RSS
Syndicate content

HAMA WIJEN DAN PENGENDALIANNYA

Sumber Gambar: http://www.google.co.id

Ada 4 (empat) hama penting yang sering menyerang tanaman wijen yaitu:


1. Trips (trips sp)


a. Ciri-ciri dan bioplogi hama
1) Trips dewasa berukuran kecil, panjang 1,0 - 1,2 mm, berwarna kuning atau coklat cerah, sayapnya berjumbai dilengkapi dengan rambut;
2) Telur berwarna putih, berukuran ± 0,26 mm, diletakkan pada bagianm bawah daun;
3) Daur (siklus) hidup Tripssp. Berlangsungselama 3 -5 minggu


b. Gejala serangan
Trips menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan ndaun atau pucuk dan buah muda. Gejala serangan yang dapat diamati secara visual adalah sebagai berikut:
1) Daun atau pucuk berubah warna dari hijau menjadi kekuning-kuningan atau keperak-perakan, mengkerut, dan akhirnya daun keriting;
2) Buah (polong) muda berbentuk abnormal atau berukuran kecil.


c. Pengendalian
1) Pengendalian non kimiawi dengan mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan, pergiliran (rotasi) tanaman, memangkan dan memusnahkanbagian tanaman yang diserang berat;
2) Pengendalian secara kimioawi dengan disemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Oncol 200 EC atau Dicarzol 25 SP.


2. Belalang Kayu (valanga nigricornis zehntneri Krauss)


a. Ciri-ciri dan bioplogi hama
1) Belalang Kayu berwarna abu-abu kecoklatan, tulang betis dan sayap belakang berwarna kemerah-merahan. Panjang tubuh belalang betina antaran 58 - 71 mm, sedangkan belalang jantan 49-63mm;
2) Belalang betina meletakkan telur dalam tanah pada kedalaman 5-8 cm. Telur dibungkus dengan busa yang mengering dan memadat. Telur menetas setelah 5-7,5 bulan dan umumnya terjadi pada awal musim hujan;
3) Nimfa yang baru menetas berwarna kuning kehijau-hijauan dengan bercak hitam. Mula-mula nimfa keluar dari tanah, lalu terbang atau naik ke pohon tanaman inang. Tanaman inang utama adalah tanaman jati, tetapi juga bersifat pemakan segala jenis tanaman (polyfag) termasuk menyerang wijen.


b. Gejala serangan
Belalang Kayu menyerang tanaman dengan cara memakan daun. Gejala serangan yang dapat diamati adalah sebagai berikut:
1) Daun rusak dan bolong-bolong tidak teratur;
2) Bila serangan berat menyebabkan tanaman gundul atau tinggal tulang-tulang daun saja.
c. Pengendalian
1) Pengendalian non kimiawi dengan raca menangkap dan memusnahkan;
2) Pengendalian secara kimiawi dengan disemprot insektisida sistemik seperti Perfekthion 400 EC.


3. Ulat Daun dan Buah


Jenis Ulat yang sering menyerang tanaman wijen sebagai berikut:
a. Ulat Jengkal (Plusia chalcites Esp). Ulat jengkal bnercirikan jalannya mengjekal. Ulat ini menyerang daun sehingga berlubang atau rusak tidak beraturan.
b. Ulat Tanah (Agrotis ipsion Hufn). Ulat ini menyerang tanaman yang masih muda dengan menyerang dengan memotong titik tumbnuh (pucuk) tanaman hingga menyebabkan terkulai dan layu.
c. Ulat Buah. Ulat ini berwarna hijau, panjang tubuh sekitar 5 cm dan bagian ujung tubuh terdapat semacam duri tunggal kecil memanjang. Ulat ini menyerang denganm cara menggerek buah dan merusak biji.
Pengendalian ketiga jenis ulat tersebut dapat dilakukan secara terpadu, yakni dengan menguimpulkan dan membunuhnya, penggilioran (rotasi) tanaman dan disemprot insektisida kontak seperti Curacron 500 EC atau insektisida sistemik Perfekthion 400 EC.


4. Kutu Daun (Aphis sp)


a. Ciri-ciri dan bioplogi hama
1) Kutu daun dewasa berwarna hitam dan mengkilap;
2) Sifat hidupnya parthenogenesis yaitu telur menjadi anak (nimfa) tanpa terjadi pembuahan, kemudian dilahirkan oleh induknya;
3) Daur (siklus) hidup kutu daun berlangsung selama 6-8 hari.
b. Gejala serangan
Kutu daun biasanya bergerombol pada pucuk tanaman. Pola hidupnya menghisap cairan tanaman. Gejala yang dapat diamati akibat serangan kutu daun adalah pertumbuhan tanaman terhambat dan pucuk keriting. Bekas cairan (kotoran) kutu daun rasanya manis sehingga mengundang datangnya semut.
c. Pengendalian
1) Pengendalian non kimiawi dengan cara pergiliran (rotasi) tanaman, memangkas dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang berat;
2) Pengendalian secara kimiawi dengan disemprot insektisida yang mangkus dan sangkil seperti Decis 2,5EC atau Perfekthion 400 EC.


Slamet Widodo
Sumber: Kanisius, Yogyakarta