RSS
Syndicate content

Memilih Bibit Sapi Potong Unggul Untuk Penggemukkan

Sumber Gambar: http://produksipemalang.files.wordpress.com
Keberhasilan penggemukan sapi potong sangat tergantung pada pemilihan bibit yang baik dan kecermatan selama pemeliharaan. Bakalan yang akan digemukkan dengan pemberian pakan tambahan dapat berasal dari sapi lokal yang dipasarkan di pasar hewan atau sapi impor yang belum maksimal pertumbuhannya. Sebaiknya bakalan dipilih dari sapi yang memiliki potensi dapat tumbuh optimal setelah digemukkan. Prioritas utama bakalan sapi yang dipilih yaitu kurus, berusia remaja, dan sepasang gigi serinya telah tanggal. Usaha penggemukan sapi bertujuan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan bobot sapi yang dipelihara. Pertumbuhan dan lama penggemukan itu ditentukan oleh faktor individu, ras (bangsa) sapi, jenis kelamin, dan usia temak bakalan.
 

Usaha penggemukan sapi pedaging membutuhkan modal utama, yaitu tersedianya bakalan yang memenuhi syarat secara kontinu. Kemampuan petemak memilih dan menyediakan bakalan secara berkelanjutan sangat menentukan laju pertumbuhan dan tingkat keuntungan yang diharapkan. Laju pertumbuhan temak pada usaha penggemukan terletak pada pemilihan bakalan. Bakalan itu harus dipilih dari sapi yang cepat besar. Untuk sapi ongole, misalnya, dapat dipilih bakalan berbobot 250-300 kg sehingga bobot yang diperoleh setelah digemukkan 70 hari dapat mencapai lebih dari 400 kg. Menurut HBA Farming, banyak jenis sapi bakalan yang dapat dipilih untuk digemukkam Berdasarkan asalnya, sapi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu sapi lokal dan sapi impor.

 

Bakalan Lokal
Di dunia dikenal 3 kelompok sapi yang beranak pinak sebagai hewan ternak, yaitu sapi bali, sapi zebu, dan sapi eropa. Sapi bali merupakan banteng (sapi yang hidup liar di hutan) yang sudah didomestikasi. Keberadaan banteng [Bos sundaicus atau Bos banteng) sampai sekarang masih dapat ditemukan di taman margasatwa Pangandaran (Jawa Barat) dan Meru Betiri (Jawa Timur) serta Taman Nasional Ujung Kulon (Banten). Sapi zebu atau sapi berpunuk (Bos indicus) berkembang di India dan beberapa negara Asia. Ciri khas sapi zebu adalah memiliki punuk di tengkuk dan gelambir (lipatan-lipatan kulit di bawah leher dan perut). Sapi eropa domestik (temakan) yang berkembang di Eropa dan negara-negara subtropis adalah keturunan sapi liar Aurochs (Bos taurus atau Bos prim/genius}.

 

Ciri khas sapi ini adalah berukuran sangat besar, tinggi gelambir dapat mencapai 2 m, punggung datar, dan tidak berpunuk.Kini ketiga kelompok sapi temakan itu telah beranak pinak dalam berbagai ras (bangsa), baik melalui perkawinan sesama kelompok atau antarkelompok (silang). Kawin silang dapat terjadi secara alami atau melalui bantuan manusia. Ragam bangsa sapi ternakan yang ada dan berkembangbiak sebagai binatang ternak dewasa ini adalah keturunan ketiga kelompok sapi tersebut. Ketiga kelompok ternak sapi itu kini sudah berkembang di Indonesia.

 

Walaupun pada awalnya bukan berasal dari Indonesia tetapi sapi sapi tersebut sudah berkembangbiak di Indonesia sehingga dikelompokkan sebagai sapi lokal. Jenis sapi yang dominan dikembangkan masyarakat adalah sapi ongole (keturunan sapi zebu dari India), sapi bali (keturunan langsung banteng) dan sapi madura. Ketiga sapi ini termasuk sapi tropis dengan ciri memiliki telinga panjang dan runcing. Beberapa sapi subtropis dari Eropa juga telah berkembang di Indonesia, terutama di dataran tinggi, seperti sapi FH, Simmental, dan Aberden Angus.

Sumber : B. Sarwono, Harianto Bimo Arianto, 2001, Penggemukkan Sapi Potong Secara Cepat, Jakarta : Penebar Swadya,