RSS
Syndicate content

MANFAAT AGROKLIMAT DALAM PERENCANAAN PERTANIAN

Sumber Gambar: http://www.unik-kediri.ac.id
Letak Indonesia sangat strategis karena terletak didaerah tropis diantara dua benua Asia dan Australia serta dua Samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Selain itu Indonesia dilalui garis khatulistiwa yang terdiri dari kepulauan dengan topografi bergunung, berlembah, dan pantai sehingga kondisi iklim dan air-nyapun sangat beragam baik ruang (wilayah) maupun waktu. Adanya pemanasan global, berakibat terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu. Terlebih bila terjadi iklim ekstrim maka akan terjadi fluktuasi unsur iklim yang mempengaruhi penurunan hasil pertanian. Pentingnya iklim bagi sektor pertanian, maka memerlukan institusi yang khusus menangani masalah agroklimat/iklim yang sangat diperlukan dalam perencanaan kegiatan pertanian.
 

Kendala
Kendala yang dihadapi para petani berkaitan dengan agroklimat ini adalah: 1) kurang aktual dan akuratnya data tentang iklim; 2) rusaknya alat pengukur unsur iklim di stasiun iklim/curah hujan; 3) data yang terlambat.

 

Peran agroklimat
Agroklimat dalam kegiatan perencanaan pertanian mempunyai peran yang sangat penting. Dengan agroklimat kita dapat mengetahui tentang: 1) informasi kondisi iklim suatu wilayah; 2) mengetahui kondisi hidrologi suatu daerah; 3) prediksi curah hujan suatu wilayah; 4) sumberdaya iklim suatu wilayah; 5) kalender tanam; 6) kondisi wilayah yang rawan dampak perubahan iklim (daerah pesisir/pantai). Informasi tentang agroklimat ini dapat diperoleh dengan berbagai sarana seperti:

 

Informasi kondisi iklim
Kondisi hidrologi dapat diketahui melalui stasiun klimatologi yang dibangun Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian di tujuh provinsi di Indonesia. Stasiun Klimatologi ini dilengkapi dengan pemasangan alat AWS (Automatic Weather Station) dan AWLR (Automatic Water Level Recorder). Alat dapat untuk mengetahui kondisi iklim dan suhu disuatu wilayah secara otomatis.

 

Prediksi curah hujan
Prediksi curah hujan merupakan cara untuk mengatahui gambaran kondisi curah hujan beberap waktu ke depan. Hal ini penting, karena dengan mengetahui gambaran curah hujan ke depan maka dapat dilakukan berbagai perencanaan yang terkait dengan curah hujan misalnya penyusunan pola tanam, pengaturan irigasi,

 

Sumberdaya iklim
Sumberdaya iklim dapat diperoleh dengan menggunakan sistem database. Sistem ini dikembangkan untuk memperoleh informasi secara cepat tentang iklim meliputi: 1) data iklim berdasarkan jenis parameter, periode waktu dan stasiun yang diinginkan; 2) distribusi iklim/curah hujan; 3) data iklim berdasarkan atuan waktu (harian, dasrian, bulanan dan tahunan). Data iklim ini dapat ditampilkan dalam bentuk grafik, print out maupun file. Semua data dari database ini hasil inventarisasi dari sekitar 2.967 stasiun iklim/curah hujan, kerjasama Balitklimat dengan instansi terkait seperi Bdan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Sistem database dan informasi iklim sangat penting dalam penyusunan perencanaan kegiatan pertanian karena sistem ini menjadi penghubung antara data yang dikumpulkan di lapangan dengan analisis agroklimat yang dilakukan. Dengan cepat dan mudah sistem database ini dapat memberikan informasi iklim suatu wilayah, sehingga dalam penyusunan perencanaan kegiatan pertnaian, dapat lebih mempertimbangkan kondisi iklim daerah yang bersangkutan. Balitklimat telah berhasil membuat atlas sumberdaya iklim Indonesia yang menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia terdapat 21 wilayah/pola curah hujan.

 

Kondisi hidrologi
Untuk mengetahui kondisi hidrologi suatu wilayah dapat dilakukan dengan model analisis air "Water and Agroclimate Resources Management (WARM)". Software tersebut digunakan untuk: 1) mengevaluasi hasil pertanaman; 2) penetapan waktu tanam terbaik untuk komoditas unggulan spesifik lokasi; dan 3) perhitungan volume dan waktu pemberian irigasi suplementer berdasarkan kebutuhan tanaman; 4) mengeahui neraca air tanaman yang spesifik lokasi.


Kalender tanam
Kalender tanam dapat ditunjukkan dalam atlas kalender tanam yang menggambarkan pola dan waktu tanam terutama tanaman pangan berdasarkan skenario anomali dan perubahan iklim serta dinamiika sumberdaya air. Atlas ini menggambarkan kondisi eksisting yang diterapkan petani, juga berdasarkan beberapa fenomena iklim, yaitu tahun basah, tahun normal dan tahun kering. Melalui usaha ini diharapkan resiko kegagalan panen akibat keslahan penentuan waktu tanam dapat diperkecil.

Manfaat agroklimat dalam perencanaan pertanian
Iklim merupakan salah satu komponen sumberdaya lahan pertanian yang sangat penting didalam perencanaan kegiatan pertanian. Hal yang praktis yang dapat diterapkan didalam perencanaan kegiatan pertanian adalah pemanfaatan data agroklimat seperti: 1) informasi prediksi curah hujan didalam penentuan awal musim hujan sebagai referensi penentuan awal musim panen; 2) hasil analisis neraca air WARM didalam memprediksi kebutuhan air tanaman dan menentukan tanggal tanam yang terbaik; 3) atlas kalender tanam pada level kecamatan dapat dipergunakan sebagai masukan bagi para petani untuk menentukan waktu tanam, baik kondisi basah, normal, maupun kering; 4) adanya peta daerah rawan kekeringan dapat menjadi bahan pertimbangan aktivitas pertanian terutama pada musim kemarau.

 

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Jurnal Sumberdaya Lahan, Departemen pertanian 2007; Pengembangan Inovasi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta 2009.