RSS
Syndicate content

BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA LEBAK

Lahan rawa lebak yaitu suatu wilayah yang terdepresi menjadi cekung dan memungkinkan terjadinya genangan air pada waktu yang cukup lama. Air yang menggenang tersebut berasal dari limpasan air permukaan di wilayah tersebut maupun dari wilayah sekitarnya karena topografinya lebih rendah. Air dapat menggenang lebih dari 6 bulan akibat adanya cekungan dalam.
Komoditas padi dapat ditanam di lahan rawa lebak pada musim kemarau maupun musim hujan. Pemanfaatan rawa lebak ini masih relatif rendah, pada umumnya hanya ditanami padi sekali dalam setahun. Disamping itu, produktivitas tanaman padi pada lahan ini juga rendah karena penerapan teknologi yang masih rendah. Sistem penanaman padi di lahan rawa lebak dibagi menjadi dua, yaitu pertanaman padi musim hujan dan musim kemarau.
Varietas.

Varietas yang sesuai untuk lahan rawa lebak yaitu varietas yang memiliki sifat tinggi tidak kurang dari 90 cm, mempunyai potensi anakan cukup (13-15 anakan), toleran terendam, sekaligus toleran kekeringan, batang kokoh, umur pendek/genjah dan potensi hasil tinggi. Varietas yang cocok untuk musim hujan maupun kamarau adalah: batanghari, dendang, indragiri, punggur, siak raya, lambur dan mendawak, sedangkan yang hanya cocok untuk musim hujan saja adalah nagara, alabio, tapus dan inpara 3. Varietas nagara, alabio dan tapus ini toleran terhadap rendaman dan mempunyai kemampuan memanjang (elongation ability) jika terendam air dan inpara -3 memp[unyai sifat tahan terendam untuk 7-10 hari pada saat vegetatif.

Penyiapan Lahan.
Penyiapan lahan dilakukan dengan tanpa olah tanah (TOT) karena tanah rawa lebak umumnya mempunyai kepadatan tanah yang rendah. Rumput yang telah ditebas, dikait dan dibawa ke tepi sawah. Penyiapan lahan dapat menggunakan herbisida, namun harus dilakukan lebih awal agar pembusukan biomas gulma tidak bersamaan dengan pertumbuhan bibit yang baru ditanam.

Cara Tanam dan Populasi.
Penanaman di musim kemarau (padi rintak) dilakukan dengan cara tanam pindah/transplanting. Sedangkan untuk padi musim hujan (padi surung) penanaman padi dapat dilakukian dengan tanam benih langsung (dengan tugal) dan pindah tanam. Untuk mendapatkan hasil di atas 4 ton/ha, populasi varietas unggul harus tidak kurang dari 250.000 rumpun/ ha. Untuk mengantisipasi kekeringan, maka saat tanam padi rintak kondisi air pada petak sawah sebaiknya dipertahankan 5-10 cm. Untuk bertanam padi musim hujan (padi surung), dilakukan percepatan tanam sehingga perlu persemaian dan penyiapan lahan lebih awal.

Pengelolaan Lengas Tanah di musim Kemarau.
Salah satu aspek, penting dalam budidaya padi di lahan rawa lebak pada musim kemarau adalah mengatasi kemungkinan terjadinya cekaman kekeringan pada musim kemarau. Untuk mengelola kelengasan tanah perlu dilakukan penataan lahan dengan bentuk surjan yang dilengkapi dengan kolam beje, pembuatan tabat pengendali pada saluran air dan memanfaatkan gulma in situ sebagai mulsa.

Pengelolaan Gulma.
Gulma yang sangat potensial untuk bahan pupuk organik adalah Paspalidium punctatum dan Salvinia sp. Gulma dapat dikendalikan secara manual, atau dengan menggunakan herbisida pratumbuh yang berbahan aktif oksadiaxon maupun purna tumbuh selektif yang berbahan aktif 2,4 D Amina. Penggunaan gulma sebagai mulsa dengan takaran minimal 2 ton/ha dapat meningkatkan hasil padi rintak, tetapi di tas 3 ton/ha tidak lagi meningkatkan hasil.
Pada musim kemarau gula seperti Alternantera sp, Heliotropium sp, Axonopus sp, Cyperus dan Fimbristylis sp. perlu dikendalikan Gunakan herbisida pratumbuh yang berbahan aktif oksadiaxon maupun purna tumbuh selektif yag berbahan aktif 2,4 D Amina.

Pemupukan.
Tanah lahan lebak mempunyai tingkat kesuburan kurang sampai sedang sehingga pupuk perlu diberikan sesuai dengan kebutuhan. Varietas yang bertajuk tegak sangat responsif terhadap pemupukan. Pemberian pupuk organik dari bahan in situ seperti dari biomasa Salvinia molesta dan Pasmalidium sp. dapat dikombinasikan dengan pupuk an organik, sehingga lebih efisien dan dalam jangka panjang dapat memperbaiki mutu lahan. Untuk tanaman yang responsif: dipupuk 90 kg N/ha+ 70 KG P2O5/HA + 50 KG K2O / HA, dan unutk tanaman yang kurang responsif seperti Margasari dipupuk: 75 kg N/ha, dan 60 kg K2O /ha. Pupuk dalam bentuk briket memberuikan hasil lebih baik daripad dalam bentuk pril.

Pengendalian Hama.
Hama yang sering mengganggu adalah hama tikus (Ratus sp.) dan pengerek batang padi kuning (scirpophaga incertulas Walker). Serangan hama tikus umumnya terjadi saat tanaman memasuki fase bunting, sehingga perlu penerapan sistem pengendalian dini. Pasang umpan beracun sejak 15 hari sebeluum semai sampai awal fas e pertumbuhan generatif, dikombinasi dengan fumigasi dan pemnasangan perangkap bubu pada fase petumbuhan generatif. Pengendalian pengerak batang kuning dengan insektisida BPMC dosis 2-2,5 cc/l air. Namun perlu diterapkan pula pengendalian hama terpadeu (PHT).

Panen dan Prosesing.
Kehilangan hasil padi di lahan lebak mencapai 12.5 %, terutama karena keterlambatan panen, cara panen, dan prosesing. Tanaman padi dipanen saat telah memasuki fase masak fisiologis, yang ditandai dengan bulir gabah telah berisi penuh, keras, kulit berwarna kekuningan. Pemanenen pada saat lewat masak akan terjadi kerontokan gabah yang lenih tinggi. Cara panen menggunakan sabit bergerigi akan lebih efektif dan mengurangi kerontokan gabah.
Oleh Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya
Sumber: Padi di Lahan Rawa Lebak dan Peranannya dalam sistem Padi Nasional. Oleh Isdiyanto Ar-Riza dan Achmadi Jumberi, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.