RSS
Syndicate content

PEMILIHANAN BIBIT UNGGUL KAMBING POTONG

Sumber Gambar: www.google.com
Berhasil tidaknya suatu usaha peternakan, termasuk usaha peternakan kambing, sangat tergantung pada banyak hal. Mulai dari penetapan lokasi, pembuatan kandang, pemilihan bibit yang unggul, pemberian pakan yang cukup, pemeliharaan, perawatan dan pengendalian penyakit, panen dan pasca panen, hingga pemasaran hasil produksi. Antara satu dengan lainnya saling mengkait dan tidak bisa dilepaspisahkan. Apabila salah satu diantaranya gagal atau tidak sesuai dengan aturan yang standar, maka yang lain akan ikut kena dampaknya.
Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kesuksesan usaha ternak kambing adalah pemilihan bibit. Sebab, apabila bibit tidak baik, maka hasil yang diperoleh akan mengecewakan. Atau, paling tidak, tak sesuai dengan yang diinginkan. Untuk itu, bibit kambing yang dipilih untuk dipelihara hendaklah berkualitas unggul.
Baik buruknya kualitas kambing yang dipilih sangat tergantung dari berbagai faktor. Diantaranya adalah asal muasal bibit dan lingkungan hidup yang mendukung. Dalam pengembangbiakan kambing untuk tujuan pemeliharaan, bibit kambing yang dipilih haruslah baik dan sehat. Sehat tidak hanya dari segi fisik, akan tetapi juga dari asal usul ataupun silsilahnya. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi perkawinan satu darah atau satu keturunan (inbreeding). Sebab, tujuan utama pemilihan bibit unggul adalah untuk menghasilkan atau mendapatkan keturunan sekaligus memperoleh hasil produksi yang optimal.
Pembentukan bibit unggul kambing ternakan yang cocok dengan kondisi lingkungan setempat merupakan hal yang perlu ditekankan dalam pengembangbiakan ternak kambing. Apapun jenis kambing, bisa dijadikan sebagai bibit unggul. Yang penting memenuhi persyaratan yang cukup. Kambing kacang misalnya, atau kambing lokal lain dapat digunakan sebagai salah satu parent stock (bibit indukan) untuk pembentukan bibit unggul yang diharapkan.
Upaya pembibitan ditekankan pada pemurnian dan peningkatan produksi. Upaya ini dilakukan dengan cara seleksi genetik. Seleksi ini dengan memperhatikan sifat-sifat unggul yang diharapkan. Contoh sifat unggul dari kambing yaitu kemampuan beranak yang tinggi, pertumbuhan yang cepat dan mutu produksinya sesuai yang diharapkan konsumen.
PEMILIHAN INDUK BETINA DAN JANTAN
Peran utama induk betina kambing adalah untuk melahirkan anak. Untuk itu, calon induk sebaiknya dipilih dari ternak yang masih muda. Disamping itu, juga memiliki bentuk tubuh yang bagus, dan berasal dari induk yang setiap kali beranak, melahirkan lebih dari satu ekor. Perilaku induk menunjukkan sifat keibuan dan menunjukkan kasih sayang dalam memelihara dan mengasuh anaknya.


CALON INDUK BETINA YANG SUBUR
Induk kambing betina yang dipilih untuk dipelihara sebagai bibit adalah yang benar-benar subur. Ciri-ciri induk kambing betina yang subur bisa dilihat pada saat menjelang kawin (birahi). Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa tanda antara lain sebagai berikut : 1) Bibir rahim sedikit membengkak, mengeluarkan lendir, dan berwarna kemerah-merahan; 2) Sering mengembik dan terlihat gelisah; 3) Kencing hampir setiap saat; 4) Nafsu makan susah dan agak rewel; 5) Pada kambing perah yang sudah pernah beranak, masa subur juga ditandai dengan berkurangnya air susu yang dihasilkan.
CALON PEJANTAN IDEAL
Calon pejantan ideal haruslah dipilih secara selektif. Pemilihan ini dilakukan dengan mengambil salah satu dari sekelompok kambing jantan yang kondisi pertumbuhan dan perkembangannya baik. Selain itu, memiliki penampilan tergagah dari calon pejantan yang ada.
Dari penampilan fisik, calon pejantan memiliki dada yang bidang. Permukaan dada terlihat lebar dari jarak antara kaki kiri dan kanan. Selain dari itu, kedua buah pelir (testis) normal dan bergantung erat. Sedangkan buah zakar panjang dan sifat kejantanan nyata. Postur badan tampak panjang, dengan bagian belakangnya berukuran besar serta kaki yang kuat dan bertumit tinggi. Umur pejantan sebaiknya tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua yaitu berkisar antara 1-5 tahun. (Inang Sariati)
Sumber Informasi:
1. Mulyono, Subangkit dan Sarwono, B, "Penggemukan Kambing Potong", Jakarta: Penebar Swadaya, 2007
2. Prabowo, Agung, "Petunjuk Teknis, Budidaya Ternak Kambing (Materi Pelatihan Agribisnis bagi KMPH)", BPTP Sumatera Selatan, 2010