RSS
Syndicate content

Antisipasi Perubahan Iklim Dan Tempat Penyimpanan Padi

Sumber Gambar: http/www.google.go.id
Perubahan iklim tidak terlepas dari istilah-istilah yang berkaitan dengan peristiwa perubahan iklim itu sendiri, seperti unsur-unsur perubahan iklim yang terdiri dari: suhu, pola curah hujan, iklim ekstrim (la-nina, el-nino) dan peningkatan muka air laut. Dampak perubahan iklim adalah kondisi kerugian dan keuntungan, baik secara fisik, produk, maupun secara sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh cekaman perubahan iklim. Sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, paling rentan (mempunyai tingkat kerentanan paling tinggi) terhadap perubahan iklim karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap cekaman (kelebihan dan kekurangan) air.
Dengan ada perubahan iklim membuat masalah yang tidak kalah pentingnya yang dihadapi petani adalah penanganan gabah basah hasil panen dimusim hujan. Terbatasnya lantai jemur dan tidak munculnya sinar matahari karena hujan dan sulitnya mendapatkan mesin pengering serta mahalnya biaya pengeringan mengakibatkan banyaknya petani mengalami kesulitan dalam menyelamatkan gabah hasil panennya. Akibatnya gabah yang dihasilkan menjadi rusak dan berkecambah. Oleh karena itu perlu dirakit teknologi perawatan gabah basah yang sederhana dengan dengan biaya murah dan mudah diterapkan ditingkat petani.

Pada prinsipnya tujuan dari perawatan gabah adalah mengawasi kecepatan transpirasi, oksidasi dan infeksi hama dan penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengurangi kadar air gabah sampai kadar air simpan atau menghambat kenaikan suhu dalam tumpukan gabah dengan menggunakan zat higroskopis.

Maka dalam hal ini perlu penanganan pasca panen yang dalam penyimpanan gabah padi yang tepat agar tidak terjadinya kerusakan gabah padi dan terserang hama yang dapat menurunkan kualitas mutu pada gabah padi, hal ini mengakibatkan ruginya petani padi. Para penyuluh pertanian agar dapat memberikan perhatian kepada petani padi di lapangan dalam penanganan pasca panen dalam penyimpanan padi dengan baik dan tepat agar tidak terjadinya kerusakan dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama gabah padi tersebut.

Penyimpanan merupakan tindakan untuk mempertahankan gabah/beras agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu / kadar air dan bernasnya. Kesalahan dalam melakukan penyimpanan gabah/ beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur, dan serangga-serangga, binatang mengerat dan kutu beras yang dapat menurunkan mutu gabah/beras. Cara penyimpanan gabah/beras dapat dilakukan dengan : (1) sistem curah, yaitu gabah yang sudah kering dicurahkan pada suatu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca, dan (2) cara penyimpanan menggunakan kemasan/wadah seperti karung plastik, karung goni, dan lain-lain.

Penyimpanan gabah dengan sistem curah dapat dilakukan dengan menggunakan silo. Silo merupakan tempat menyimpan gabah/beras dengan kapasitas yang sangat besar. Bentuk dan bagian komponen silo adalah silo biasanya berbentuk silinder atau kotak segi-empat yang terbuat dari plat lembaran atau papan. Penyimpanan gabah dengan kemasan dapat dilakukan dengan menggunakan karung, beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan gabah dengan karung adalah : a) Karung harus dapat melindungi produk dari kerusakan dalam pengangkutan dan atau penyimpanan, b)Karung tidak boleh mengakibatkan kerusakan atau pencemaran oleh bahan kemasan dan tidak membawa Organisme Penyakit dan Cendawan, c)Karung harus kuat, dapat menahan beban tumpukan dan melindungi fisik dan tahan terhadap goncangan serta dapat mempertahankan ke-seragaman. Karung harus diberi label berupa tulisan yang dapat menjelaskan tentang produk yang dikemas.

Para petani padi di lapangan dan para pengusaha padi yang melakukan penyimpanan padi selain penjelasan tersebut di atas, perlu diperhatikan bahwa dalam penyimpanan padi selain curah dan karungnya, jangan lupa memperhatikan bila padi disimpan berupa curah maka pentilasi udara haruslah baik dalam penyimpanan padi tersebut. Bila padi disimpan di dalam karung selain pentilasi tempat penyimpanan karugn padi baik, juga perlu diperhatikan tumpukkan karung padi yang paling bawah antara karung dengan lantai harus ada pemisahnya misalnya broti atau kayu besar.

Dalam perubahan iklim ekstrim yang terjadi adalah dalam jangka panjang terjadi hujan terus menerus sehingga kelembapan tinggi kadang kala panas berkepanjangan sehingga temperatur sangat tinggi / suhu udara tinggi. Maka bila curah hujan berkepanjangan perlu diperhatikan sirkualasi udara dalam ruangan penyimpanan padi harus dikontrol dan jangan sampai air hujan masuk ke dalam penyimpanan padi / bocor. Bila panas berkepanjangan maka dikontrol secara intensif sirkulasi udara sehingga suhu udara di dalam ruangan penyimpanan padi tidak terlalu tinggi.

Dengan penjelasan yang diatas dalam berbagai perlakuan pasca panen dalam penyimpanan gabah dan alat penyimpanan baik dan tepat tersebut dalam mengantisipasi perubahan iklim. mudah-mudahan gabah yang disimpan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan tidak terserang hama serta menghasilkan beras yang mutu kualitas tinggi. Sehingga petani dalam melakukan usaha taninya diperoleh dengan pendapatan yang memuaskan, dengan memproleh hasil tersebut maka petani dapat mengusahakan usaha taninya lebih baik lagi dan mengingkatkan pendapatan serta dapat mensejahterahkan dirinya dan keluarganya.


Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertanian
Sumber : Kementan, Kenali dan Pahami Perubahan Iklim, 2010, Jakarta
Ibrahim Saragih, Penelitian Iklim (Perubahan Mempengaruhi Produksi pertanian), 2010, Jakarta