RSS
Syndicate content

Analisis Perkembangan Harga Jagung Pipilan

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Perkembangan harga rata-rata mingguan jagung pipilan selama bulan Nopember 2011 di beberapa kota di Indonesia berdasarkan pemantauan oleh Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga relative stabil, kecuali di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Pada periode Nopember 2011, harga jagung pipilan di tingkat konsumen tertinggi terjadi di Jakarta pada minggu I dan II sebesar Rp. 7.400,-/kg sedangkan harga terendah terjadi di Medan selama satu bulan sebesar Rp. 3.000,-/kg.
 
Apabila dibandingkan dengan bulan Oktober 2011, harga rata-rata jagung pipilan stabil di kota Bandung, Semarang, Denpasar, Medan dan Makasar. Sementara di Surabaya mengalami penunman sebesar 0,88 persen. Namun bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, harga jagung pipilan pada bulan Nopember 2011 mengalami peningkatan di hampir semua kota yang berkisar antara 1,18 persen (Bandung) hingga 33,33 persen di Denpasar.

Berdasarkan pantauan dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) di 60 kabupaten di Indonesia, tercatat bahwa harga rata-rata Jagung pipilan pada bulan Nopember 2011 berkisar antara Rp 2.363,-/kg (Kab. Boalemo) hingga Rp. 12.000,-/kg (Kab. Hulu Sungai Utara).

Berdasarkan hasil analisis proyeksi deret waktu, harga rata-rata jagung pipilan pada bulan Desember 2011 di beberapa kota masih stabil walaupun di Jakarta dan Surabaya mengalami peningkatan harga tetapi tidak terlalu signifikan. Harga rata-rata tertinggi jagung pipilan pada bulan Desember 2011 diperkirakan terjadi di Jakarta sebesar pp. 7.444,-/kg. Harga rata-rata jagung pipilan terendah pada bulan Desember 2011 diperkirakan sebesar Rp. 3.000,-/kg (Medan). Demikian pula, pada bulan berikutnya yakni Januari 2012, harga rata-rata jagung pipilan diperkirakan akan berkisar antara Rp. 3.000,- /kg (Medan) hingga Rp. 7.451,-/kg di Jakarta.

(sumber: Buletin Analisis Perkembangan Harga Komoditas Pertanian, Pusat data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian 2011)