RSS
Syndicate content

Memilih Bibit Ayam

Bibit ayam merupakan salah satu faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan dan kelangsungan usaha peternakan. Kesalahan awal dalam pemilihan bibit atau rendahnya kualitas bibit yang dipelihara, akan berdampak jangka panjang yaitu rendahnya produktivitas. Sebaliknya, pemilihan bibit yang baik dan unggul akan memberikan kontribusi dan hasil yang optimal serta menguntungkan bagi usaha peternakan.

Untuk mendapatkan dan memilih bibit unggul ayam petelur yang akan dipelihara, secara umum haruslah memenuhi beberapa syarat. Syarat tersebut antara lain adalah,: a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya; b) Pertumbuhan dan perkembangan normal; c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.

Sedangkan untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)/ayam umur sehari, ada beberapa pedoman teknis, yaitu: a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat; b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya; c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya; d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik; e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram;
f).Tidak ada letakan tinja diduburnya.

Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkriteria baik, tergantung pada 3 hal sbb.:
a. Konversi Ransum.
Konversi ransum merupakan perbandingan antara ransum yang dihabiskan
ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut
dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah
ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada
sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu banyak
dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam
itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu
dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada
berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang
sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi
penjualan bibit ayamnya.

b. Produksi Telur.
Produksi telur sudah barang tentu menjadi perhatian utama. Untuk itu, yang dipilih adalah bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Namun, konversi ransum tetap menjadi pertimbangan utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.

c. Prestasi bibit di lapangan/di peternakan.
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Adalah tidak mungkin memaksakan bibit ayam petelur supaya bertelur lebih banyak, yang melebihi kemampuannya. Atau, mengharapkan ayam petelur mengkonsumsi ransum lebih sedikit dari pada kebutuhannya. Sebagai contoh, prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur diantaranya adalah, a)Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur (hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur.b)Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur (hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.c) Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur (hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur.d).H & W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur (hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur (Inang Sariati).