RSS
Syndicate content

TEKNOLOGI BUDIDAYA TALAS SAICI

Sumber Gambar: bukabi.wordpress.diedit Saeful Hodijah

Talas SAICI adalah singkatan dari SatoImo Cisarua.

Tingginya permintaan talas satoimo dari Jepang membuka peluang budidaya talas satoimo semakin lebar. Maklum, tanaman sejenis umbi-umbian yang kerap disebut talas jepang ini merupakan alternatif makanan pokok masyarakat di Negeri Sakura. Potensi budidaya talas satoimo sangat prospektif. Pasalnya, permintaan talas ini di pasar luar negeri cukup besar, terutama dari Jepang. Di tahun lalu, tercatat permintaan Jepang terhadap komoditas ini mencapai 480.000 ton per tahun. China, salah satu negara pengekspor talas satoimo terbesar saat ini, belum mampu memenuhi permintaan tersebut.
Untuk menutupi kebutuhan itu, Pemerintah Jepang pun menawarkan proyek kerjasama budidaya talas satoimo kepada pemerintah Kabupaten Bogor pada 2006 dan di coba oleh : Kelompok Tani Paseban di Megamendung dan Kelompok Tani Kaliwung kalimuncar di Cisarua. Bogor.
Syarat Tumbuh Talas Satoimo pada ketinggian 1000 mdpl tapi penulis mencoba tanam di daerah Ciawi juga bagus, hanya rasa umbinya kurang kenyal.
Budidaya talas Jepang atau Satoimo secara umum tidak jauh berbeda dengan cara budidaya talas yang ada di Indonesia. Teknologi budidaya talas Jepang atau Satoimo tersebut adalah sebagai berikut :
Bibit.
Penyediaan bibit dilakukan dengan dua cara yaitu : Diambil dari umbi induk  atau umbi anakan hasil panen; Umbi anakan dapat dihasilkan melalui proses kultur jaringan (Tissue Culture) di laboratorium.
Persiapan Lahan
Tanah dicangkul sampai gembur, dibersihkan dari tanaman atau rumput; Buat bedengan atau guludan dengan lebar 60 – 120 cm, tinggi 15 cm dan panjang sesuai dengan keadaan lahan. Jarak antara guludan 40 cm yang berfungsi juga sebagai saluran air atau jalan kerja; Dibuat lubang tanaman berukuran 40 cm x 40 cm (1 larikan tanaman) atau 60 cm x 40 cm (2 larikan tanaman) dengan lubang diameter 25 cm dan kedalaman 15 cm yang digali pada jalur tengah guludan (1 larikan tanaman) atau masingmasing 40 cm dari tepi kiri/kanan guludan (2 larikan tanaman).
Penanaman
Talas Jepang hendaknya ditanam dilahan terbuka yang mendapat sinar matahari secara penuh dengan ketersediaan air yang cukup sesuai dengan keperluan pada lubang tanam yang disiapkan. Umbi yang telah tumbuh berdaun satu/menggulung dan telah berakar, sebelum dibawa ke lahan tanam terlebih dahulu dicelupkan pada cairan Benlete 2 gr per liter air, kemudian dapat langsung ditanam. Peletakan umbi bibit pada lubang tanaman dengan kedalaman dari permukaan maksimum 10 cm. Selanjutnya ditimbun dengan tanah disekitar lobang. Kemudian dilakukan penyiraman setelah tanam dan dapat dilakukan sesuai dengan kelembapan tanah dan kondisi cuaca waktu tanam.
Pemupukan
Sebagai pupuk dasar berikan pupuk organik berupa kompos 400 – 500 gr/tanaman, pupuk NPK (15-15-18 atau 20-10-10) 5 gr/ tanaman, diberikan 24 hari sebelum tanam ditambahkan dengan bionashr pada umur tanaman 1 bulan setelah tanam diberikan pupuk NPK (15-15-18) 5 gr/ tanaman yang ditabur 10 - 20 cm dari batang tanaman. Selanjutnya semprotkan bionashr dengan dosis 2 lt/Ha pada daun bagian bawah dan kelopak daun, dengan campuran 4 cc/L air, diulang 4 kali setiap 10 hari sekali dengan campuran yang sama pada setiap aplikasi/perlakuan.
Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam. Bibit yang digunakan hendaknya sama dengan ukurannya bibit sebelumnya. Penyiangan dilakukan apabila populasi gulma cukup tinggi karena diperkirakan akan menurunkan hasil dan menjadikan sumber organisme penggangu tanaman (OPT). Pemangkasan daun-daun tua yang sudah mati dan berpotensi sebagai tempat hidupnya jamur. Pembumbunan dilakukan secara bertahap setiap bulan sampai fase berumbi. Tingginya bumbunan 5 s/d 10 cm dari pangkal batang tanamn, agar diperoleh umbi yang besar dan bermutu.
Panen
Talas Jepang atau Satoimo sudah dapat dipanen setelah berumur 5 – 6 bulan yang ditandai dengan daunnya mulai menguning, layu dan mati. Warna umbi terlihat coklat tua. Kegiatan panen jangan dilakukan pada hujan turun. Pencabutan tanaman dengan umbinya harus dengan hati - hati dan tidak boleh menggunakan cangkul, usahakan umbi tidak lepas dulu dari induknya. Setelah tanaman dan umbi tercabut kemudian diikat dengan tali rapia selanjutnya dipindahkan ke tempat jemuran kemudian diangkut ke gudang untuk disortir.
Pasca Panen
Umbi talas yang sudah dipanen ditempatkan secara teratur digantungan/ disimpan pada rak-rak agar mendapat sirkulasi udara yang baik dan didiamkan selama beberapa hari sampai mengering. Umbi dibersihkan kemudian dipisahkan anakan umbi dari induknya (tidak boleh dengan pisau, cukup dipotes) agar kulit umbi tidak lecet.Saat ini satoimo menjadi komoditas agribisnis yang menguntungkan. Selain berpeluang menjadi komoditas ekspor, satoimo juga bisa menjadi alternatif produk pertanian untuk mengatasi masalah ketahanan pangan nasional.

Analisa Usaha (1 HA, 6 bulan)
I. Biaya
1.    Sewa lahan (6 bulan)    Rp.    1.000.000,-
2.    Persiapan dan Pengolahan Lahan    Rp.    2.500.000,-
3.    Bibit 25.000 umbi @ Rp.300,-    Rp.    7.500.000,-
4.    Kompos 10 ton @ Rp.500,-/kg    Rp.    5.000.000,-
5.    Pupuk NPK 250 kg @ Rp4.000    Rp.    1.000.000,-
6.    Obat-obatan/pestisida    Rp.    1.000.000,-
7.    Upah Tenaga Kerja       
a. Pembibitan 25 HOK @ Rp.15.000,-    Rp.    375.000,-
b. Penanaman 25 HOK @ Rp.15.000,-    Rp.    375.000,-
c. Pemeliharaan 25 HOK @ Rp.15.000,- (3 x)    Rp.    1.125.000,-
d. Panen 50 HOK @ Rp.15.000,-    Rp.    750.000,-
e. Pasca panen 50 HOK @ Rp.15.000,-                                            Rp.    750.000,-
Total Biaya Langsung                                                                  Rp.    21.375.000,-
8.    Biaya Modal 18% per tahun (6/12 x 18% x Rp.21.375.000)    Rp.     1.923.750,-
Total Biaya                                                                                   Rp.     23.298.750,-
II.Pendapatan(Asumsi HasilPanen 20.000 Kg/ha;
Harga Satoimo Rp.2000/kg)
20.000 Kg x Rp. 2.000,-                                                                Rp.    40.000.000,-
III. Keuntungan (per ha)                                                                Rp.    16.701.250,-


Ditulis oleh : Saeful Hodijah,S.ST Penyuluh Pertanian Madya  Kab .Bogor

sumber :

1.(fn/knt/nt) www.suaramedia.com
2. bukabi.wordpress.com/2009/01/27/umbi-umbian-talas