RSS
Syndicate content

Pedoman Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu

Sumber Gambar: www.google.com
Percepatan penerapan teknologi tebu terpadu merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas tebu dan rendemen gula nasional yang diharapkan berdampak terhadap peningkatan produksi gula nasional tahun 2014. Dukungan inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan dalam model pengembangan tebu terpadu dilakukan dengan mengintegrasikan antara lain penggunaan bahan tanaman unggul, sistem tanam ‘juring ganda', penetapan dosis pupuk berdasar uji hara tanah dan tanaman, penggunaan pupuk organik serta penguatan kelembagaan yang sudah ada di seluruh wilayah pengembangan tebu. Dalam rangka memperlancar dan konsistensi pelaksanaan kegiatan di lapangan, maka perlu untuk menyusu pedoaman yang bersifat teknis sebagai acuan.
Budidaya tebu rakyat meliputi areal sekitar 250 ribu ha yang melibatkan 900 ribu rumah tangga petani dengan jumlah tenaga kerja 1,3 juta orang. Seiring dengan peningkatan konsumsi gula nasional yang diperkirakan mencapai 5,7 juta ton pada 2014, maka terjadi gap suplai akibat kurang mencukupinya produksi gula dalam negeri. Untuk memenuhi kekurangan memenuhi kekurangan suplai tersebut pemerintah terpaksa melakukan impor raw sugar untuk menhasilkan gula rafinasi yang dikhususkan memenuhi kebutuhan indrustri makanan dan miuman nasional.
Di sisi lain budidaya tebu rakyat dinilai masih kurang efisien dan optimal dengan tingkat produktivitas tebu dan rendemen gula yang rendah, jauh dari pencapaian di negara produsen gula lainnya. Rata-rata produktivitas tebu dan rendemen gula nasional hanya 72 ton/ha dengan rendemen 7,69% (DGI, 2012), sementara potensi produktivitas tebu bisa mencapai 120 ton/ha dengan rendemen gula di ats 9%.
Gambaran ini menunjukkan upaya pemenuhan kebutuhan gula nasional yang telah dilakukan pemerintah masih harus terus dilakukan dengan tidak hanya usaha membangun industri gula nasional, penambahan pabrik gula, peremajaan atau perluasan areal tetapi juga melalui percepatan penerapan inovasi teknologi. Kondisi demikian makin diperlukan karena upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi gula melalui kebijakan program ekstensifikasi mengalami hambatan akibat keterbatasan ketersediaan lahan dan kompeteisi peruntukan lahan denagn kepentingan lain.
Percepatan penerapan teknologi tebu terpadu meruapakan salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas tebu dan rendemen gula nasional yang diharpakan akan berdampak terhadap peningkatan produksi gula nasional secara nyata untuk mencapai swsembada gula nasional tahu 2014. Dukungan inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan dalam model pengembangan tebu terpadu dilakukan dengan mengintegrasikan antara lain penggunaan bahan tanaman unggul hasil kultur jaringan, sistem tanam juring ganda dan penggunaan pupuk organik, serta penguatan kelambagaan yang sudah ada di seluruh wilayah pengembangan tebu.
Tujuan dari pembuatan pedoman ini adalah mempercepat penyampaian inovasi teknologi di 11 propinsi sentra produksi tebu melalui pengembangan model pendampingan dan penerapan inovasi teknologi budidayatebu guna meningkatkan produktivitas tebu dan rendemen gula yang diharapkan dapat secara nyata mendukung pencapaian swasembada gula nasional 2014.
Sasaran pokok dari kegiatan percepatan penerapan teknologi tebu terpadu ini antara lain adalah: (1) Peningkatan kesadaran petani untuk menggunakan varietas unggul tebu yang tepat; (2) Penerapan inovasi teknologi budidaya dan pasca panen yang optimal untuk meningkatakan produktivitas dan rendemen; (3) Penguatan kelembagaan petani. Keberhasilan percepatan penerapan teknologi tebu terpadu dicerminkan oleh: (1) Meningkatnya penggunaan varietas unggul; (2) Bertambahnya petani tebu yang memahami dan menerapkan teknologi budidaya tebu; (3) Meningkatnya komponen teknologi budidaya dan pascapanen tebu yang diterapkan oleh petani; (4) Meningkatnya produktivitas dan rendeman tebu di tingkat petani; (5) Berkembangnya kelembagaan petani; (6) Meningkatnya pendapatan petani.
Ruang lingkup percepatan penerapan teknologi tebu terpadu meliputi sasaran kegiatan dan teknologi alternatif yang akan diterapkan. Sasaran kegiatan adalah petani tebu rakyat yang ada di 11 propinsi penghasil utama tebu yang mencaku 23 kabupaten. Kegiatan dilakukan disetiap lokasi terpilih seluas 1-4 ha dalam hamparan 5-20 ha yang melibatkan 1-2 kelompok tani dan beranggotakan 5-40 petani. Kegiatan diutamakan pada lahan kering atau laha tadah hujan yang mudah mendapatkan akses pengairan da pupuk organik.
( Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP / Sumber: Pedoman Umum Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3), Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kemtan 2013)