RSS
Syndicate content

Pemasaran Gambir (Uncaria gambir Hunt)

Gambir merupakan salah satu komoditaas perkebunan yang sebagian besar dihasilkan dari Sumatera Barat yaitu lebih dari 80% produksi dan ekspor gambir Indonesia berasal dari Sumatera Barat. Permasalahan sampai saat ini produktivitas dan kualitas gambir yang dihasilkan oleh petani masih rendah, karena teknik budidaya dan pengolahan hasil yang dilakukan umumnya masih sederhana. Pasar gambir sudah berkembang dan tersebar di beberapa tempat baik di Kabupaten Lima Puluh Kota maupun di Kabupaten lain seperti Kabupaten Pesisir Selatan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh petani dalam memasarkan produknya adalah dominasi pedagang kabupaten yang merupakan kaki tangan daripada eksportir gambir. Melalui kaki-tangannya di daerah, membuat pedagang pengumpul dan petani lainnya tidak berperan Penentuan harga di pasar gambir lebih didominasi oleh kaki-tangan pedagang besar (eksportir), walaupun pembelinya banyak, tetapi tetap saja tidak berlaku hukum penawaran dan permintaan. Praktek yang terjadi adalah pengaturan pembelian secara bergilir atau sebangsa arisan di antara pedagang desa oleh kaki tangan pedagang besar dengan harga yang telah ditentukannya. Selain itu tempat penampungan (gudang) gambir rata-rata dimiliki oleh pedagang besar yang berpusat di kota Padang.

Pemasaran melalui pedagang pengumpul
Sampai saat ini petani masih menjual gambirnya ke pedagang pengumpul dengan alasan lebih praktis dan harganya tidak jauh berbeda dengan harga di pasar lokal, berarti lebih menguntungkan karena tidak mengeluarkan biaya ongkos angkut, komisi dan sebagainya bila dibawa ke pasar gambir. Apalagi petani tidak memiliki akses ke pasar dan pedagang besar selalu mempermainkan harga gambir. Biasanya pedagang pengumpulkan gambir tersebut dalam waktu satu sampai dua minggu untuk mendapatkan gambir dalam jumlah tertentu dari petani, untuk diangkut ke kota Medan dan selanjutnya dari kota Medan di ekspor ke Singapura atau ke India.

Masalah pemasaran
Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa permasalahan sistem dan usaha agribisnis gambir adalah sangat mendasar, baik masalah hulu maupun hilir yang memerlukan pemecahan secara terpadu dan konsisten, terutama sekali masalah permodalan dan pemasaran yang perlu dicari pemecahannya dalam waktu dekat. Hasil identifikasi permasalahan modal/ pemasaran dan alternatif pemecahan masalah.


Pasar domestik
Pasar domestik utama gambir terdapat di Sumatera dan Jawa. Gambir yang berasal dari Sumatera Barat selain dipasok untuk konsumsi lokal di Wilayah Sumatera dikirimkan ke beberapa daerah di Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ekspor
Untuk ekspor gambir Indonesia sebagian besar berasal dari Sumatera Barat dan sebagian kecil dari Sumatera Selatan dan Bengkulu. Dengan 80 % pangsa pasar gambir dunia yang dikuasai, Indonesia termasuk Negara pengekspor gambir terpenting di dunia. Berdasarkan data BPS (2008), ekspor gambir Indonesia pada tahun 2006 mencapai sekitar 8.000 ton dengan nilai US$ 8,3 juta. India merupakan negara pengimpor gambir Indonesia terbanyak yaitu sekitar 84% dari total gambir yang diekspor. Negara pengimpor gambir lainnya yaitu Pakistan, Nepal dan Banglades, Hongkong, Italia, Korea, Jepang, Malaysia, Nepal, Perancis, Singapura, Sudan, Taiwan, Thailand, Uni Emirat Arab dan Yaman.
Walaupun Indonesia merupakan pengekspor gambir utama di dunia, namun volume dan nilai ekspor gambir Indonesia mengalami fluktuasi dan tidak seluruh ekspor gambir ke negara tujuan menunjukan kondisi stabil ataupun pertumbuhan yang baik setiap tahunnya. Penyebab utama kondisi tersebut dipengaruhi oleh kondisi mutu produk gambir yang rendah sehingga harga di pasar juga menjadi rendah. Volume dan nilai ekspor gambir Indonesia mengalami fluktuasi yaitu fluktuasi harga yang sangat besar, misalnya pada bulan Februari 2003 harga gambir ditingkat petani hanya berkisar Rp 5.000/kg akan tetapi pernah pula mencapai angka Rp 20.000/kg pada tahun 1998. Harga tiap kg dalam USD yang terendah dicapai pada tahun 1998 yaitu 1.46 USD dan tertinggi tahun 1997 yaitu 2.91 USD. Fluktuasi harga yang terjadi itu sebagian besar disebabkan rantai pemasaran yang cenderung kurang transparan.

Prospek pasar yang menjanjikan
Gambir mempunyai potensi pengembangan yang sangat besar, bila dilihat dari potensi produksi, pemasaran pada pasar domestik dan ekspor. Laju pertumbuhan ekspor gambir yaitu 33,45 persen dari segi volume dan 44,37 persen dari segi nilai selama periode 1991 sampai 1995. Pada tahun 2002 dan 2005 volume ekspor gambir secara berturut-turut 10.620 ton dan 14.704 ton. Berdasarkan data BPS (2008), ekspor gambir Indonesia pada tahun 2006 mencapai sekitar 8.000 ton dengan nilai US$ 8,3 juta. India merupakan negara pengimpor gambir Indonesia terbanyak yaitu sekitar 84% dari total gambir yang diekspor.


Oleh : Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian, email : yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/...dan dari berbagai sumber
Sumber gambar: http://mjptrade.files.wordpress.com/2010/...