RSS
Syndicate content

PEMASARAN BUAH MELON

Saat ini masyarakat sudah semakin menyadari akan pentingnya mengkonsumsii buah-buahan. Hal ini terlihat antara lain dengan semakin banyaknya para pedagang buah di pasar-pasar tradisional, swalayan bahkan di pinggir-pinggir jalan raya. Namun ketersediaan buah-buahan sering belum seiring dengan permintaan masyarakat. Pada suatu saat terjadi produksi yang melimpah sehingga harga menjadi sangat murah, namun pada saat yang lain terjadi kelangkaan buah di pasar sehingga harga menjadi mahal dan sulit mendapatkannya. Dari segi pemasaran, harga melon tidak dibatasi dengan harga dasar sehingga naik turunnya harga betul-betul dipengaruhi oleh pasar dan sedikit atau banyaknya permintaan dan pengadaan. Bila petani mengabaikan situasi dan kondisi pasar dan tidak membuat pola tanam yang tepat (panen dilakukan pada saat buah melon melonjak di pasar ) maka petani akan dipermainkan oleh harga yang memang selalu fluktuatif.

 

Tata Niaga (perdagangan) Melon.
Perjalanan buah melon dari petani sampai ke konsumen ternyata harus melewati suatu system pemasaran yang tidak sederhana. Rantai pemasaran buah melon dapat digambarkan sebagai berikut :
1).Petani  Pasar  Konsumen atau 2) Petani  Pedagang pengumpul  Pasar  konsumen, bisa juga 3) Petani  Pengumpul lokal  Pengumpul besar  Pasar  Pengecer  konsumen atau 4) Petani melalui koperasi/ Asosiasi  Pabrikan  Pengecer  konsumen.
1. Dari Petani ke Pengumpul atau Pasar ,
Sebelum buah melon di panen, petani sudah didatangi oleh pedagang pengumpul . Di lokasi penanaman terjadi tawar menawar. Bila pasar sedang kekosongan buah, buah yang belum waktunya masa petik sudah ditawar dengan harga lumayan tinggi untuk ukuran petani . Bila sudah ada kesepakatan harga, saat itu juga pemanenan dilakukan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas melon ketika berada di pasaran. Namun bila ketersediaan buah cukup banyak dipasaran maka harga melon di sawah berdasarkan system tebas ( pembayaran per petak), yang jika sudah waktunya dipetik baru dilakukan pemanenan, sehingga petani segera mengetahui pendapatannya
Selain ke pedagang pengumpul, petani juga menjual melonnya langsung ke pasar yaitu ke pasar umum, pasar induk dan pasar swalayan
Pasar umum,
Pasar tradisional yang ada di setiap desa atau kota. Pasar tradisional di kota menghendaki kualitas melon yang lebih baik dan jumlah yang lebih banyak dibanding pasar di desa.


Pasar Induk,
Merupakan pusat penampungan produk melon sebelum diditribusikan ke pasar umum atau ke pengecer. Pada umumnya pasar induk berada di kota besar, seperti pasar induk Kramat Jati di Jakarta Timur. Di pasar ini akan terjadi transaksi harga antara petani/ pedagang pengumpul dengan pedagang besar/ agen/pemilik kios. Buah melon dari desa yang diangkut dengan truk, sampai di pasar induk langsung menuju ke penampung (pedagang pengumpul besar) atau ke kios. Sementara melon diturunkan dari truk para pembeli langganan agen (pengecer) sudah siap mengambil barang dagangannya. Pedagang di pasar induk atau pedagang pengumpul besar/ agen hanya membantu menjualkan bukan membeli buah kiriman petani/ pedagang pengumpul daerah/lokal. Pembayaran dari agen ke petani/ pedagang pengumpul lokal tidak dilakukan langsung tapi dibayarkan pada pengiriman berikutnya. Hasil penjualan tidak diterima bersih tapi dipotong 10 % untuk agen, tenaga bongkar muat, pajak, keamanan dan transportasi.
Selain petani mengirim ke pasar induk, ada juga agen yang mencari buah melon ke desa-desa . Bila system seperti ini biasanya biaya transportasi, tenaga bongkar muat, penyusutan ditanggung oleh agen/ pengumpul.


Pasar Swalayan,
Penjualan ke pasar swalayan bisa memberikan kepastian kepada petani karena ada kontrak jual - beli. Hanya saja harga didasarkan pada kesepakatan dan mempunyai standar mutu. Keuntungannya, bila harga jual jatuh, petani tidak menanggung kerugian. Sebaliknya bila terjadi lonjakan harga, petani tidak bisa menerima harga diatas harga yang sudah disepakati. Selain itu pembayarannya berdasarkan buah yang laku terjual. Buah yang tidak laku dikembalikan kepada petani. Sistem pembayaran berdasarkan kesepakatan , bila ada pelanggaran, masing-masing pihak akan dikenakan sangsi sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati.
Dari Petani langsung ke Konsumen,
Penjualan langsung ke konsumen, petani melakukan seleksi buah untuk menentukan konsumennya . Bila lokasi pertanaman berada di dekat jalan raya, maka konsumen yang dijadikan sasaran adalah konsumen yang memiliki kendaraan bermotor dan mutu melon yang ditawarkan adalah mutu A.. Cara penawaran lain ditawarkan langsung kepada konsumen dengan mengangkut melon mutu A dengan kendaraan pribadi . Lokasi yang dipilih adalah kawasan elite atau ke mall - mall (swalayan ). Sedang petani yang bermodal kuat dapat membuka kios buah di pasar yang konsumennya kelas menengah keatas maupun kelas menengah kebawah, dengan menjual melon mutu kelas A, B dan C.
Ditulis kembali oleh Asia ( Penyuluh BPPSDMP)
Sumber Informasi :
Bertanam melon, Setiadi dan Parimin SP 2001.