RSS
Syndicate content

Pedoman Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu(3)

Sumber Gambar: www.google.com
Pemupukan dilakukan 2 kali. Untuk paket 1 dan paket 2 pemupukan yang dilakukan adalah pemupukan berimbang dengan penambahan pupuk organik. Pupuk organik dapat berupa blothong, limbah ternak, kompos atau pupuk organik buatan dengan dosis 5 ton/ha. Pemupukan pertama (pupuk dasar) dilakukan saat tanam dengan dosis sesuai dengan dosis rekomendasi PG tersebut. Pemupukan kedua diberikan dengan dosis yang didasarkan pada hasil analisa daun menggunakan Perangkat Uji Hara Tebu (PUHT), dimana analisa daun di lapang dilakukan pada umur sekitar 2 bulan setelah tanam.
Untuk RC/ratoon Cane/rawat ratoon (paket 3), pemupukan dilakukan setelah pedhot oyot. Pemupukan pertama dilakukan 2 minggu setelah kepras dengan dosis rekomendasi PG setempat. Pemupukan kedua diberikan dengan dosis yang didasarkan pada hasil analisa daun menggunakan Perangkat Uji Hara Tebu, dimana analisa daun di lapang dilakukan pada umur sekitar 2 bulan setelah tanam. Untuk juring ganda, dosis pupuk yang diberikan harus disesuaikan dengan populasi setelah melalui uji hara tanah dan tanaman.Pembumbunan untuk bongkar ratoon dilakukan 3 kali, sedangkan untuk rawat ratoon dilakukan minimal 2 kali. Pembumbunan pertama dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua, tanah sekedar untuk menutupi pupuk. Pembumbunan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 3 - 3,5 bulan.
Pengairan pada bongkar ratoon dan rawat ratoon tanaman tebu memerlukan pengairan yang sesuai kebutuhan sampai berumur 4 bulan, terutama pada musim kering, penambahan mulsa dan bahan organik dapat digunakan untuk menguranginpengaruh keterbatasan air, drainase disesuaikan dengan kondisi lahan untuk mencegah genangan.
Pengendalian OPT pada tanaman tebu untuk hama dan penyakit tanaman tebu. Hama tanaman tebu terdiri dari penggerek pucuk, uret, dan penggerek batang bergaris. Penggerek Pucuk (Triporyza venella F) adalah hama yang menyerang tanaman tebu umur 2 minggu sampai umur tebang berupa lubang-lubang melintang pada helai daun yang sudah mengembang. Pengendalian dilakukan dengan memakai pestisida nabati dan agensia hayati atau dengan insektisida yang bersifat sistematik. Uret ( Lepidiota stigma F) adalah hama yang menyerang perakaran dengan memakan akar dengan gejala seperti kekeringan. Jenis uret lain yang menyerang tebu yaitu Leucopholis rorida, Psilophis sp dan Pachnessa nicobarica. Pengendalian dilakukan secara mekanis dengan menangkap kumbang pada sore/malam hari dengan perangkap lampu biasa, atau dengan pegolahan tanah untuk membunuh larva uret, penanaman menghindari musim serangan uret (Juni-Juli) atau dengan agensia hayati (Metarrhyzium atau Beauveria bassiana). Penggerek batang bergaris (Proceras saccharriphagus Boyer), penggerek batang berkilat (Chilotraea auricilia Dudg), penggerek batang kuning (Chilotraea ifuscatella Sn), penggerek batang abu-abu (Eucosma schistaceana Sn); penggerek batang bergaris adalah penggerek batang yang paling sering ditemukan disemua kebun tebu, menyerang tanaman berumur 3 - 5 bulan atau kurang dan dapat menyebabkan kematian. Pada tanaman tua menyebabkan kerusakan ruas-ruas batang dan pertumbuhan ruas diatasnya terganggu sehingga berat dan rendemen menjadi turun. Pengendalian dengan insektisida yang sesuai. Cara lain dengan biologis menggunakan parasitoid telur Trichogramma sp dan lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis). Secara mekanis dengan rogesan. Kultur teknis menggunakan varietas tahan, atau cara terpadu dengan memadukan 2 atau lebih cara-cara pengendalian tersebut.
Penyakit pada tanaman tebu adalah penyakit mosaik, penyakit busuk akar, penyakit blendok, dan penyakit pokkahbung. Penyakit mozaik disebabkan oleh virus dengan gejala serangan pada daun terdapat noda-noda atau garis-garis berwarna hijau muda, hijau tua, atau klorosis yang sejajar dengan berkas-berkas pembuluh kayu. Gejala ini jelas pada daun muda. Pengendalian dilakukan dengan menanam jenis tebu yang tahan, menghindari infeksi dengan menggunakan bibit sehat, dan pembersihan lingkungan. Penyakit busuk akar disebabkan oleh cendawan Phythium sp. Penyakit ini banyak terjadi lahan yang drainasenya kurang sempurna. Akibat penyakit ini, akar tanaman menjadi busuk, sehingga tanaman mati dan tampak layu. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menanam varietas tahan dan dengan memperbaiki drainase lahan.

( Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP / Sumber: Pedoman Umum Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kemtan 2013)