RSS
Syndicate content

Pembiayaan Gambir (Uncaria Gambir Hunt)

Sumatera Barat merupakan daerah sentra produksi gambir. Komoditas ini termasuk tanaman khas daerah tropis dengan manfaat serbaguna. Prospek pasar dan potensi pengembangannya cukup baik karena digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Gambir banyak diusahakan dalam skala usahatani perkebunan rakyat di Sumatera Barat. Kabupaten Lima Puluh Kota adalah salah satu daerah sentra produksi gambir di Sumatera Barat. Pengembangan komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya, masih sangat prospektif bila dilihat dari potensi produksi dan pemasaran pada pasar domestik dan ekspor. Prospek yang potensial terhadap permintaan gambir di pasar dalam dan luar negeri, belum dibarengi dengan peningkatan produktivitas maupun pendapatan petani, meskipun sudah ada peningkatan luas areal maupun produksi. Agar produktifitas dapat ditingkatkan dan kualitas mutu olahan dapat diperbaiki yang memungkinkan akses ke pasar menjadi lebih baik, maka perlu dilakukan penelitian mengenai aspek produksi dan pemasaran gambir

Analisis Biaya dan Pendapatan
Pendapatan adalah merupakan hasil kali dari jumlah produksi dengan harga jual persatuan. Produksi rata-rata tanaman gambir pada tahun kelima 1.000 kg dengan harga jual Rp 15.000/kg dan total penerimaan Rp 15.000.000.
Biaya usahatani adalah biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan dalam usahatani. Yang dimaksud dengan biaya tunai adalah biaya yang langsung dikeluarkan petani dalam bentuk rupiah yang harus dimiliki petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya sedang yang dimaksud dengan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang diperhitungkan untuk menghitung berapa pendapatan petani, modal dan menilai tenaga kerja keluarga, biaya penyusutan peralatan, bangunan dan sewa lahan milik sendiri.

Contoh penghitungan biaya yang dikeluarkan petani dalam usahtani gambir sebagai berikut:
1. Biaya tunai sebesar Rp 6.567.800,
2. Biaya yang di perhitungkan sebesar Rp 2.934.200
3. Total biaya adalah Rp 9.502.000
4. Total pendapatan yang diterima petani adalah Rp 8.342.200
5. Total keuntungan yang diterimah petani sebesar Rp 5.498.000.
6. Perhitungan berdasarkan nilai penerimaan dan biaya (R/C) total sebesar 1,58 yang artinya untuk setiap rupiah biaya total yang digunakan petani dalam memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,58. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 2,28 artinya setiap rupiah biaya tunai yang digunakan petaniakan memperoleh penerimaan sebesar Rp 2,28.
Kelayakan usaha, nila total pendapatan yang diterima petani adalah Rp 8.342.200 dan total keuntungan yang diterimah petani sebesar Rp 5.498.000. berdasarkan nilai penerimaan dan biaya (R/C) total sebesar 1,58. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 2,28. Usahatani gambir layak di usahakan dan menguuntungkan.

Analisa usahatani Gambir *)
Untuk memberikan gambaran bahwa usahatani gambir menguntungkan, dibawah ini disajikan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Februari - April 2004 di Desa Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi, Desa Bongkaras merupakan salah satu daerah sentra produksi gambir di Sumatera Utara, dengan hasil penelitiannya sebagai berikut:
Sistem usahatani gambir menggunakan pola tanam monokultur dengan proses pengolahannya tradisional. Dari hasil pengolahan tersebut diperoleh nilai tambah rata-rata sebesar Rp.443/Kg daun. Pendapatan dari hasil pengolahan gambir cukup tinggi, yaitu Rp. 2,613,247/Ha, dibandingkan dengan pendapatan bersih usahatani gambir tanpa diolah sebesar Rp. 3,639,926/Ha maka konstribusi pendapatan pengolahan sekitar 71.3% terhadap pendapatan bersih. Perhitungan biaya produksi usahatani gambir cukup tinggi yaitu sebesar Rp.5,134,366.94, biaya tersebut terdiri dari biaya tetap (biaya penyusutan dan biaya tenaga kerja) dan biaya variabel (biaya tenaga kerja dan biaya operasional seperti untuk kayu bakar, minyak tanah dan ongkos transportasi). Pendapatan usahatani gambir di daerah Bongkaras per tahun adalah Rp.3,639,926 atau pendapatan per bulannya sebesar Rp.303,327. Tingkat kelayakan usahatani gambir cukup layak dimana R/C ratio > 1. Tingkat produktivitas usahatani gambir tertinggi yaitu 1,114,3 Kg/Ha dan tingkat produktivitas terendah 471,5Kg/Ha, sedangkan produktivitas rata rata yaitu; 759,7 Kg/Ha. Prospek usahatani gambir berpotensi memperoleh laba.

 


Oleh : Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian, email : yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Dari berbagai sumber; http://repasitory.usu.ue.id/...
Sumber gambar : http://mjptrade.fies.wordpress.com/2010/...