RSS
Syndicate content

Penanaman karet sistim tumpang sari

Penanaman karet sistem tumpang sari dapat membantu petani karet rakyat menghadapi masa tidak produktifnya tanaman karet ( 4 - 5 tahun ). Penanaman karet tumpang sari dapat meningkatkan produktivitas per satuan lahan karet yang dikelola petani, selain itu juga berfungsi sebagai pengganti resiko kegagalan panen. Penanaman karet tumpangsari harus direncanakan sejak awal agar tidak terjadi persaingan penyerapan unsur hara. Penanaman karet pola tumpangsari dapat juga dilakukan dengan tanaman pangan selain tanaman tahunan penghasil kayu, obat obatan. Komoditi pangan yang umum ditanam tumpang sari dengan tanaman karet adalah padi gogo, jagung, kacang kacangan dan tanaman hortikultura

 

1. Padi gogo
Padi gogo ditanam tumpang sarikan dengan tanaman karet umumnya pada tahun pertama dan jarang dilakukan pada tahun berikutnya, karena akan menurunkan hasil produksi padi. Padi gogo yang ditanam tumpang sari dengan karet umumnya berasal dari padi varietas lokal yang sudah beradaptasi dengan kondisi setempat.
Penanaman padi gogo tumpang sari dengan tanaman karet dilakukan dengan cara penugalan, kedalaman penugalan 3 cm. Penanamannya dilakukan awal musim hujan, jika terlambat dapat meningkatkan penyakit blast. Pada lahan tanaman karet yang luas hendaknya dilakukan penanaman padi gogo tumpangsari secara bersaman agar mengurangi terjadinya serangan hama dan penyakit.

 

Pupuk dasar padi gogo tanaman karet tumpangsari SP36 dengan dosis yang digunakan 125 kg/ha, KCl 75 kg/ha. Pupuk urea diberikan dalam 2 tahap secara larikan atau tugal diantara barisan padi. Penggunaan urea pertama kali dilakukan 2 minggu setelah tanam sejumlah 75 kg/ha pemberian urea yang kedua tanaman padi berumur 6 minggu dengan dosis urea 50 kg/ha.

 

Panen padi gogo dilakukan umur 110 - 150 hari tergantung dari varietas yang digunakan. Padi gogo tumpang sari siap dipanen dapat terlihat dari pengerasan biji dengan kandungan air mencapai 22 - 25 % dan warna daun bendera menguning. Panen padi gogo tumpangsari dapat dilakukan dengan menggunakan ani ani atau arit dan selanjutnya dilakukan perontokn gabah. Yang perlu diwaspadai pada tanaman padi gogo tumpangsari adalah terjadinya serangan hama yang terdiri dari lalat bibit, penggerek batang dan walangsangit.

 

2. Jagung
Jagung dapat ditanam tunggal atau tanaman tumpangsari dengan padi gogo diantara tanaman karet. Varietas benih jagung dapat berasal dari benih hibrida atau komposit. Penanaman jagung tanam tunggal maupun pola tumpang sari umumnya dilakukan pada awal musim hujan. Pada jagung tanam tunggal jarak tanam yang digunakan 20 sampai 25 cm X 70 sampai 80 cm, sedangkan pada tanaman jagung pola tumpang sari dengan padi gogo dianjurkan menggunakan jarak tanam 200 - 250 cm X 25 cm tergantung jarak tanam karet. Jumlah barisan jagung yang dapat ditanam digawangan karet umur satu tahun, pada jarak tanam karet 6 x 3 meter dengan jarak tanam jagung 20 x 80 cm adalah 6 baris atau populasi jagung kurang lebih 50.000 tanaman/ha. Jarak barisan jagung terluar dengan barisan karet kurang lebih 1 meter. Pada tanaman karet berumur lebih dari 1 tahun jumlah populasi tanaman jagung kurang lebih 33.500 tanaman/ha dengan jarak tanam jagung 25 x75 cm.
Penanaman jagung yang dilakukan cara tugal, setiap lubang tanam diisi benih 1 biji. Pada lokasi barisan jagung sebaiknya 2 minggu sebelum tanam diberikan kapur pertanian selebar 20 cm dengan dosis yang diperlukan 500 - 1000 kg/ha.
Kebutuhan benih jagung tumpangsari karet 16 kg/ha, sedangkan pada tumpang sari jagung dan padi gogo dengan tanaman karet diperlukan benih jagung 7 kg/ha.
Masa panen jagung pola tumpangsari karet umur 90 - 95 hari setelah tanam dengan mengacu pada ciri kelobot jagung mulai berwarna kuning, biji kering dan mengkilap. Jagung konsumsi kandungan kadar air biji jagung 25 - 35 % sedangkan biji jagung yang akan digunakan sebagai benih kandungan kadar air dibawah 20 % dan disimpan ditempat yang kering.
Nani Priwanti Soeharto
Sumber : Pedoman teknis Budidaya karet ( Good Agricultural Practices) Deprtemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006