RSS
Syndicate content

PANEN DAN PASCA PANEN SAPI CHAROLAIS

Usaha peternakan yang bergerak di bidang penggemukan sapi potong perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1. Lama/waktu yang digunakan untuk menggemukkan sapi potong berkisar antara 3-6 bulan sesuai umur dan kondisi sapi pada waktu mulai penggemukan
2. Minimal satu bulan terakhir sebelum dipasarkan dari pemberian ransom konsentrat ditingkatkan dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa dan penggunaan anti biotik dan chemotropic diharapkan memperhatikan withdraw (waktu henti obat).
3. Dilarang memperjual belikan daging yang berasal dari sapi potong selama pengobatan anti biotika atau hormon untuk konsumsi manusaia, kecuali apablia ternak tersebut dipotong sesuai ketetuan atau standar Withdrawaltime obat yang digunakan
4. Berat sapi potong siap jual minimal : lokal 250 kg dan persilangan/impor 350 kg
Umur dan berat badan, usia sapi charolasi yang ideal untuk digemukkan adalah mulai 1,5 sampai dengan 2,5 tahun. Disini kondisi sapi sudah mulai maksimal pertumbuhan tulangnya dan tinggal mengejar penambahan massa otot (daging) yang secara praktis dapat dilihat dari gigi yang sudah cukup bagus. Pada di usia ini sudah muncul gejala fatt (perlemakan) dan pada usia di bawah usia ideal penggemukan biasanya lebih lambat proses gemuknya dikarenakan selain bersamaan pertumbuhan tulang dan daging juga sangat rentan resiko penyusutan serta labil proses penambahan berat disebabkan adaptasi tempat yang baru, pergantian pola pakan dan teknis perawatan serta penyakit. Variable berat tubuh, sapi tergantung dari jenis ras sapi yang akan kita pelihara. Sapi jenis charolais dan Simmental maupun silangannya dengan PO kala umur 1,5 tahun sudah berbobot rata-rata 350-400 kg, sedang sapi PO murni hanya kisaran 185-275 kg. naha dari sini nantinya kita akan mulai berhitung tentang teknis penilaian ideal mengukur system pemeliharaaan dan transaksi jual beli.
Masa pemeliharaan, sapi yang akan digemukkan dengan masa panen jangka pendek (k.1 100 hari) pilihlah jenis charolais, karena sapi tersebut akan mampu bertambah minimal 100 kg saat panen. Namun kalau yang diinginkan masa panen jangka menengah dan panjang (k.1 250 hari hingga lebih dari 1 tahun) disarankan bahwa 350 kg. kebanyakan peternak yang berpola seperti ini biasanya untuk investasi, pemurnian genetic induknya atau bahkan sebagai hewan kesayangan (kalangan jawa red) muncul satu pertanyaan yang menggelitik; lebih untung pola yang mana?
Perhitungan harga, sapi untukpemeliharaan jangka menegah (k.l 250 hari) dengan berat di bawah 300 kg rata-rata masih belum dapat mencapai rendaman karkas lebih dari 49%. Sehingga apabila ingin dijual, pembeli barunya biasanya masih akan meneruskan penggemukannya lagi. Jika kita analisa, sapi F1 umur 5-8 bulan harga pasaran rata-rata per mei 2009 adalah 7,5 - 10 juta dengan bobot 250-325 kg. Kita ambil tengah-tengahnya saja lalu kita konversikan dengan harga timbang hidup jatuhnya sekitar Rp. 31.000;/kg timbang di pasar.
Kenapa seperti itu ? sapi dengan berat 380-525 kg sekita Rp.24.000/kg (sesuai harga loco di farm kami) adalah untuk kriteria jenis BAKALAN. Jadi di aspek ini kita sudah mulai dapat mengukur standar perhitungan baik umur sapinya, prosentase rendemen karkasnya (berat daging tulang), capaian bobot maksimal, sampai dengan masa panennya. Beda hal yang dengan berat 300 kg ke bawah; karena iitu masih tergolong jenis BIBIT.
Jadi sistem transaksinya mirip seperti di bursa pelelangan yang harganya ditentukan berdasarkan kerelaan penjual dengan kepuasan dan jatuh hati sang pembeli. Maka disistulah kita baru dapatkan harga umum dan rata-rata kepantasan transaski di pasar ataupun di peternak yang ketemunya ternyata di harga Rp.31.000. kita dapat mengukur standarisasi, berapa nanti capaian berat maksimal dan waktu panennya apalagi berapa rendemen karkasnya.
Selain daripada itu, sistem pasar peternakan kita malah sudah tidak ada lagi sertifikasi/surat keteragan bibit saat sapi dijual yang berbeda saat zaman orde baru dulu, ironis memang, sehingga kita pasti akan kesulitan mencari blood link sapi, alamat peternak apalagi cara perawatan dan ransumnya.
Pada prinsipnya apa yang telah diuraikan di atas merupakan faktor pendukung dalam penentuan pasca panen sapi charolais yang dilakukan para peternak sapi charolais. Secara umum pasca panen sapi charolais dapat dilakukan pada dua tahapan yaitu;
a. Pasca panen sapi charolais untuk dijadikan bibit, yaitu pedet atau bibit sapi charolais yang akan dipasarkan sebagai bibit telah mencapai umur lebih kurang 12 bulan - 18 bulan dengan bentuk badan yang sehat dan padat maka telah dapat dipasarkan kepada peternak yang membutuhkannya. Sebaiknya bibit sapi/pedet sapi charolais yang akan dipasarkan sebagai bibit terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan kepada Dinas Peternakan setempat. Sehingga bibit/pedet sapi charolais yang akan dipasarkan sehat dari hama penyakti.
b. Pasca panen sapi charolais untuk dijadikan sapi potong sebaiknya telah berumur lebih kurang 30 bulan dengan berat badan lebih kurang 400 kg. Sebaiknya sapi charolais yang akan dipasarkan sebagai sapi potong terlebih dahulu diperiksa kesehatannya, sehingga jelas sapi charolais bebas dari hama penyakit. Sehingga konsumen yang akan memakan dagingnya terjamin kesehatannya karena daging sapi charolais yang akan dikonsumsi bebas dari hama penyakit
c. Dalam penentuan pasca panen sapi charolais sebaiknya dilakukan sistim panen bergilir artinya pelaksanaan panen atau penjualan sapi charolais baik sebagai bibit ataupun sebagai sapi potong dilakukan secara bergiliran. Sehingga sumber pendapatan peternak terus berkesinambungan di lain pihak pemasaran bibit dan sapi potong charolais berkesinambungan memenuhi kebutuhan konsumen. Berdasarkan itu maka pemeliharaan sapi charolais untuk pengembangan bibit/pedet dan sapi potong dilakukan juga secara berkesinambungan.

Oleh: Dr.H.Ibrahim Saragih/Penyuluh Prtanian
Sumber: Direktorat Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan, 2007, Pedoman Budidaya
Ternak Sapi Potong yang Baik
Direktorat Bina Produksi Peternakan, 1991, Pedoman Standar Bibit Ternak
Indonesia