RSS
Syndicate content

Hama Penggerek Daun dan Umbi Kentang yang Membahayakan

Hama ulat penggerek daun dan umbi kentang yang disebabkan oleh Phthorimaea operculella merupakan salah satu hama penting pada tanaman kentang. Sebab, jika komoditas sayuran ini sampai terserang, maka produksinya akan menurun dan kualitas umbi yang diperolehnya berkurang, apalagi jika serangannya sudah berat, maka umbi kentang yang dihasilkannya akan mengecewakan. Oleh karena itu, hama penggerek daun dan umbi kentang membahayakan komdoitas hortikultura penghasil umbi tersebut.

Hama merupakan serangga berupa ngengat berwarna kelabu kecoklatan. Sayap depan bewrwarna coklat kelabu dengan sedikit bercak dan berumbai rambut halus, sedangkan sayap belakang berwarna putih kusam. Ukuran serangga sekitar 1,0 - 1,5 mm.

Serangga meletakkan telur pada daun atau di sekitar mata umbi kentang. Larva (ulat) ukurannya ± 10 mm, berwarna putih kekuningan, kepala berwarna coklat tua dan permukaan dorsal berbayangan/nampak hijau terang atau merah muda. Ulat inilah yang akan mernyerang tanaman kentang di lapangan maupun umbi yang sudah ada dalam gudang/penyimpanan. Sedangkan pupa yang terbentuk dari larva itu berwarna kecoklatan dengan ukuran panjang ± 65 mm dan tertutup oleh benang-benang halus menyerupai kepompong.

Jika hama menyerang daun, daun yang terserang nampak berwarna merah tua dan tampak adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang kala daun kentang yang terserang itu menggulung karena larva merusak permukaan daun sebelah atas , kemudian bersembunyi di dalam gulungan daun tersebut. Larva juga membuat gerekan pada tulang dan tangkai daun yang mengakibatkan hilangnya jaringan daun, matinya titik tumbuh serta lemah an rapuhnya batang. Populasi hama/ulat akan meningkat pada musim kering.

Sedang apabila ulat menyerang umbi, umbi yang ada dalam gudang atau dalam penyimpanan terlihat adanya kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, maka akan terlihat lubang-lubang atau alur-alur yang dibuat ulat sewaktu ulat tersebut memakan umbi. Umbi kentang seperti ini tentunya kualitasnya berkurang, bahkan bisa tidak laku dijual, Jika pun laku, harganya tentu saja lebih rendah dibanding umbi yang tidak diserang hama.

Apabila umbi kentang yang sudah terserang ulat itu disimpan di tempat atau gudang penyimpanan dan tidak dilakukan pencegahan/pengendalian , maka umbi yang sudah diserang hama itu akan menular ke umbi lain yang masih sehat sehingga umbi yang ada dalam gudang itu banyak yang ikut terserang. Dengan kondisi ini, maka umbi kentang yang ada dalam tempat/gudang penyimpanan tersebut banyak yang rusak akibat diserang hama.

Pengendalian
Upaya pengendalian serangan hama penggerek daun dan umbi dapat dilakukan dengan kultur teknis, mekanis, biologi maupun cara kimawi.

1. Cara Kultur Teknis
Lakukan pengairan yang cukup untuk mencegah keretakan tanah sehingga ulat tidak menyerang umbi melalui tanah yang retak tersebut . Setelah itu dilakukan pembumbunan untuk menutup umbi sehingga tidak tererang ulat tersebut. Dapat juga dengan mempertinggi guludan sehingga umbi tidak muncul ke permukaan tanah. Sebab, umbi yang muncul ke permukaan tanah akan mudah diserang hama tersebut.

Pengarian yang cukup harus diperhatikan. Dengan pengairan yang cukup ini, selain untuk mencegah keretakan tanah, juga karena tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air, terutama selama periode pembentukan umbi. Oleh karena itu, pengairan harus dilakukan secara rutin dalam jumlah yang cukup (tanah menjadi lembab) dengan selang waktu 7 hari sekali.
Pada saat tanaman berumur 25 - 30 hari setelah tanam dilakukan pembumbunan I, sedang pembumbunan II pada saat tanaman berumur 35 - 40 hari setelah tanam

Sebaiknya penanaman kentang dilakukan pada musim hujan. Hal ini untuk mencegah retaknya tanah dimana tanah yang retak itu merupakan jalan masuknya ulat ke dalam umbi kentang.

2. Cara Mekanis
Daun-daun yang terserang hama dipotong, dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar sehingga daun yang sudah terserang hama tersebut tidak menjadi sumber penyebaran hama. Usahakan pertanaman kentang selalu dalam keadaan bersih sehingga hama tidak mudah berkembangbiak. Untuk itu, segala gulma dan kotoran yang ada di pertanaman kentang dibuang atau dibersihkan.

3. Cara Biologi
Cara ini dilakukan untuk mengendalikan umbi kentang yang sudah ada dalam gudang penyimpanan. Caranya, Rak-rak penyimpanan umbi, baik pada umbi yang digunakan untuk benih maupun untuk konbsumsi ditutup dengan tanaman Lantana camara yang telah dikeringkan atau bisa juga umbi kentang tersebut ditaburi dengan serbuk Baculovirus (BV) maupun menggunakan agen hayati Bacillus thuringiensis yang terdapat dalam biopestisida.

4. Cara Kimiawi
Apabila serangan ulat sudah mencapai ambang pengendalian atau adanya 20 larva/tanaman dikendalikan dengan menggunakan insektisida yang sudah diizinkan oleh pemerintah yang khusus untuk mengendalikan penggerek daun dan umbi kentang tersebut. Jika belum paham mengenai jenis dan cara penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ini bisa ditanyakan kepada Penyuluh Pertanian atau petugas pertanian setempat. Sebab, jika salah penggunaannya akan membayakan lingkungan, bahkan membahayakan bagi orang yang melakukan pengendalian dengan insektisida tersebut.

 

Penulis : Ir.Muchdat Widodo,MM
Penyuluh Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembang-
an SDM pertanian

Sumber :
1. Setijo Pitojo. Seri Penangkaran Benih Kentang. Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2004.
2. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Buku tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Direktorat
Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2006
3. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas
Granola (Solanum tuberosum) Kab. Bandung Prov.Jawa Barat. Direntorat Budidaya
Tanaman Sayuran dxan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010.