RSS
Syndicate content

Hama Dan Penyakit Utama Pada Sawi Putih Serta Penanganan Panen dan Pasca Panen

Sumber Gambar: shouragroup.com
Tanaman sawi putih banyak diserang oleh tiga (3) hama dan tiga (3) penyakit utama yaitu :
Ulat Tanah (Agrotis sp.), berwarna coklat sampai coklat kehitaman, menyerang tanaman kecil setelah ditanam di lahan. Serangan biasanya terjadi pada malam hari, karena perilaku ulat ini takut sinar matahari. Pangkal batang tanaman yang masih sangat sukulen digerek hingga putus, menyebabkan tanaman mati karena sudah tidak memiliki titik tumbuh. Apabila tanaman belum diserang, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan cara melakukan sanitasi lahan secara benar, termasuk pada galengan atau parit di sekitar lahan. Akan tetapi bila tanaman sudah terserang, perlu dilakukan pemberantasan. Serangan ulat tanah biasanya berlangsung tidak serentak alias sedikit demi sedikit. Apabila ditemukan gejala awal serangan, segera berantas dengan insektisida granul. Taburkan sedikit insektisida tersebut di samping pokok tanaman, dengan dosis 0,3 - 0,4 per tanaman atau 6 kg insektisida granul per hektar. Insektisida granul yang dapat diaplikasikan di antaranya Furadan 3 G dan Curater 3 G.
 
Ulat Grayak (Spodoptera litura dan Spodoptera exigua),
Berukuran sekitar 15-25 mm, berwarna hijau tua kecoklatan dengan totol-totol hitam di setiap ruas buku badannya. Sedangkan Spodoptera exigua, mempunyai ukuran yang sama dengan Spodoptera litura tetapi warna tubuhnya hijau sampai hijau muda tanpa totol-totol hitam di ruas buku badannya. Kedua jenis ulat ini sering menyerang tanaman dengan cara memakan daun hingga menyebabkan daun berlubang-lubang terutama di daun muda. Agar tanaman tidak terserang, maka perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Selain itu juga perlu dilakukan dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat. Perangkap ini dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam lem yang mengandung hormon sex pemanggil kupu-kupu. Apabila tanaman ditemukan telah terserang ulat ini, segera semprot dengan insektisida yang tepat. Insektisida yang dapat digunakan di antaranya Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan anjuran pada label kemasan.
 
Ulat Perusak Daun (Plutella xylostella),
Ulat kecil ini berwarna hijau muda, dengan panjang tubuh sekitar 7-10 mm. Pada saat melakukan penyerangan, ulat ini suka bergerombol dan lebih menyukai pucuk tanaman. Akibatnya daun muda dan pucuk tanaman berlubang-lubang. Jika serangan sudah sampai ke titik tumbuh tunas, proses pembentukan krop akan sangat terganggu. Lebih parah lagi, krop tidak terbentuk. Agar tidak mudah terserang maka perlu dilakukan sanitasi (penyiangan) lahan dengan baik. Jika serangan hama ini sudah tampak, segera semprot dengan insektisida yang tepat. Insektisida yang bisa dipakai di antaranya March 50 EC, Proclaim 5 SG, Decis 2,5 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan sesuai anjuran yang ada pada label kemasan.
 
Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.),
penyakit ini suka menyerang tanaman sawi putih. Gejala awal, muncul bercak kuning dengan bentuk kotak-kotak mengikuti alur tulang daun. Bercak ini dimulai dari daun tua. Semakin lama daun yang menguning semakin lebar dan mengarah ke daun yang lebih muda di atasnya. Untuk mencegah penyakit ini yaitu dengan cara menghindarkan penanaman sawi putih berdekatan dengan tanaman yang berumur lebih tua dan terserang penyakit ini. Selain itu juga bisa dilakukan dengan cara memperbaiki drainse lahan, terutama pada musim hujan, dan sanitasi lahan secara rutin. Akan tetapi bila sudah terjadi penyerangan segera semprot dengan fungisida yang tepat. Arahkan mata spray ke permukssn daun atas ataupun bawah. Fungisida yang digunakan adalah Anvil 50 SC, Nimrod 250 EC dan Score 250 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan yang tercantum pada label kemasan.

Penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora),
penyakit ini menyerang tunas pucuk tanaman, baik saat belum terbentuk krop maupun setelah keluar krop sawi putih. Gejala awal terdapat bercak basah di tunas pucuk atau krop. Selanjutnya bercak tersebut meluas dan menjadi busuk basah hingga ke dalam batangnya. Bagian yang terserang tersebut akan mengeluarkan bau busuk. Apabila serangan terjadi sebelum terbentuk krop, titik tumbuh mati sehingga tanaman tidak bisa menghasilkan krop. Jika menyerang setelah keluar krop, maka krop akan rusak, busuk basah dan berbau sangat tidak sedap. Penyakit ini sering menyerang saat hujan dan ketika suhu udara di atas normal. Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Bila menanam di musim hujan, maka jarak tanam dibuat lebih lebar (60x60 cm). Selain itu selokan juga diperlebar agar sirkulasi air dan udara lancar. Bila gejala serangan ditemukan segera semprot dengan fungisida yang tepat. Pada saat penyemprotan arahkan mata spray lebih banyak ke tunas pucuk tanaman. Fungisida yang digunakan antara lain Bion-M 1/48 WP, Daconil 75 WP dan Topsin M 70 WP. Penggunaannya disesuaikan dengan dosis yang ada pada label kemasan.

Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae),
penyakit ini menyerang perakaran tanaman. Gejala penyakit ditunjukkan dengan tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. Sebaliknya, pada pagi hari kondisi tanaman segar. Pertumbuhan tanaman terhambat. Apabila tanaman dicabut, akan tampak benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakarannya. Jika tingkat serangannya sudah parah, tanaman samasekali tidak bisa berproduksi. Pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan a) menghindari menanam di lahan bekas tanaman sawi putih dan familinya (brokoli, bunga kol, kubis, dan sebagainya) yang terindikasi serangan penyakit ini; b) melakukan pergiliran tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup fungi penyebab penyakit ini; c) penggunaan teknologi EMP dikombinasi dengan pengapuran tanah (untuk menaikkan pH tanah). Namun bila tanaman sudah terserang penyakit ini, seharusnya dilakukan pemberantasan. Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya setelah tanaman terserang. Dengan demikian hal yang perlu diperhatikan adalah melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi putih berhasil.

Panen dan Pasca Panen
Sawi putih sudah dapat dipanen pada umur 55 - 70 HST, tergantung pada varietas yang ditanam dan ketinggian tempat penanaman, Semakin tinggi dataran tempat penanaman, semakin lama umur panennya. Ciri-ciri sawi putih yang siap panen adalah bila umur tanaman sudah mencapai umur panen berdasarkan varietas yang ditanam, selain itu krop sudah terbentuk penuh, kompak, dan padat. Cara pemanenan tanaman sawi putih adalah dengan memotong batangnya tepat di bawah krop dengan menggunakan pisau yang tajam. Kemudian kumpulkan hasil panen di tempat yang teduh dan terlindung dari hujan dan panas. Setelah panen selesai dilakukan, kemudian dilakukan grading dengan cara memisahkan krop yang besar, dengan krop yang kecil. Untuk krop yang besar biasanya dipasarkan ke supermarket, sedang krop yang kecil dipasarkan di pasar tradisional. Produk sawi putih yang dipasarkan ke supermarket dan ke pasar tradisional berbeda dalam pengemasannya. Untuk dipasarkan ke supermarket, perlu dikemas secara khusus, yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) kupas lembaran-lembaran daun yang berwarna hijau di krop hingga tampak berwarna putih kehijauan sampai putih; b) ratakan batang di dasar krop menggunakan pisau tajam; c) bungkus krop dengan plastik wrapping, satu buah krop dalam satu kemasan; d) susun rapi krop di dalam boks plastik untuk selanjutnya dikirim ke supermarket. Sedangkan pemasaran ke pasar tradisional tidak memerlukan kemasan khusus, cukup curah. Lembaran-lembaran daun berwarna hijau di krop tidak perlu dikupas, tujuannya untuk menghindari gesekan saat pengangkutan ke pasar. Setelah sampai di tempat penampungan, pengupasan krop baru dilakukan.
 

Penulis

:

Wiwiek
hHidajati, Penyuluh Pertanian Madya. email : wiwiekhidajati@yahoo.co.id.

Sumber

:

Petunjuk Praktis
Bertanam Sayuran Lebih Menguntungkan Dengan Teknologi EMP. Oleh: Ir. Wahyudi