RSS
Syndicate content

Mengenal Standar Mutu Bibit Sapi Perah FH Unggul Betina

Sumber Gambar: wongkebon.wordpress.com (25/5 2011)

Untuk mendapatkan produksi susu yang bagus, peternak sapi perah sebaiknya perlu mengetahui dan memahami tentang mutu Bibit Unggul Sapi Perah FH Betina.
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu tenaga kerja dan kebutuhan lainya. Sapi menghasilkan sekitar 50 % (45 - 55 %) kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu dan 85 % kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae, seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa ( Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Zwitzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan. Sapi Friesian Holstein (FH) misalnya terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+6350 kg/th), dengan presentase lemak susu sekitar 3 - 7 %. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahaun, apabila menggunakan bibit unggul, diberi pakan sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m²/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang.

Dalam hal ini, susu sebagai salah satu poduksi peternakan merupakan sumber protein hewani yang semakin dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Sebagai upaya untuk memenuhi kebuthan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktivitas dari sapi perah.
Pada umunya peternakan sapi perah di Indonesia telah dikelola dalam bentuk usaha peternakan sapi perah yang komersial. Oleh karena itu, untuk usaha sapi perah yang dapat menghasilkan produksi susu secara baik/optimal dan dapat memberkan keuntungan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak sapi perah, maka harus menggunakan bibit yang bermutu.

Bibit tipe sapi perah yang lahir dan beradaptasi di Indonesia dan mempunyai ciri serta kemampuan produksi sesuai persyaratan tertentu susu dan menghasilkan anak (pedet). Adapun Standar Mutu Bibit Unggul Sapi Perah FH Betina, sebagai berikut :
A. Standar Umum : 1) Karena bibit sapi perah FH bibit unggul betina merupakan sapi impor, maka sapi perah bibit unggul betina yang dimasukkan harus mempunyai surat keterangan mengerani derajat kemurnian ternak tersubut yang dikeluarkan oleh Asosiasi Breeder sejenis atau badan-badan pemerintah/semi pemerintah swasta yang berwenang; 2) Sapi perah bibit unggul betina tersebut harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti, cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya; 3) Sapi perah bibit unggul betina tersebut harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan.

B. Standar Khusus : 1) Sifat Kualitatif : warna : hitam putih dengan batas warna hitam dan putih yang jelas, sapi tidak berwarna hitam seluruhnya dan tidak mempunyai warna lain selain warna hitam dan putih. Sapi ditolak bila mempunyai cacat warna antara lain : a) salah satu kakinya dilingkari dengan suatu lingkaran penuh yang berwarna hitam dimana lingkaran tersebut menyentuh kukunya; b) ada bercak hitam pada salah satu kakinya yang memanjang mulai dari kukunya dan ke atas sampai batas atau melampaui persendian lututnya; tanduk : tidak bertanduk; bentuk badan : harus menunjukkan penampilan sebagai sapi perah dan mempunyai ambing dengan 4 buah puting susu yang tumbuh serta berfungsi normal, dan jumlah puting susu tidak boleh lebih maupun kurang dari 4 buah; 2) Sifat kuantitatif : tinggi gumba : minimal 120 cm, umur ternak : 20 sampai 24 bulan sudah dalam keadaan bunting 3 - 5 bulan pada saat dikapalkan. Kebutingan sapi harus hasil perkawinan dengan pejantan bibit unggul FH atau sebagai hasil pembuatan dengan mani pejantan bibit unggul FH, dinyatakan dengan surat keterangan, berat badan : minimal 300 kg, Produksi susu : sapi perah FH bibit unggul betina harus berasal dari tetua 2 generasi sebelumnya dengan kapasitas produksi susu minimal 6.000 kg/laktasi 305 hari. Pernyataan produksi susu tersebut harus dikuatkan dengan surat keterangan/sertifikat oleh Lembaga/Organesisa setempat dan resmi diakui oleh Pemerintah Negara yang bersangkutan.

Penulis : Sri Hartati (Pusat Penyuluhan Pertanian )
email : tatik3454@yahoo.com
Sumber : 1) http://infokebun.wordpress.com/2008/06/10/budidaya-sapi-perah/(20/8 2010); 2) Foder Persyaratan Mutu Bibit Sapi Perah Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan 2009; 3) Pedoman Standar Bibit Ternak di Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan 199; http://www.google.co.id/search?client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:of... { wongkebon.wordpress.com (25/5 2011)}