RSS
Syndicate content

PEMBIBITAN TEBU DENGAN BENIH KULTUR JARINGAN DI KEBUN BIBIT DATAR (KBD)

Sumber Gambar: www.google.com
Usaha intensifikasi, ekstensifikasi tanaman tebu, memerlukan benih dalam jumlah sangat banyak, cepat, seragam dan bebas hama penyakit. Untuk memenuhi kebutuhan bibit tebu unggul dalam waktu cepat, jumlah banyak, varietas seragam bebas hama dan penyakit pemerintah telah mengembangan teknologi alternatif kultur jaringan/kultur meristem dengan penyediaan benih generasi 2 (G2). Tahapan produksi benih G2 meliputi produksi benih generasi nol (G0), benih generasi satu (G1) dan produksi benih generasi dua (G2). Keuntungan pengadaan bibit tebu melalui kultur jaringan adalah: 1) perbanyakan secara cepat; 2) pertumbuhan dan kualitas seragam; 3) produksi bibit banyak; 4) tidak merubah sifat genetik tanaman induk.

Perlakuan sebelum pesemaian
Bagal mikro (G2) siap salur dalam bentuk bagal yang dipotong menjadi satu mata tunas budset bagal mikro. Bagal mikro G2 siap salur sebaiknya mendapat perawatan khusus yaitu air panas dan perendaman fungisida. Bagal mikro (G2) yang diterima, segera dibuka dan diangin-anginkan ditempat teduh. Untuk menghindari kematian tunas, selambat-lambatnya 3 hari sejak diterima dari sumber benih harus sudah dilakukan persemaian dalam polibag. Kebutuhan bibit kultur jaringan bagal mikro (G2) dalam 1 hektar adalah sebesar 30.000 mata.
Langkah persemaian dalam polibag
a. Penanaman
1. Menyiapkan lahan untuk persemaian se luas + 250 m2, untuk kebutuhan bibit 1 ha
2. Lahan persemaian diusahakan dekat dengan sumber air, atau melakukan persemaian di lahan sawah pengairan teknis,
3. Kantong plastik/polibag ukuran 10 x 12, atau 12 x 16, kantong plastik dilubangi dibagian samping 8 dan bagian bawah 2, untuk jalan keluarnya air yang berlebihan.
4. Bibit bagal mikro (G2) dalam kemasan waring direndam dalam larutan ZA 3,6 gram/liter air, selama 30 - 45 menit, selanjutnya ditiriskan.
5. Melakukan seleksi bibit G2 dengan memilih mata yang sehat/tidak cacad, tidak keriput, belum mengeluarkan akar, bibit tidak pecah, tidak berjamur, tidak banyak lapisan lilinnya dan bernas.
6. Media yang digunakan merupakan campuran antara tanah : pasir : pupuk organik adalah 1 : 1 : 1. Media yang sudah tercampur diayak agar menjadi bitiran yang seragam
7. Campuran media yang sudah siap, dimasukkan dalam polibag
8. Sebelum dilakukan penanaman bibit dalam polibag media disiram terlebih dahulu sampai jenuh
9. Membuat lubang tanam sesuai ukur bibit bagal mikro G2 sedalam > 5 Cm. Selanjutnya bibit yang sudah disiapkan di tanam dalam polibag, dengan arah mata tunas mengarah ke atas dan ruas harus tertanam.
b. Pemeliharaan
1. Penyiranam di persemaian dilakukan setiap 2 kali sehari (jika kondisi kering dan tidak hujan), sesuai dengan kebutuhan kelembaban tanah untuk pertumbuhan tanaman.
2. Pemupukan dilakukan setelah 10 hari setelah tanam atau tunas telah berdaun 3 helai. Dosis pupuk 3,6 gram ZA dilarutkan dalam 1 liter air.
3. Menjaga kebersihan di lahan persemaian, dengan melakukan penyiangan gulma, agar tidak menggangu perkecambahan dan pertunasan bibit budset bagal mikro selama dalam persemaian.
4. Bibit siap di pindahkan ke lahan KBD, Jika akar tanaman dalam polibag telah penuh/memenuhi sebagian polibag atau tanaman telah berdaun 6 - 7 helai dan berumur 6 sampai 8 minggu
Persiapan Lahan Kebun Bibit Datar (Kbd)
a. Pengolahan lahan
Pengolahan lahan KBD kultur jaringan sebaiknya dilaksanakan pada lahan sawah pengairan teknis, agar ketersediaan air dapat terpenuhi. Selanjutnya lahan Kebun Bibit Datar (KBD) dibajak dan kair dengan jarak antar juring/pusat ke pusat (PKP) 100 sampai 120 Cm. Panjang juring menyesuaikan dengan kondisi lahan (6-15 m), selanjutnya membuat bantalan atau kasuran sepanjang juring setinggi 5 cm. Bantalan tersebut dilubangi dengan cangkul atau tugal sebagai lubang tanam. Jarak antar lubang tanam adalah 30 - 40 cm dalam baris juringan. Sebelum bibit ditanam diberikan pupuk dasar K2O dan P2O5 dan membuat got pembuangan, got keliling, agar tidak terjadi genangan air di lahan yang mengakibatkan tanaman menguning dan mati
b. Penanaman bibit di lahan KBD
Tanaman dalam polibag sebelum ditanam di lahan KBD, daun tanaman dipotong (dikupir) 2/3 helai daun hingga ditinggalkan daun yang masih menggulung. Dengan tujuan untuk mengurangi evapotranspirasi di lahan. Selanjutnya polibag disobek hingga tinggal tanah dan akar, kemudian ditanam pada lubang yang sudah disiapkan, selanjutnya ditutup tanah urug hingga permukaan media tanah/leher tanaman. Setelah selesai ditanam di lahan, harus dilakukan penyiraman, kemudian melakukan kontrol tanaman selama 3 hari pertama, dan dilanjutkan setiap 3 hari sekali hingga tanaman berumur 2 minggu. Bila ada tanaman yang mati segera disulam serta dijaga agar tidak kekeringan. Melakukan sulaman pada bibit yang mati, agar populasi tanaman dalam 1 hektar dapat sesuai dengan standar teknis
c. Pemeliharaan KBD
Pemeliharaan di KBD diantaranya dengan melakukan pemupukan. Pemupukan pertama, dilakukan dengan cara menugal dekat dengan tanaman, dengan dosis 1/3 bagian N, selanjutnya pemupukan ke dua/susulan dilakukan pada saat tanaman umur 1 bulan atau pada saat tanaman tumbuh tunas baru. Kemudian pada lahan KBD dilakukan pembersihan gulma, melakukan kontrol pengairan agar tidak terjadi genangan pada tanaman atau tidak terjadi kekeringan. Terakhir melakukan sertifikasi bibit KBD sebelum dilaksankan penebangan.

 

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber: 1.Gunawan, L.W. 1988. Teknik kultur jaringan tumbuhan. Laboratorium kultur jaringan tumbuhan, PAU Bioteknologi, IPB. Bogor; 2) Pedoman Teknis, Pengembangan Tanaman Tebu, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian 2013; 3) Berbagai sumber
Sumber gambar: Penanaman Benih Tebu Hasil Kultur Jaringan Pada Kebun Bibit Datar, 2012