RSS
Syndicate content

PAKAN SAPI POTONG (SAPI SAHIWAL)

Sumber Gambar: Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/index.php
Semua bangsa sapi dapat digemukkan, namun untuk memperoleh hasil yang baik perlu dipilh bangsa sapi dengan tipe tertentu yaitu tingkat laju pertumbuhannya cepat, dengan hasil dan mutu dagingnya yang bagus. Tipe sapi yang digemukkan ini, lazim disebut dengan sapi pedaging atau sapi potong. Sapi Sahiwal yang berasal dari Punjab, Pakistan ini, merupakan salah satu sapi impor yang berpotensi untuk dikembangkan, karena sapi ini bisa hidup di daerah tropis seperti Indonesia serta mempunyai kemampuan beradaptasi dengan faktor lingkungan (iklim dan pakan) yang tinggi. Agar dapat berproduksi secara optimal, tentunya perlu ditingkatan produktivitasnya, diantaranya melalui perbaikan mutu pakan. Sapi Sahiwal, diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif sumber daging sapi untuk mencukupi kebutuhan daging sapi di dalam negeri. Dipilihnya sapi sahiwal ini, karena selain potensial sebagai penghasil daging yang telah terbukti memiliki keunggulan juga karena kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan tropis dibanding sapi impor lainnya.

Cara penggemukan dan pemberian pakan
Penggemukan sapi baik impor maupun lokal di Indonesia, umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu pengemukan tradisional dan penggemukan secara modern. Penggemukan secara tradisional, yaitu sapi yang sudah terpilih, diikat terus menerus dalam kandang sederhana yang relatif sempit dengan 4 (empat) dinding bambu. Pakan yang diberikan adalah rumput-rumputan dan sedikit konsentrat. Cara ini umumnya kurang menguntungkan karena pertumbuhan sapi lambat. Penggemukan semi modern, cara penggemukan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : 1) Sistim pasture fattening, pada sistim ini sapi dilepas di padang penggembalaan setiap hari. Padang penggembalaan biasanya ada campuran tanaman leguminosa (kacang-kacangan) dan rumput, sehingga sapi tidak perlu diberikan pakan penguat sebagai tambahan dan; 2) Sistim dry lot, sistim ini, sebagian besar pakan dari ransum yang diberikan berasal dari biji-bijian (hasil sampingan pabrik dll). Perbandingan antara hijauan dan pakan penguatbervariasi tergantung pertambahan bobot sapi yang diinginkan serta berapa lama penggemukan akan dilakukan. Pemberian penguat bervariasi antara 0 - 1,2 kg/100 kg bobot badan/ hari. Dalam sistem ini sapi dikandangkan secara berkelompok (berdasarkan awal/umur penggemukan) dalam kandang yang beratap maupun tidak beratap. Cara ini cukup menguntungkan karena sapi dapat tumbuh dengan baik; dan 3) Sistim kombinasi antara pasture fattening dan dry lot fattening, dimana pada saat tertentu sapi diberikan pakan penguat dan pada waktu tertentu pula sapi dilepas di padang penggembalaan. Pakan penguat umumnya juga diberikan pada saat musim kemarau dimana rumput tidak cukup tersedia. Sistim ini cocok diterapkan di daerah Indonesia Timur dimana pada saat kemarau sapi diberi pakan penguat untuk memperbaiki gizinya.

Pakan sapi potong yang baik
Untuk mendapat hasil yang baik, sapi potong harus diberi makan dengan bahan pakan yang baik, sehat dan lazim diberikan untuk ternak potong. Jumlah pakan yang diperlukan sapi, tergantung pada kondisi lingkungan baik untuk kebutuhan hidup maupun untuk berproduksi. Sapi sahiwal merupakan sapi tropis yang mempunyai kemampuan adaptasi lingkungan yang cukup bagus, membutuhkan pakan dan perawatan relatif sedikit. Terlepas dari kondisi lingkungan yang bervariasi, sapi sahiwal membutuhkan unsur-unsur pakan yang memenuhi syarat yaitu protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air. Bahan pakan tersebut antara lain yang berupa : 1) Hasil limbah pertanian (jerami, sisa tanaman jagung, daun pucuk tebu, daun singkong, daun dan batang ubi jalar dan sisa tanaman kacang tanah, kacang kedelai dll); 2) Hasil limbah industri (dedak padi, jagung, tetes tebu, bungkil kelapa, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, biji kapuk dan ampas tahu); 3) Tanaman khusus (rumput gajah, setaria dan kacang-kacangan); 4) Hijauan lain (daun : nangka, pisang, turi, lamtoro, petai cina dan rumput lapangan); dan 5) Bahan lain/tambahan (garam dapur, tepung tulang, mineral dll). Bahan pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk bahan pakan hijuan baik dalam bentuk hijauan segar atau kering. Hijauan segar adalah pakan yang berasal dari hijauan dan diberikan dalam bentuk segar seperti rumput segar, batang dan daun kacang-kacangan segar dll). Hijauan kering adalah pakan yang berasal dari hijauan segar yang dikeringkan baik dengan cahaya matahari atau dengan alat pengering seperti jerami padi, jerami jagung, jerami kacang-kacangan, jerami lainnya dan hay (pakan yang diawetkan).

Ransum sapi potong. Kita kenal beberapa macam ransum sapi potong dan cara pembuatannya yaitu : 1) Ransum dengan bahan utama jerami padi dengan cara pembuatannya sebagai berikut (a) jerami padi dicacah (di potong-potong), kemudian disiram merata dengan campuran air dengan tetes tebu dengan perbandingan 2:1, (b) campuran olahan jerami padi untuk kebutuhan dua ekor sapi selama satu hari yaitu : jerami padi 10 kg, tetes tebu 1,5 kg, air 3 kg dan super fospat 25 gram (1 sendok makan); 2) Ransum dengan bahan utama tongkol jagung (ransum yang dibuat oleh Muller, 1974) sebagai berikut : tongkol jagung 14 kg, tetes tebu 1 kg, bungkil kedele 2,25 kg, tepung tulang 0,18, garam 0,06 dan vitamin A dan D (konsentrat) 0,01.kg; 3) Ransum dengan bahan utama tebu, untuk ransum sapi dengan pertumbuhan (berat badan 50-150 kg) sebagai berikut : a) ampas tahu 2,0 kg, tetes tebu 0,8 kg, pucuk tebu 3,kg. Urea 40 gr, garam dapur 20 gr, tepung tulang 20 gr dan 0 (dua kali dalam wktu 1 minggu) sebanyak 5 gr; dan 4) Ransum untuk sapi dewasa (berat 150 kg - 300 kg) sebagai berikut : a) ampas tahu 2,0 kg, tetes tebu 0,4 kg, pucuk tebu 8,kg. Urea 22 gr, garam dapur 30 gr, tepung tulang 20 gr dan cattle mic (dua kali dalam wktu 1 minggu.5 gr.

Jumlah pemberian pakan. Jumlah pakan yang diberikan pada ternak potong, sebaiknya diperhatikan karena pemberian pakan yang berlebihan, akan menimbulkan pemborosan karena banyak sisa makanan yag tebuang. Sebaliknya, kalau pemberian pakannya kurang, maka ternak akan lapar dan kurus. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam usaha peternakan, adalah pemberian pakan dan minum yang mencukupi pada saat pra panen/panen, hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kondisi ternak tidak terjadi penyusutan bobot badan sebelum dijual.

Oleh : Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian), Sumber : Budidaya Ternak Sapi Potong, Direktorat Jenderal Peternakan (1994); Sapi Potong, Sudarmono, AS dan Bambang Sugeng, 2008, Edisi Revisi.