RSS
Syndicate content

Pemasaran Rambutan

Sumber Gambar: http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/...ambutan
Buah rambutan, merupakan buah populer di kawasan ASEAN, khususnya di Indonesia dan di negara Jiran Malaysia tempat asal buah rambutan. Buah rambutan dapat dikonsumsi langsung sebagai buah segar ataupun olahan seperti buah kaleng, manisan dan kripik. Baik sebagai buah segar maupun olahan, rambutan menjadi komoditi primadona yang memiliki prospek yang cukup cerah baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasaran buah rambutan segar antara lain : 1) waktu panen dan indeks kematangan; 2) standarisasi mutu buah rambutan; 3) pengemasan.

1. Waktu panen dan indeks kematangan
Periode pemanenan buah rambutan sekitar nulan Nopember - Februari (musim penghujan). Buah rambutan dapat dipanen setelah berumur 104 -110 hari setelah berbunga. Kriteria kematangan buah rambutan ditetapkan dengan tingkatan indeks sebagai berikut : 1) Indeks 1-Buah belum dapat dipanen, yaitu buah rambutan masih hjau, kulit dan rambut masih berwarna hijau, daging buah masih alot dan rasa asam/kecut; 2) Indeks 2-Buah belum dapat dipanen, dengan kriteria pucuk buah masih hijau, daging buah masih asam/ kecut dan belum ngelotok; 3) Indeks 3-Buah sudah dapat dipanen, dengan kriteria kulit buah sudah kemerahan, rambut buah masih hijau, buah sudah masak tapi belum maksimal; 4) Indeks 4-Buah sudah dapat dipanen, kulit buah sudah masak, rambut nuah sudah kuning, buah sudah masak; 5) Indeks 5-Buah sudah dapat dipanen, dengan kriteria kulit buah dan rambut buah sudah berwarna merah, daging buah sudah masak maksimal; dan 6) Indeks 6-Buah sudah terlambat dipanen, dengan kriteria daging kulit buah berwarna merah dan rambut buah sudah berwarna merah kehitaman buah sudah masak lebih dari maksimal.

2. Standarisasi mutu buah rambutan
Dengan keanekaragaman varietas rambutan saat ini, diperlukan acuan klasifikasi yang terkait dengan ukuran keseragaman buah berdasarkan berat dan mutu buah. Klasifikasi SNI 02-3210-1992 berdasarkan ukuran berat buah rambutan sebagai berikut : 1) Mutu I (besar); dan 2) Mutu II (kecil). Rambutan binjai - Mutu I, maksimum 20/kg dan Mutu II > 20/kg, rambutan lebak bulus - Mutu I, maksimum 35/kg dan Mutu II > 35/kg, rambutan rafiah - Mutu I, maksimun 30/kg dan Mutu II > 30/kg, rambutan Simacan - Mutu I, maksimum 40 dan Mutu II > 40/kg. Sedang klasifikasi SNI 01-3210-1992 berdasarkan persyaratan mutu buah rambutan sebagai berikut : Mutu I dengan kriteria : jenis dan ukuran buah seragam, tingkat kesegaran tergolong segar, tingkat ketuaan/kematangan buah tepat, tidak ada buah cacat dan busuk, pangkal tangkai dalam bentuk ikatan dengan panjang 10 cm dan dalam bentuk buah lepas maksimum 0,5 cm, tidak ada kadar kotoran dan tidak ada serangga hidup maupun mati. Mutu II dengan kriteria : jenis buah seragam, ukuran buah kurang seragam, tingkat kesegaran tergolong kurang segar, tingkat ketuaan/ kematangan buah kurang tepat, tidak ada buah cacat dan busuk, pangkal tangkai dalam bentuk ikatan dengan panjang 10 cm dan dalam bentuk buah lepas maksimum 0,5 cm, tidak ada kadar kotoran dan tidak ada serangga hidup maupun mati. Sedang klasifikasi kadar vitamin C pada rambutan ditetapkan berdasarkan skala Wenkam Miller dengan ketetapan sebagai berikut : 1) Tinggi, bila mengandung lebih dari 40 mg/ 100 gram daging buah; 2) Baik, bila mengandung 25-40/ 100 gram daging buah; 3) Sedang, bila mengandung 20-25/ 100 gram daging buah; 4) Kurang,.bila mengandung kurang dari 20 gram/ 100 gram daging buah.

3. Pengemasan. Agar buah tidak rusak maka kemasan harus diperhatikan, Karena harga jual selain dipengaruhi oleh mutu (tingkat kerusakan rendah) dan rasa buah, juga dipengaruhi oleh penampakan/kemasan dan cara pengikatan buah. Jika dijual tidak jauh dari lokasi panen, rambutan cukup diikat, dimasukkan dalam keranjang buah atau karung dan diangkut dengan kendaraan. Untuk pengiriman jarak jauh (antar pulau) yang membutuhkan waktu 2-3 hari, pengemasan rambutan sebaiknya menggunakan peti kayu.

Tujuan dan volume ekspor
Menurut data Bappenas tahun 2005, tujuan ekspor rambutan Indonesia adalah Hongkong (1.518 kg) senilai US $ 759, Taiwan (2.211 kg) senilai US $ 1.480, China (2.814 kg) senilai US $ 2.250, Saudi Arabia (29.490 kg) senilai US $ 13.772, Uni Emirat Arab (53.340 kg) senilai US $ 49.580, Qatar (1.630 kg) senilai US $ 815, Bahrain (853 kg) US $ 808, Inggris (527 kg) US $ 4.332, Belanda (81.494 kg) senilai 18.765, Perancis (2.037 kg) senilai US $ 7.723, Jerman (7.439 kg) senilai US $ 11.447 dan Andora (224 kg) senilai 112.

Perusahaan yang bergerak di bidang komoditi rambutan
Beberapa perusahaan eksportir rambutan yang ada di Indonesia adalah : 1) PT. Masindo Mitra Mandiri, Jl Nangka No. 10 Tanjung Barat, Jkt-Selatan, Telp.021-7804304/Fax. 021-78835603; Emeralad Traiding Inc, Jl. Kopo No.43, Bandung, Telp. 022-5230166; PT Ceremai Sakti Jaya, Jl. Lingkungan III No.31 Tegal Alur, Jkt-Barat, Telp. 021-5329753; PT Agro Indo Usaha Jaya, Jl. H.Buang No.24 RT 07/07 Ulujami, Jkt-Selatan, Telp. 021-7355687/ Fax. 021-8011773. PT Alindo Jaya Pratama, Jl. Kemandoran V/10, Kebayoran Lama, Jkt-Selatan, Telp. 021-5329753/ Fax. 021-5308147; dan PT Buatama Indojaya, Jl. Petojo Baru Gg.IV No.4, Jkt-Pusat, Telp. 021-8750171/ Fax. 021-8322965.

Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian). Sumber : Standar Prosedur Operasional (SPO) Rambutan Kabupaten Subang, Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2005; Vademekum Rambutan, Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2006.