RSS
Syndicate content

PENGELOLAAN KEBUN PEMBIBITAN TANAMAN TEBU

Sumber Gambar: www.google.com
Bahan tanam untuk pembibitan dapat berasal dari bagal atau kultur jaringan varietas tebu yang murni. Secara umum bahan tanam (bibit) untuk pembibitan harus bebas dari hama dan penyakit, terutama luka api dan daun hangus. Lahan untuk kebun pembibitan harus memenuhi syarat untuk pertumbuhan yang optimal, sehingga menghasilkan bahan tanam dalam jumlah yang besar dan mutu yang baik.
Setelah syarat-syarat lahan untuk kebun pembibitan terpenuhi, tindakan selanjutnya melaksanakan pengelolaan agar syarat-syarat tersebut berfungsi sebaik-baiknya. Pengelolaan kebun pembibitan mencakup : a) Pembukaan lahan dan pengolahan tanah; dalam pembukaan lahan dan pengolahan tanah perlu diperhatikan kelancaran drainase dan terjaminnya pembuangan air yang baik. Pada lahan yang rendah, kasuran untuk tempat penanaman bibit dibuat miring agar air yang berkelebihan dapat segera terbuang; b) Tanam dan pemeliharaan; macam bibit yang digunakan disesuaikan dengan kondisi tanah. Papan tanam yang telah siap diberi air "secukupnya" sehingga tanah tersebut strukturnya berubah menjadi "nguntuk semut" (gembur). Pada lahan tanah berat dan berpengairan cukup dapat menggunakan bibit rayungan bermata satu atau dua. Pada lahan berpengairan sedang dengan tanah bertekstur ringan hingga sedang dapat menggunakan bibit bagal bermata dua atau lebih. Selama persiapan bibit diletakkan di tempat yang teduh. Keperluan bibit dalam satu hektar berkisar 54.600 - 70.200 mata tumbuh (jumlah bibit permeter 7 - 9 mata). Pada setiap ujung juring yang ditanami ditambah "sumpingan" sebagai bahan sulam sebanyak 10 % dari jumlah bibit per juring (Pujiarso dan Mirzawan, 1996); c) Perlindungan tanaman; apabila terjadi serangan hama penggerek batang lebih dari 5 persen perlu dilakukan penyemprotan insektisida atau pemakaian parasit. Jika terdapat serangan penggerek pucuk sebanyak 200 ulat ha-1 dilakukan pengendalian secara mekanis, pelepasan parasit (Trichogramma japonicum) telur, atau suntikan Carbofuran. Bila tenaga kerja sulit diperoleh, dapat dilakukan pemakaian Furadan 3G di tanah. Pemberian pertama pada saat tanaman berumur 3 bulan, sebanyak 25 kg ha-1 dengan cara ditugal, 2 lubang per meter juringan. Pemberian kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 5 bulan jika tingkat serangan masih diatas 400 batang ha-1 dengan dosis yang sama (Lastri Legowo ed., 1989). Setelah bibit ditanam, sanitasi kebun harus diperhatikan yaitu dengan menjaga agar kondisi kelembaban kebun tidak terlalu basah atau terlalu kering. Perlu dilakukan pengamatan dan pemberantasan langsung secara periodik terhadap penyakit tanaman pembibitan tebu sejak tanaman berumur satu bulan sampai enam bulan. Pekerjaan ini dilakukan oleh petugas pengamat dengan cara : (1) Mencari tanaman yang menunjukkan gejala terjagkit penyakit, biasanya tampak pada daun yang menunjukkan kelainan, baik warna maupun bentuknya; (2) Segera membongkar dan memusnahkan tanaman yang menunjukkan terjangkit penyakit, seperti penyakit luka api; (3) Mengamati jumlah batang tanaman yang terserang penyakit pokkahbung untuk mengetahui persen serangannya. Sedangkan terhadap penyakit blendok dan mosaik dilakukan perhitungan rumpun tanaman sebagai penentuan persen serangan.
Tanaman tebu peka terhadap gangguan gulma terutama pada tiga bulan masa pertumbuhannya. Oleh karena itu pemberantasan gulma dilakukan sampai daun tajuk tebu saling menutup (biasanya terjadi pada tanaman tebu yang berusia 3 bulan). Pemberantasan dapat dilakukan denga cara penyiangan atau penyemprotan herbisida maupun dengan cara kombinasinya; d) Seleksi varietas; salah satu tujuan penyelenggaraan kebun-kebun pembibitan adalah untuk menghasilkan bahan tanam yang murni dan sehat. Oleh karena itu seleksi varietas harus dijalankan secara cermat dan intensif dengan melakukan pembuangan rumpun-rumpun campuran yang dilaksanakan beberapa kali pada saat-saat tertentu, yaitu : (1) Seleksi I saat tanaman berumur ± 2 bulan. Rumpun tanaman yang identitasnya masih diragukan diberi tanda dengan mengikat tali rafia atau tanda lain di batang tanaman untuk diseleksi pada tahap berikutnya; (2) Seleksi II saat tanaman berumur ± 4 bulan. Pada saat ini umumnya tanaman sudah membentuk ruas (2 - 4 ruas). Selanjutnya dilakukan tindakan yang sama dengan seleksi I. Jika dijumpai rumpun yang masih meragukan varietasnya berhubung bentuk mata yang belum jelas, sebaiknya tidak dibongkar tetapi diberi tanda untuk diseleksi ke tahap berikutnya; (3) Seleksi III merupakan seleksi tahap akhir dilakukan pada saat tanaman berumur 5,5 bulan, menjelang penebangan bibit. Sudah membentuk lebih dari empat ruas. Bentuk mata merupakan kriterium yang dapat dilihat dengan jelas sehingga pembuangan rumpun campuran yang bertalian dapat ditetapkan dengan pasti.

Sumber : Dasar-dasar Teknologi Budidaya Tebu dan Pengolahan Hasilnya
oleh Marsadi Pawirosemadi
Penulis : Agus Sutarman
Penyuluh Pertanian Madya
Pusluh BPPSDMP Kementan