RSS
Syndicate content

Pedoman Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu(2)

Sumber Gambar: www.google.com
Teknologi budidaya tebu yang diterapkan di lahan petani disesuaikan dengan kondisi di setiap wilayah dan permasalahan yang ada di setiap lahan, yang meliputi kegiatan sejak persiapan lahan hinga panen dan pasca panen tebu. Hasil panen tebu juga akan diui kadar gulanya dengan alat bantu hasil rekayasa teknologi alsintan.Teknologi yang akan diterapkan terdiri dari 3 paket teknologi masing-masing 1 ha sebagai berikut: Paket (1) meliputi bongkar ratoon (Plant Cane atau PC) dengan cara tanam juring ganda dan paket budidaya intensif. Kegiatan dari paket 1 meliputi bongkar ratoon, persiapan lahan, penyiapan bahan tanaman, penanaman, penyulaman, pengaturan jumlah anakan, pengendalian gulma 2-3 kali, pemupukan (2 kali), pembumbunan (3 kali), pengairan (sesaui kebutuhan), pengendlian OPT (sesuai kebutuhan), klenthek (3 kali), panen dan pasca panen; Paket (2) terdiri dari Bongkar ratoon (PC) dengan cara tanam jurung tunggal dan paket budidaya insentif. Kegiatan paket teknologi ini meliputi bongkar ratoon, persiapan lahan, penyiapan bahan tanaman, penanaman, penyulaman, pengaturan jumlah anakan, pengendalian gulma 2-3 kali, pemupukan (2 kali), pembumbunan (3 kali), pengairan (sesaui kebutuhan), pengendlian OPT (sesuai kebutuhan), klenthek (3 kali), panen dan pasca panen; Paket (3) terdiri dari Rawat ratoon. Kegiatan paket teknologi ini meliputi pengeprasan, pedhot oyot, penyulaman, pengaturan jumlah anakan, pengendalian gulma 2-3 kali, pemupukan (2 kali), pembumbunan (3 kali), pengairan (sesaui kebutuhan), pengendlian OPT (sesuai kebutuhan), klenthek (3 kali), panen dan pasca panen.
Bongkar ratoon pada paket 1 dan paket 2 dilakukan pada tebu yang telah di ratoon lebih dari dan atau 3 kali. Teknik bongkar ratoon dilakukan secara mekanis atau manual, tergantung ketersediaan sarana. Lahan bekas bongkar ratoon berubah status menjadi lahan PC selanjutnya mendapat perlakuan seperti pada PC.
Persiapan lahan (paket 1 dan paket 2) terdiri dari pembajakan dan penggaruan, pembuatan juring, pembuatan saluran air/drainase keliling, mujur, dan malang.
Bahan tanaman yang digunakan adalah benih unggul tebu yang direkomendasikan PG setempat (bagal/bud sett/bud chip atau G2) yang sudah siap untuk ditanam di kebun Tebu Gilling (KTG). Bagal yang digunakan adalah bagal 2 mata. Pemilihan varietas harus sesuai dengan lokasi, tipe iklim dan jenis tanah dan disesuaikan dengan "konsep penataan varietas" yang mengacu pada: kesesuaian tipologi wilayah, rencana tebang sesuai sifat kemasakan, optimalisasi dan dinamisasi potensi varietas. Komposisi varietas merupakan perbandingan luas tanamn yang bersifat masak awal, masak tengah, masak akhir secara umum adalah 30 : 40 : 30 atau disesuaikan denga kondisi di masing-masing wilayah. Bahan sulaman disiapkan di dalam polibag dan ditanam pada setiap juring sesuai kebutuhan (disiapkan sebanyak 10 % dari jumlah benih yang dibutuhkan). Pada lahan yang diketahui terserang mozaik virus, sebelum penanaman dianjurkan melakukan perlakuan benih berupa perendaman dengan air panas/Hot Water Treatment (HWT); benih direndam pada bak air panas (50 ºC) selama 7 jam kemudian direndam dalam bak air dingin (suhu kamar) selama 15 menit. Selain itu benih harus sehat dan bersih dari kotoran. Pisau pemotong atau mata pisau pada mesin pemotong yang digunakan harus dicelupkan kedalam larutan Lisol 20% setiap 3 - 4 kali pemotongan bibit.
Bahan tanaman untuk rawat ratoon adalah bibit ‘seblangan' yang diggunakan untuk penyulaman. Varietas dan umur bibit seblangan harus sama dengan tanaman rawat ratoon, yaitu bibit yang diambil dari tanaman yang telah tumbuh dan diambil jika tanaman sudah berumur 16-18 hari atau yang telah bermata tunas dua. Selain bibit seblangan dapat juga menggunakan bibit dalam polybag yang telah disiapkan sebelumnya.
Waktu tanam di setiap wilyah harus disesuaikan dengan masa giling pabrik dan umur varietas yang akan ditanam. Penanaman dilakukan dengan waktu tanam optimal yaitu (a) pola A pada awal musim kemarau yaitu sekitar bulan Mei - Agustus; (b) pola B pada musim hujan yaitu sekitar September - November. Penanaman menggunakan sistem juring ganda (paket 1) atau juring tunggal (paket 2). Pada kondisi tanah kering, bibit ditanam dengan cara memasukan ke dalam lubang tanam sehingga seluruh bagian bibit tertutup tanah, sedangkan pada kondisi tanah basah, maka bibit diletakkan di atas tanah sehingga bibit masih terlihat.
Penyulaman harus dilakukan bila dalam barisan tanaman tebu terdapat lebih dari 50 cm areal yang kosong (tidak ada tanaman tebu yang tumbuh). Penyulaman dilakukan pda umur 4 - 5 minggu pada paket 1 dan 2 dan umur 16 - 18 hari pada paket 3. Penyulaman sebaiknya dilakukan menjelang musim hujan. Bahan untuk sulam adalah bibit tanaman yang sama varietas dan sama umurnya dengan tanaman yang akan disulam. Untuk PC menggunakan bibit dederan. Untuk RC menggunakan bibit seblangan atau bibit dalam polybag. Jumlah anakan sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 10 batang/rumpun agar tidak terlalu padat.
Pengendalian gulma dilakukan secara mekanis sebanyak 2-3 kali dengan interval 4 minggu atau secara kimia dengan herbisida (penyiangan dengan herbisida dilakukan jika gulma masih belum terkendali dengan manual). Sejak awal penanaman sampai umur 4 bulan harus bebas gulma. Jika sampai umur 4 bulan masih terdapat gulma, maka harus disiang secara manual, tidak dengan herbisida.
(Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP/ Sumber: Pedoman Umum Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kemtan 2013)