RSS
Syndicate content

PEMELIHARAAN TANAMAN APEL

Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini. Hasil pertanaman apel memerlukan pemeliharaan yang optimal, apabila ingin memperoleh hasil/ produksi yang maksimal. Oleh karena itu beberapa perlakuan pemeliharaan apel dapat dicermati pada tahapan berikut ini.
 
 
1)Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau dimatikan kerena tidak menghasilkan buah, caranya dengan menanam tanaman baru atau menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
 
 
2)Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila disekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dapat mengganggu tanaman. Penyiangan juga tergantung dari jarak tanam apel, pada kebun yang ditanami apel dengan jarak tanam yang rapat (± 3x3 m), penyiangan hampir tidak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh. Pada jarak tanam apel yang agak luas, penyiangan dilakukan bila gulma benar-benar mengganggu pertumbuhan dan keindahan.
 
 
3)Pembumbunan
Biasanya pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan, dimana penyiangan diikuti dengan pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman apel agar tidak tergenang air dan juga untuk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dengan pemupukan.

4)Pemangkasan/perompesan
Apabila bibit sudah setinggi 80 cm sudah saatnya untuk dilakukan pemangkasan atau tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4-6 mata dan bekas tangkai buah, knop yang tidak subur, cabang yang berpenyakit dan tidak produktif, cabang yang menyulitkan pelengkungan, ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yang diinginkan (4-5 tahun).

 
 
4) Pengairan dan Penyiraman
Untuk pertumbuhannya, tanaman apel memerlukan pengairan yang memadai sepanjang musim. Pada musim penghujan, masalah kekurangan air tidak ditemui, tetapi harus diperhatikan jangan sampai tanaman terendam air. Krena itu perlu drainase yang baik. Sedangkan pada musim kemarau masalah kekurangan air
harus diatasi dengan cara menyirami tanaman sekurang-kurangnya 2 minggu sekali dengan cara dikocor.
 
 
5) Perompesan
Perompesan dilakukan untuk mematahkan masa dorman didaerah sedang. Di daerah tropis perompesan dilakukan untuk menggantikan musim gugur di daerah iklim sedang baik secara manual oleh manusia (dengan tangan) 10 hari setelah panen maupun dengan menyemprotkan bahan kimia seperti Urea 10%+Ethrel 5000 ppm 1 minggu setelah panen 2 kali dengan selang satu minggu).
b) Pelengkungan cabang
Setelah dirompes dilakukan pelengkungan cabang untuk meratakan tunas lateral dengan cara menarik ujung cabang dengan tali dan diikatkan ke bawah. Tunas lateral yang rata akan memacu pertumbuhan tunas yang berarti mamacu terbentuknya buah.
c)Penjarangan buah
Penjarangan dilakukan untuk meningkatkan kualitas buah yaitu besar seragam, kulit baik, dan sehat, dilakukan dengan membuang buah yang tidak normal (terserang hama penyakit atau kecil-kecil). Untuk memdapatkan buah yang baik satu tunas hendaknya berisi 3-5 buah.
d) Pembelongsongan buah
Dilakukan 3 bulan sebelum panen dengan menggunakan kertas minyak berwarna putih sampai keabu-abuan/kecoklat-coklatan yang bawahnya berlubang. Tujuan buah terhindar dari serangan burung dan kelelawar dan menjaga warna buah mulus.
e) Perbaikan kualitas warna buah
Peningkatan warna buah dapat dilakukan dengan bahan kimia Ethrel, Paklobutrazol, 2,4 D baik secara tunggal maupun kombinasi.

Sumber : Anonymous, 2006
Ir. SRI PURWANTI, MS