RSS
Syndicate content

BUDIDAYA WIJEN DI LAHAN KERING DAN SAWAH

Wijen (Sesamum indicum L.) telah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia terutama di daerah lahan kering iklim kering, dan telah berkembang di lahan sawah sesudah padi (musim kemarau).Rata-rata produktivitas wijen di Indonesia sekitar 400 kg/ha, sedangkan hasil penelitian dapat mencapai 1.200-1.400 kg/ha. Untuk memperoleh produksi yang tinggi diperlukan penerapan teknologi budidaya yang sesuai, meliputi: penggunaan varietas unggul dan benih bermutu, persiapan lahan yang sesuai, waktu tanam yang tepat, populasi yang optimal, dosis pupuk yang optimal, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang tepat, dan pengairan yang sesuai kebutuhan tanaman.

Varietas unggul dan benih bermutu
Varietas unggul yang telah dilepas adalah Sumberrejo 1 (Sbr.1), Sbr.2, Sbr.3, dan Sbr.4. Varietas Sbr.1, Sbr.3, dan Sbr.4 adalah jenis wijen yang bercabang, sedangkan Sbr.2 tidak bercabang. Varietas Sbr.1 dan Sbr.3 sesuai untuk pengembangan di lahan kering (musim penghujan), sedangkan untuk pengembangan di lahan sawah sesudah padi (musim kemarau) dapat menggunakan Sbr.1 dan Sbr.4. Benih yang digunakan sebaiknya berupa benih sebar yang bersertifikat. Kebutuhan benih untuk wijen monokultur 3-8 kg/ha, sedangkan untuk tumpangsari 2-3 kg/ha.

Persiapan lahan
Untuk budidaya wijen di lahan kering, tanah diolah sampai gembur sedalam 30 cm menggunakan cangkul, bajak sapi atau traktor. Kemudian dibuat bedengan dengan lebar 3 m dan panjang sesuai lahan. Antar bedengan dan keliling lahan dibuat saluran untuk pembuangan air (drainase) dengan lebar 40 cm dan dalam 40 cm.
Di lahan sawah setelah panen padi, air yang tersisa di lahan perlu dikeringkan (diatus), dengan membuat saluran drainase sekeliling lahan. Kemudian dilakukan pengolahan tanah hingga gembur. Dibuat bedengan dengan lebar 3-6 m dan panjang sesuai dengan panjang lahan. Antar bedengan dibuat saluran/parit dengan lebar 40 cm dalam 40 cm yang berfungsi untuk pengairan maupun untuk drainase.

Waktu tanam dan pola tanam
Di lahan kering wijen sebaiknya ditanam pada awal musim penghujan. Jika terlambat tanam, tanah akan terlalu basah dan dingin yang kurang baik bagi perkecambahan wijen. Disamping itu akan mendapat gangguan yang berat dari gulma, hama, penyakit, dan akan kekurangan air. Di lahan sawah dengan pengairan terbatas, sebaiknya wijen ditanam setelah panen padi pertama (MK-1) atau setelah panen padi kedua (MK-2).
Wijen dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman lain (jagung, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, kapas, jarak, ubi kayu, atau padi gogo). Tumpangsari bertujuan untuk penganekaragaman, mengurangi resiko gagal panen, dan menambah pendapatan.

Populasi tanaman
Di lahan kering pada awal musim penghujan, untuk varietas Sbr.1, Sbr.3, dan Sbr.4 sebaiknya ditanam dengan jarak tanam 60 cm x 25 cm dengan 2 tanaman per lubang, sedangkan untuk Sbr.2 karena tidak bercabang, ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 25 cm.
Biasanya habitus tanaman di musim kemarau lebih pendek/kecil dibanding musim penghujan, maka populasi di lahan sawah dapat ditingkatkan sehingga jarak tanam menjadi 50 cm x 25 cm atau 40 cm x 25 cm.

Pemupukan
Dosis pupuk yang harus diberikan sangat tergantung kondisi tanah dimana wijen akan dibudidayakan. Secara umum dosis pupuk untuk lahan kering adalah 50-100 kg Urea/ha, sedangkan untuk lahan sawah 100-150 kg Urea/ha. Pupuk diberikan secara tugal disamping lubang tanam, dua kali yaitu 1/3 bagian pada awal tanam dan sisanya pada 4-6 minggu setelah tanam (MST).
Pupuk fosfat (SP36) dan kalium (KCl) dapat ditambahkan jika diketahui tanah kekurangan kedua hara tersebut. Untuk tanaman wijen umumnya cukup ditambahkan 50 kg SP36 + 50 kg KCl/ha, diberikan pada awal tanam.

Pengairan
Untuk budidaya wijen di lahan kering tidak perlu dilakukan pengairan karena tergantung pada air hujan. Sedangkan di lahan sawah sesudah padi (MK-1 maupun MK-2), diperlukan pengairan sebanyak 4-5 kali hingga masa pengisian polong. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengairan jangan sampai tergenang.

Pengendalian hama, penyakit , dan gulma
Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman wijen antara lain kutu daun (Aphis sp.), tungau (Polyphagotarsonemus latus), thrips sp., dan belalang (Atractomorpha sp.). Sedangkan penyakit yang sering menyerang pertanaman wijen antara lain virus penyebab keriting daun, layu yang disebabkan Fusarium, Phytophtora, dan Cercospora.
Pada pertanaman wijen di lahan sawah pada musim kemarau, serangan tungau sangat dominan yang berasosiasi dengan terjadinya serangan virus keriting. Kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, karena daun menjadi mengecil dan mengeriting, sehingga dapat menggagalkan produksi. Pengendaliannya dianjurkan secara terpadu, dengan cara pencegahan yaitu dengan menggunakan varietas unggul benih bermutu, pengelolaan ekosistem yang baik dengan teknik budidaya yang benar dan penggunaan insektisida secara benar (usahakan menggunakan insektisida alami terlebih dahulu, baru kimiawi).
Karena pertumbuhan awal wijen yang lambat, maka sebaiknya pengendalian gulma dilakukan dengan penyiangan mulai awal yaitu pada 2 MST dan diulangi lagi pada 4 dan 6 MST. Biasanya pelaksanaan penyiangan sekaligus melakukan pendangiran dan pembumbunan.

Slamet Widodo
Sumber: Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat-Malang