RSS
Syndicate content

BUDIDAYA PADI SAWAH DI LAHAN PASANG SURUT

Padi sawah dapat dibudidayakan pada lahan pasang surut yang telah menjadi sawah tadah hujan. Teknik budidaya pada lahan pasang surut ini berbeda dengan lahan irigasi, karena keadaan tanah dan lingkungannya berbeda dengan lahan sawah irigasi.
Berdasarkan tipe luapan air, lahan pasang surut dibedakan menjadi tipe A, B, dan C. Lahan yang bertipe A yaitu lahan yang selalu terluapi air baik pada saat pasang besar maupun pasang kecil, Lahan tipe B hanya terluapi air pada saat pasang besar dan lahan tipe C yang tidak terluapii air pasang, namun air tanahnya dangkal.

Penyiapan Lahan.
-Lakukan penebasan rumput/belukar, pengolahan tanah, pelumpuran dan perataan tanah.
-Setelah pengolahan tanah tahap pertama, tanah digenangi dengan ketinggian air 5-10 cm.
-Dua minggu setelah pengolahan tanah tahap pertama, dilakukan pengolahan tanah tahap ke dua (kedalaman pengolahan tanah sekitar 20-25 cm).

Varietas: Beberapa varietas yang dapat berproduksi baik adalah Cisadane, Cisanggarung, IR 42, IR 64, Kapuas, Lematang, Sei Lilin dan Way seputih

Benih : Gunakan benih bermutu (daya kecambah ≥ 90 % ) dan tidak tercampur dengan jenis padi atau biji tanaman lain

Cara menentukan mutu benih yang dipakai: Rendam 100 butir benih selama 2 jam, letakkan di atas kain basah selama 3-5 hari. Bila benih yang berkecambah ≥ 90 %, maka benih tersebut bermutu tinggi

Persemaian

Persemaian Basah
-Benih direndam 12-24 jam, kemudian diangkat dan dibiarkan berkecambah 1-2 hari
-Persemaian dibuat di lahan yang berair/macak-macak dan tidak terluapi air pada saat pasang (tiap hektar perlu 300-500 m 2 lahan persemaian)
-Lahan persemaian diolah 2 kali (sempurna), bersih dari rumput ,belukar, sisa-sisa tanaman, kayu, batu dan lain sebagainya.
-kemudian tanah diratakan dan diberi pupuk (setiap m 2 persemaiam memerlukan pupuk 10 gr urea+ 10 gr TSP atau 14 gr SP36+ 10 gr KCl).

Persemaian Kering:
-tempat persemaian dibuat guludan
-benih langsung disemai tanpa direndam, kemudian ditaburi dengan tanah halus atau abu sekam
-untuk mencegah serangan hama orong-orong, benih dicampur dengan insekrtisida seperti furadan 3G 1gr/m2 persemaian
-untuk mencegah hama blas benih dicampur dengan fungisida seperti Benlate T 20 WP (Benomil) sebanyak 1 gram /kg benih

Penanaman .
Untuk tipe luapan A dan B, padi sawah dapat ditanam 2 kali /tahun yaitu pada pertengahan Oktober - awal November untuk musim tanam pertama dan pada pertengahan Maret sampai awal April untuk musim tanam ke dua.

Cara Penenaman: Lakukan penanaman dengan jumlah bibit 3 batang per rumpun, jarak tanam 25x25 cm untuk lahan potensial, 20x20 cm untuk lahan sulfat masam dan lahan bergambut.

Penyiangan dan Penyulaman: Penyiangan dilakukan pada umur 3 minggu dan 6 minggu setelah tanam, sedangkan penyulaman dilakukan 1-2 minggu setelah tanam

Pemupukan.
Pupuk disebar rata pada permukaan lahan (dengan kondisi lahan macak-macak), dengan dosis sesuai dengan tipologi lahannya. Untuk menurunkan keasaman tanah terutama pada lahan sulfat masam,2 minggu sebelum tanam perlu diberi kapur 1 ton/ha (dalam keadaan air tanah macak-macak).

Dosis pemupukan pada lahan potensial
-Pada saat tanam dipupuk dengan Urea 50 kg/ha, KCl 100 kg/ha, SP 36 135 ka/ha
-Saat 4 mg setelah tanam: Urea 50 Kg/ha
-Saat 7 mg setelah tanam, Urea 50 kg/ha
Dosis pemupukan pada lahan sulfat masam dan bergambut:
-Pada saat tanam dipupuk dengan Urea 85 kg/ha, KCl 100 kg/ha, SP 36 135 kg/ha
-Saat 4 mg setelah tanam: Urea 85 Kg/ha
-Saat 7 mg setelah tanam, Urea 85 kg/ha

Perlindungan tanaman
Hama yang banyak menyerang pertanaman padi di lahan pasang surut adalah orong-orong, kepinding tanah (lembing batu), walang sangit, wereng coklat, sedangkan penyakit utama adalah blas.

Cara Pengemdalian.
Hama tikus :: memelihara kebersihan lingkungan, pertanaman serempak, pemasangan umpan beracun dengan racun kierat RMB sebanyak 2 kg per hektar, dan diletakkan di beberapa tempat, gropyokan atau pengomposan menggunakan belerang.
Orong-orong: menggenangi lahan dan merendam bibit sebelum tanam dalam larutan pestisida karbofuran (Curater 3 G, Dharmafur atau Furadan 3 G).
Kepinding tanah: menyemprotkan pestisida sebanyak 1-2 liter/ha
Pengemdalian penyakit dilakukan dengan menyemprotkan fungisida Beam atau Fujiwan sebanyak 1-2 kg per ha, menanan varietas yang tahan bias dan tidak menggunakan pupuk N secara berlebihan

Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya.
Sumber: Budidaya Padi Sawah di Lahan Pasang Surut oleh I Wayan Suastika, Basarudin N, Tumarlan T. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1997.