RSS
Syndicate content

Resep Sukses Petani Pinrang Tingkatkan Produksi Padi

Sumber Gambar: Abd. Salam, S.Pi Kelompok Fungsional BP4K Kab. Pinrang

Resep Sukses Petani Pinrang Tingkatkan Produksi Padi
Perubahan cuaca yang tidak menentu berdampak pada munculnya berbagai jenis OPT tanaman padi pada musim tanam Oktober-Maret hingga memasuki musim tanam April-September 2011. Pada MT lalu di Pinrang ada empat jenis OPT yang menyerang pertanaman padi antara lain hama tikus, penggerek batang, ulat grayak dan walangsangit. Empat jenis OPT yang menyerang itu tidak sampai mengganggu program pemerintah dalam meningkatkan produksi padi di kabupaten Pinrang.
Hal itu dikatakan oleh Bupati Pinrang H.Andi Aslam Patonangi usai melakukan panen pada demo plot Syngenta kerjasama dengan kelompok tani Siparappe desa Leppangan kecamatan Patampanua Pinrang, beberapa waktu lalu. Bupati bersama ketua DPRD Pinrang Muh.Darwis Bastama, SP mengatakan target tanam pada musim tanam ini 43.000 ha terealisasi 48.000 ha dan yang terserang OPT hanya 700 ha. "Tingkat serangan mulai dari ringan hingga berat namun tidak sampai mengganggu capaian peningkatan produksi padi berkat kerjasama penyuluh, petani dan formulator mengendalikan OPT," kata H.Andi Aslam Patonangi.
Produksi Meningkat Tajam
Memasuki pekan pertama April hingga sekarang ini sebagian besar tanaman padi di sejumlah kecamatan memasuki masa panen dengan rata-rata produksi riil 6-7 ton/ha GKP. Bila dibanding dari musim panen sebelumnya produktivitas hanya dicapai 4,5-6 ton GKP/ha. "Panen lalu di lokasiku sudah tinggi 7 ton tapi hasil riil panen musim ini produksi naik lagi menjadi 9,1 ton/ha GKP karena bimbingan penyuluh dan Syngenta," ungkap Anwar (64), ketua kelompok tani Siparappe.
Padi varietas Ciliwung yang dipanen pak Anwar adalah demo plot kerjasama Syngenta yang ditanam 29 Desember 2010 jarak tanam 20X20X30 cm atau 222.000 rumpun/ha. Sarana produksi yang digunakan pupuk urea 210 kg, SP 150 kg, ZA 50 kg, NPK 100. Sedangkan insektisida menggunakan Virtako tiga kali aplikasi, fungisida Score dua kali aplikasi, dan Amistartop sekali aplikasi.
Diungkapkan pak Anwar anggota kelompoktani yang tidak menggunakan produk Syngenta tersebut hanya mampu memproduksi 7,52 ton/ha GKP dengan varietas padi dan jumlah pemupukan yang sama. "Memang agak mahal sedikit tetapi peningkatan produksinya cukup tinggi sehingga tetap lebih untung," kata Anwar.
Di kelompoktani Sipakainga I desa Boki kecamatan Tiroang Bupati dan sejumlah anggota DPRD geleng kepala menyaksikan hamparan 50 ha tanaman padi hibrida Sembada B9 siap panen. Dari hasil panen ubinan diketahui petakan yang menggunakan paket Score dan Virtako diperoleh 12 ton GKP/ha sedangkan pembanding hanya capai 9 ton/ha. Ir. Hj. Supiyani penyuluh pertanian di wilayah itu mengatakan kepercayaan petani terhadap produk dari Syngenta sudah tidak diragukan lagi karena sudah tiga musim tanam petani di daerah itu membuktikan keunggulan produk Syngenta.
Pakai Score Harga Gabah di Atas HPP
Anggota Kelompoktani Mattuju Lalang Dua desa Kapa kecamatan Mattiro Sompe, Muh. Sofyan, SP cukup bergembira menikmati hasil panen padi kali ini. Selain produksi meningkat juga harga gabah melebihi harga yang ditetapkan pemerintah. Padi varietas Ciliwung yang ditanam Sofyan menghasilkan 11,2 ton/ha hasil panen ubinan. Sedangkan petani di sampingnya yang tidak menggunakan produk Score dan Virtako hanya bisa panen 7,3 ton/ha.
" Tanaman padi yang menggunakan produk Syngenta menunjukkan perbedaan signifikan dengan yang tidak pakai Syngenta baik dari segi produksi maupun harga gabah," ungkap Sofyan. Ia menjelaskan petakan sawah yang mengunakan Score, Virtako, Filia dan Amistartop memiliki anakan produktif 22/rumpun sedang pembanding 17 anakan /rumpun, jumlah biji 120/malai sedang pembanding 100/malai. Setelah diuji di panen ubinan maka padi milik Sopyan hasilkan 11,2 ton GKP/ha sedangkan pembanding 7,6 ton/ha sehingga terjadi selisi 3,6 ton/ha. Dari segi harga gabah pada saat panen laku Rp.2.800/kg GKP sedangkan yang tidak gunakan Score harga jual gabahnya di bawah harga tersebut.
Regional Sales Manager PT Syngenta untuk wilayah Sulawesi dan Maluku, Ali Syarif, SE, MM mengatakan akan terus melakukan pendampingan kepada para petani karena Syngenta tidak hanya menjual produk tetapi juga membimbing petani soal teknologi budidaya pertanian. "Kita akan terus kembangkan demo plot kerjasama petani dan PPL di lapangan kemudian kita sosialisasikan hasil dari demo plot itu dalam bentuk expo teknologi atau temu lapang agar teknologinya menjalar ke petani yang lainnya," ungkap Ali Syarif kepada Sinartani di Pinrang.
Sales exekutif PT Syngenta wilayah Pinrang dan Sulbar, Ir.Arsyad menghitung tambahan penghasilan petani yang menggunakan paket dari Syngenta dengan yang tidak sehingga diketahui tambahan penghasilan sekitar Rp.4-5 juta. Hasil riil demoplot Syngenta di desa Leppangan 9,1 ton/ha sedangkan hasil ubinan petani yang tidak menggunakan Syngenta hanya 7,52 ton/ha sehingga terjadi selisi 1,5 ton. " Hanya dengan menambah biaya sekitar Rp.900.000/ha dapat menambah produksi sekitar 1,9 ton GKP/ha," katanya. Demikian juga di desa Kapa dengan tambahan hasil 3,6 ton atau sekitar Rp.10 juta.
Ditambahkan Anwar agar tanaman padi selamat dari serangan OPT dan hasil panen meningkat maka gunakanlah obat-obatan tepat waktu, artinya jangan sampai terjadi serangan baru cari obat. "Lebih baik mencegah daripada mengobati, jika terpaksa menggunakan obat lebih bijaksanalah agar musuh alami tidak terganggu," resep sukses pak Anwar yang dipesankan kepada petani anggota kelompoknya.(Abdul Salam Atjo)