RSS
Syndicate content

PENCEGAHAN LONGSOR MELALUI KONSERVASI LAHAN DAN REKAYASA SOSIAL

Terjadinya tanah longsor tidak hanya pada kawasan yang gundul akan tetapi juga terjadi pada kawasan yang bervegetasi baik. Sehingga untuk mencegah semakin meluasnya terjadinya tanah longsor, perlu dilakukan pengenalan secara jelas faktor apa saja yang berpengaruh. Beberapa faktor yang menyebabkan tanah longsor adalah faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, yaitu terjadinya perubahan kemiringan lahan dari landai ke curam, jenis batuan, sifat batuan dan tingkat pelapukan, serta terjadinya gempa tektonik.

Faktor eksternal, yaitu bentuk lereng, adanya hujan yang menyebabkan terbentuknya bidang gelincir, kegiatan manusia yang mengganggu kestabilan lereng. Kegiatan manusia yang dapat mengganggu kestabilan lereng antara lain: 1) melakukan pembangunan tanpa mengindahkan tata ruang lahan; 2) mengganggu vegetasi penutup lahan dengan penebangan yang berlebihan; 3) menambah beban mekanik dari luar dikawasan rawan longsor seperti reboisasi yang sudah terlalu rapat dan pohon terlalu besar namun tidak dipanen.

Karakteristik kawasan rawan longsor
Ada beberapa karakteristik kawasan rawan longsor yaitu: 1) kawasan mempunyai lereng >20%; 2) tanah mempunyai pelapukan tebal; 3) sedimen berlapis (lapisan permiabel menumpang pada lapisan impermeabel; 4) tingkat curah hujan tinggi sehingga tingkat kebasahan tanah tinggi; 5) terjadinya erosi yang menyebabkan terjadinya penggerusan dibagian kaki lereng yang berakibat lereng makin curam; 6) adanya penurunan lahan; 7) adanya patahan yang mengarah keluar lereng; 8) makin curam lereng makin tidak stabil.

Tanda-tanda tanah longsor
Tanda-tanda terjadikan tanah longsor antara lain: 1) terjadinya lapisan tanah/batuan yang miring kearah luar; 2) terjadinya retakan yang membentuk tapal kuda; 3) munculnya rembesan air pada lereng; 4) deretan acir bambu yang dipasang tidak membentuk garis lurus lagi; dan 5) beberapa batang pohon terlihat melengkung searah lereng.

Upaya mencegah longsor melalui konservasi tanah dan air (KTA)
Untuk mencegah dan mengurangi tanah longsor dapat dilakukan dengan upaya-upaya mekanik maupun vegetasi.
Upaya mekanik, antara lain dengan cara sebagai berikut: 1) menghindari atau mengurangi penebangan pohon yang tidak terkendali; 2) penanaman vegetasi tanaman dengan perakaran yang dalam dan kuat; 3) mengembangkan usaha tani ramah longgsor dengan penanaman hijauan makanan ternak (HMT) melalui sistem panen pangkas; 4) membuat saluran pembuangan air di daerah yang bercurah hujan tinggi dan merubahnya menjadi saluran penampungan air dan tanah ke daerah yang bercurah hujan rendah; 5) mengurangi atau menghindari pembangunan teras bangku dikawasan rawan longsor tanpa dilengkapi saluran pembuangan air dan saluran drainase dibawah permukaan tanah untuk mengurangi kandungan air dalam tanah; 6) mengurangi intensifikasi pengolahan tanah daerah yang rawan longsor; 7) membuat saluran drainase di bawah permukaan (mengurangi kandungan air dalam tanah); 8) mengalirkan air genangan yang berada diatas lokasi yang rawan longsor; 9) menutup ttanah retak searah kontur dan atau yang membentuk tapal kuda; 10) daerah rawan longsor dilengkapi bangunan mekanik/teknik sipil; 11) mengurangi kegiatan yang mengganggu kestabilan lereng.
Upaya vegetatip, yang dilakukan dengan cara sebagai berikut: cover cropping, strip copping, penanaman mengikuti countur, alley cropping, pengolahan tanah minimum. Jenis-jebis tanaman yang layak untuk ditanam di daerah rawan longsor adalah tanaman yang mempunyai akar tunggang dalam dan akar cabang yang banyak antara lain: 1) kemiri (Aleurites moluccana) termasuk tanaman multiguna dan dapat tumbuh didaerah berketinggian diatas 1000 meter diatas permukaan air laut (m dpl); 2) tanaman dlingsem (Homalium tomentosum) tanaman multiguna untuk lokasi dibawah 300 m dpl.; 3) johar (Cassia siamea) tanaman multiguna yang dapat hidup pada ketinggian 700 m dpl; 4) lamtoro merah (Acacia villosa) tanaman multiguna yang dapat hidup didaerah berketinggian < 300 m dpl; 5) lamtoro (Leucaena leucocephala) tanaman multiguna yang dapat hidup bagus diketinggian dibawah 500 m dpl. Selain itu dapat juga ditanami tanaman yang mempunyai akar tunggang dalam dengan sedikit akar cabang, seperti; 1) mahoni (Swietenia macrophylla) dapat hidup didaerah berketinggian < 700 m dpl; 2) renghaas (Gluta renghas) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 300 m dpl; 3) jati (Tectona grandis) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 500 m dpl; 4) angsana (Pterocarpus indicus) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 700 m dpl; 5) sono keling (Dalbergia latifolia) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 700 m dpl; 6) trengguli (cassia fistula) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 700 m dpl; 7) asam jawa (Tamarindus indicus) yang bagus ditanam di lokasi berketinggian sampai 1.000 m dpl.

Upaya mencegah longsor melalui rekayasa sosial
Yang tak kalah pentingnya dalam pengendalian dan pencegahan tanah longsor adalah dengan melakukan rekayasa sosial yaitu: 1) memperhatikan tata ruang wilayah rawan longsor dengan menghindari tinggal didaerah rawan longsor; 2) siap mengungsi setiap saat pada musim hujan atau hari-hari akan hujan; 3) membangun tempat pengungsian; 4) melakukan pengamatan hujan secara swadaya; 5) membangun sistim komunikasi tanda bahaya (misalnya dengan kentongan); dan 6) melakukan penyuluhan tentang pencegahan tanah longsor dan upaya yang harus dilakukan.


Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Media Informasi Pengelolaan Lahan dan air, , Ditjen PLA, kementerian Pertanian, Jakarta 2006