beracun (belerang)atau pembakaran karbit pada mulut liang tikus dengan pompa kompor. pengemposan dilakukan pada saat bunting atau padi bermalai. Dalam pengendalian hama tikus ada beberapa syarat untuk mencapai keberhasilan yaitu: 1) serempak pada areal yang luas; 2) massal yaitu mengikuti semua pihak; 3) berulang kali sampai populasi tidak lagi meninbulkan kerugian; 4) dengan cara Trap Barrier System (TBS) atau sistim perangkap bubu yang terdiri dari 3 komponen utama. Pertama adalah bubu perangkap yang berfungsi sebagai pengumpul tikus yang tertangkap. Kedua adalah pagar plastik yang berfungsi mengarahkan tikus memasuki lubang tertentu dan ketiga adalah tempat bubu perangkap dipasang. Sedangkan tanaman perangkap berfungsi sebagai penarik (attractant) agar tikus bergerak kelahan penangkapan TBS. Petak tanaman perangkap berguna untuk melindungi serangan tikus terhadap areal sekelilingnya. Makin besar petak tanaman perangkap makin besar jumlah tikus yang tertangkap. Hal ini terjadi karena tikus tertarik untuk menuju tanaman perangkap sehingga terperangkap oleh bubu perangkap. Keunggulan TBS ini adalah mampu menangkap tikus dalam jumlah besar, sehingga populasi tikus disekitar TBS menjadi rendah, hemat tenaga, dan efektif menangkap tikus secara terus menerus pada daerah endemis serta dapat mengatasi migrasi tikus sawah

Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM-Penyuluh Pertanian/yayuk_edi@yahoo.com
Sumber: Pengenalan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Serta Pengendaliannya, Modul Training of Trainers, BMKG, ICCTF dan Kementan, 2011.