RSS
Syndicate content

Pemeliharaan Tanaman Pala

Pemeliharaan pada tanaman pala meliputi penyulaman, penyiangan, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemberian mulsa.

Penyulaman: Penyulaman ini dilakukan sejak tanaman berumur satu bulan, untuk menggantikan tanaman yang mati maupun tanaman yang pertumbuhannya terhambat.

Penyiangan: Penyiangan dilakukan sejak tanaman berumur 2-3 bulan agar persaingan antara pohon pala dengan gulma dalam penggunaan unsur hara dapat kurangi, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pemangkasan: Pemangkasan dilakukan untuk mengurangi kelembaban di sekitar pertanaman pala dan mencegah penyebaran hama dan penyakit.

Pemupukan: Pemberian pupuk pada tanaman pala dilakukan untuk menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman pala, terutama unsur makro (N,P, dan K). Dosis pemupukan disesuaikan dengan dengan umur tanaman.

Dosis pemupukan sebagai berikut: (1) Umur tanaman 1 tahun: 20 kg N/ha/th,20 kg P2O5/ha/th dan 30 kg K2O /ha/th. (2) Umur 2-3 tahun 40 kg N/ha/th, 40 kg P2O5/ha/th, dan 50 kg K2O/ha/th. (3) Umur 4-6 tahun: 80 kg N/ha/th, 80 kg P2O5 /ha/th, 100 kg K2O/ha/th. (4) Umur 7-15 tahun: 100 kg N/ha/th, 100 kg P2O5/ha/th, dan 150 kg K2O/ha/th. (5) Umur ±15 tahun : 120 kg N/ha/th, 100 kg P2O5/ha/th dan 150 kg K2O/ha/th.

Pemberian pupuk diilakukan dengan pembuatan rorak melingkar di sekitar tanaman, kemudian pupuk disebarkan pada rorak dan ditutup tanah kembali.

Pengendalian hama dan penyakit.

Pengendalian Hama: Hama yang sering dijumpai menyerang biji pala adalah Oryzaephilus mercator, Faufel dan Areacerus fasciculatus. Kedua hama ini dapat menyebabkan kerugian besar terutama pada produk-produk dalam penyimpanan. Pengendalian yang dapat dilakukan dengan melakukan fumigasi dengan fungisida. Sedangkan pencegahannya dengan mengeringkan secepatnya biji pala yang sudah dipisah dari buahnya.

Disamping itu terdapat hama yang menyerang batang pala yaitu Batocera Hercules, hama penghisap buah pala yaitu Dacynus sp.dan hama ulat penggulung daun. Hama Dacynus sp menyerang buah pala yang hampir masak dan menyebabkan adanya bercak coklat pada buah.

Pengendalian hama penggerek batang dapat dilakukan dengan: (1) menutup lubang gerekan dengan kayu , (2) membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya (3) menggunakan pestisida nabati nimbi, tembakau dll.

Cara menggunakan pestisida nabati dengan memasukkan atau menginfus bahan tersebut ke dalam batang pohon pala yang terserang, yaitu dengan membuat lubang pada batang pohon pala menggunakan alat bor, kemudian insektisida sistemik dimasukkan sebanyak 15-20 cc dan lubang tesebut segera ditutup kembali.

Pengendalian Penyakit:

Penyakit busuk buah kering: Disebabkan oleh sejenis jamur yaitu Stigmina myrtaceae. Gejala penyakit ini yaitu ditemukan bercak cokelat atau hitam kehijauan dengan ukuran bervariasi pada buah yang berusia 5-6 bulan ke atas. Selanjutnya bercak mengering, buah menjadi keras dan pada permukaan kulit terbentuk masa jamur berwarna hitam kehijauan, diikuti pecahnya buah dan buah kemudian gugur.

Penyakit busuk basah: Disebabkan oleh Colletotrichum gloesporioides Penzig. Buah yang terinfeksi menjadi cokelat, daging buah busuk,lunak, berair. Buah terserang pada pangkalnya sehingga mudah gugur ke tanah.
Pengendalian penyakit busuk buah kering dan busuk basah dengan: (1) menghilangkan sumber inokulum dengan membenamkan buah yang terserang ke dalam tanah,(2) mengurangi kelembaban dengan mempergunakan jarak tanam yang lebar misalnya 10 m x 10 m, pembersihan tanaman pengganggu, mengurangi tanaman pelindung, pemangkasan cabang dan ranting yang saling bersentuhan serta penyemprotan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif Carbendazim pada musim penghujan, (3) melindungi buah dengan penyemprotan fungisida nabati.
Penyakit antraknosa dan benang putih: Penanggulangan penyakit ini dengan mengurangi kelembaban kebun, memotong dan memusnahkan ranting yang terinfeksi, serta penyemprotan dengan fungisida.

Pemberian mulsa: Mulsa berfungsi melindungi akar lateral pala yang halus dan tumbuh relatif dangkal di bawah tanah. Mulsa dapat menggunakan daun-daun kering, sisa-sisa tanaman maupun rerumputan kering serta daging buah yang terbuang.

Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya .
Sumber: Pedoman Teknis Peningkatan Produksi dan Produktivitas Pala. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. Direktorat Budadaya Tanaman Rempah dan Penyegar. Jakarta 2009.