RSS
Syndicate content

PEMASARAN SAPI POTONG / PO.

Sumber Gambar: www.jakartapost.com

Pasar Ternak/ Hewan merupakan ajang pertemuan antara peternak, pedagang pengumpul maupun pedagang antar wilayah melakukan transaksi jual beli ternak. Transaksi jual beli di pasar tradisional ini masih transparan, dimana margin tataniaga belum terdistribusikan secara proposional sehingga dapat dipastikan bahwa margin tata niaga yang paling rendah dan yang paling dirugikan adalah peternak.

 

Kondisi Pemasaran sapi,
Sistem pemasaran ternak sapi (hidup/ daging) di Indonesia pada umumnya sistem jual beli/ penetapan harga masih dengan metoda tradisional. Di pasar tradisional sistem jual beli ternak/ penetapan harga masih didominasi dan berdasarkan kepercayaan diantara pihak-pihak tertentu yaitu para pedagang pengumpul (tengkulak/ blantik). Dalam menentukan berat/ bobot ternak dilakukan dengan menaksir berdasarkan pengalaman peternak dan blantik, bukan berdasarkan bobot ternak atau kriteria tertentu. Dominasi blantik dalam pemasaran ternak sangat nyata baik di pasar-pasar desa maupun kecamatan, bahkan sampai ke kabupaten/ kota, dimana dominasi margin keuntungan pada umumnya berada pada pedagang, baik pengumpul atau blantik maupun pedagang besar di sentra konsumen, sedangkan peternak sebagai produsen ternak hanya mendapatkan margin keuntungan terendah. Di pasar tradisional, selain sistem transaksi yang belum transparan, bangunan fisik pasar ternak tempat transaksi berlangsung,masih sangat sederhana dengan kondisi fasilitas yang terbatas dan belum tertata dengan baik, belum menggunakan kriteria berat badan maupun menetapkan grade/ klas mutu dan menggunakan alat ukur/ timbangan sebagai dasar penentuan harga.

Saluran Pemasaran Sapi,
Pemasaran sapi PO dan sapi potong lainnya dari hasil penggemukan yang dijual bisa dalam bentuk hidup maupun produk daging . Pasar sapi PO secara umum dibagi 2 yaitu pasar tradisional dan pasar tertentu seperti pasar swalayan maupun restoran, rumah sakit dan hotel. Di pasar tradisional, seperti biasa terjadi transaksi pedagang pengumpul di desa dengan para peternak. Kemudian pedagang pengumpul di desa menjual ternaknya ke pedagang antar kota/ pedagang pengumpul di kabupaten bahkan ke pedagang besar di provinsi atau didaerah konsumen yang selanjutnya akan menjual ternaknya ke pedagang pemotong/ jagal melalui Rumah Potong Hewan/ RPH untuk diperjualbelikan oleh para pengecer di pasar-pasar tradisional dalam bentuk daging kepada konsumen. Di pasar daging tradisional umumnya pelanggannya adalah tukang-tukang bakso. Khusus untuk pasar tertentu atau ke pasar modern atau pasar swalayan atau ke restoran, rumah sakit maupun hotel biasanya menginginkan daging-daging pilihan atau yang relatif empuk. Oleh karena itu pilihannya tentunya dari sapi-sapi muda yang digemukkan yang memiliki daging relatif empuk dan gurih. Jadi pemilihan sapi yang akan dipasarkan ke pasar tertentu tadi merupakan sapi-sapi pilihan. .
Jalur lainnya para pabrikan olahan daging/ industri olahan yang telah bermitra dengan para peternak melalui Rumah Potong Hewan (RPH), diolah oleh pabrik/ industri daging olahan kemudian di pasarkan oleh para pedagang pengecer ke konsumen dalam bentuk olahan daging sapi ( daging segar/beku, bakso, sosis, dendeng, abon) melalui pasar tradisional atau pasar swalayan.

Pasar Ternak Modern
Kedepan, Sistem pemasaran ternak lebih transparan dalam menentukan harga maupun berat ternak dengan menerapkan metode jual beli yang lebih terbuka yaitu Sistem Lelang Ternak, yang diorganisir oleh organisasi Gabungan dari kelompok-kelompok tani yang mengusahakan ternak (Gapoktan). Gapoktan ini diharapkan mampu mengelola sarana pemasaran ternak dari anggota-anggota kelompok ternak yang ada di wilayahnya. Pasar Ternak Modern ini dilengkapi pula dengan fasilitas sarana dan prasarana pasar yang lengkap yaitu kandang karantina / kandang penitipan ternak beserta perlengkapannya ,alat ukur/ timbangan, Kandang pemisahan sesuai grading/ klas mutu terhadap ternak yang diperjualbelikan atau stratifikasi ternak seperti kandang berdasarkan umur atau berat atau bisa juga berdasarkan jenis kelamin seperti kandang pejantan/ induk, kandang bakalan, kandang anak, kandang dara. Selain itu pasar juga dilengkapi dengan sarana usaha Rumah Potong Hewan/ RPH serta usaha pengelolaan dan pemasaran olahan daging (Meat Business Centre) berupa daging segar/ beku, dendeng, bakso, sosis.
Penulis : Asia.
Sumber :
1. Panduan umum operasional Pasar Ternak. Ditejen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian 2006
2. Pengembangan Industrialisasi Perdesaan berbasis Sapi Potong. Soepodo Boediono Ditjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian 2003.