RSS
Syndicate content

PENGENDALIAN HAMA TIKUS DENGAN MUSUH ALAMI BURUNG HANTU

Sumber Gambar: anonimus

METODE PENGENDALIAN HAMA TIKUS
(Rattus tiomanicus miller) MENUJU
PERTANIAN BERKELANJUTAN
Oleh :
ABDUL JALIL, S.ST
PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN MOJOKERTO 2012

Burung Hantu dianggap menyeramkan bahkan sering dianggap membawa sial. Di beberapa tempat burung ini diburu habis karena masyarakat tidak ingin tertimpa kemalangan ataupun ingin mendapat keuntungan finansial dari burung eksotik ini.
Burung Hantu adalah burung predator yang ganas yang struktur tubuhnya membuatnya mampu selalu mengejut mangsanya. Burung Hantu mampu mendeteksi mangsa dari jarak jauh. Burung ini pun mampu terbang cepat dengan sunyi sehingga mangsanya bisa saja tidak tahu apa yang menerkamnya. Tetapi burung ini tidak berbahaya bagi manusia, justru sebenarnya membantu mengendalikan sejumlah hama, seperti tikus yang sangat merugikan manusia.
Kemampuannya untuk mendeteksi mangsa dari jarak jauh dan kemampuannya menyergap dengan cepat tanpa suara serta sifatnya sebagai hewan nocturnal (mencari makan di malam hari) membuatnya menjadi predator ideal untuk tikus-tikus.
Beberapa tempat seperti Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur telah menunjukkan kesuksesan dalam mengendalikan hama tikus dengan cara membudidayakan Burung Hantu.
Pembudidayaan yang dipantau oleh Dinas Pertanian setempat dan diikuti oleh pembangunan sarang-sarang buatan dan penangkaran ini terbukti mampu mengendalikan hama tikus dalam area persawahan yang sangat luas secara efektif dan efisien.
Sarang-sarang buatan dibutuhkan karena Burung Hantu tidak membuat sarangnya sendiri, Burung Hantu selalu merebut ataupun menempati sarang kosong milik burung jenis lain.
Pengendalian hama menggunakan musuh alami ini memiliki banyak keuntungan. Selain tidak mengotori lingkungan dengan racun ataupun zat polutan lainnya, kemudian asalkan dijaga dengan baik musuh alami juga tumbuh dan berkembang sehingga semakin hari bukan semakin habis seperti tumpukan persediaan pestisida. Dan satu lagi, musuh alami dengan senang hati bekerja sendiri sementara kita bisa tidur nyenyak menanti hasil kerjanya.
Peningkatan serangan hama tikus di daerah sentra produksi padi dampaknya sangat nyata dan dirasakan oleh petani sangat memberatkan.
Pengendalian tikus yang biasa digunakan di Indonesia dengan mengandalkan rodentisida pada awalnya dapat menurunkan populasi, tetapi jangka panjang kurang menguntungkan karena akan terjadi kompensasi populasi dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu agar pengendalian dapat berkelanjutan dan dampak negatif terhadap lingkungan dapat dihindari, maka pengendalian hayati menjadi pilihan utama. Pengendalian hayati terhadap hama tikus memberikan harapan yang baik di masa mendatang. Hal ini dapat terjadi karena jika agens pengendali hayati telah mapan di suatu tempat sifatnya berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan. Pemanfaatan burung hantu Tyto alba javanica sebagai agens pengendali hayati hama tikus telah memberikan hasil yang cukup baik karena kemampuan mencari dan mengkonsumsi mangsa lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemangsa lain dari Kelas Reptilia dan Mammalia. Mangsa utama burung hantu lebih dari 90% adalah jenis tikus, dengan kemampuan memangsa antara 3-5 ekor tikus per hari.

Sepasang burung hantu dapat menjangkau wilayah pengendalian seluas 25ha,
Jumlah persebaran penangkaran burung hantu (tyto alba) di Kabupaten Mojokerto masih perlu terus-menerus dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Penulis mencatat bahwa pengembangannya baru di wilayah Kecamatan Mojoanyar dan Trowulan,.Usaha penangkaran yang dipelopori oleh pak Sucipto ini memang sangat serius sehingga dapat sukses dan dilihat hasilnya.

 

PENGENDALIAN TIKUS, Rattus tiomanicus MILLER
Sebelum th 1970, rodentisida (Klerat, ratropik dengan bahan aktif pg chomatetralyl dan bromadiolone) telah berhasil digunakan untuk pengendalian tikus dan cukup selektif karena diberikan dalam bentuk umpan. Seperti halnya dengan pestisida yang lain bentuk umpan. Seperti halnya dengan pestisida yang lain penggunaan rodentisida mempunyai kelemahan2an sbb:
• Menimbulkan pencemaran bahan kimia beracun terhadap lingkungan misalnya air, tanah, udara.
• Menimbulkan bau bangkai tikus disekitar kebun
• Menimbulkan kejeraan terhadap tikus

Persiapan sangkar burung hantu
Sangkar burung hantu dibuat dari bahan tripleks 90 mm dan atap seng berukuran tripleks 90 mm dan atap seng, berukuran panjang 90 cm, lebar 45 cm dan tinggi 50 cm sesuai spek yang telah dibuat oleh Lenton (1978) dan dimodifikasi oleh oleh Kelompoktani Harapan Jaya, Desa Wunut , Kec. Mojoanyar, Mojokerto bersama-sama penulis (2009).
Perkembangbiakan
burung hantu Tyto alba menempati sangkarnya pada 3-4 bulan setelah mereka dilepaskan dan mencari pasangannya pada umur 8-12 bulan, kemudian bertelur dalam waktu satu bulan setelah perkawinan. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi antara 4 - 11 butir /betina tergantung pada jumlah makanan yang tersedia. Ukuran telur panjang 44 mm, lebar 31 mm. Masa bertelur dapat mencapai 44 mm, 31 mm, 28-32 hari 15-24 hari, karena peletakan telur 1-3 hari sekali. Telur mulai dierami pada saat telur ke tiga atau ke empat dan menetas setelah 30 hari. Pada umur 2.5 - 3 bulan anak anak burung hantu mulai belajar terbang dan meninggalkan induknya untuk mencari sangkar yang baru dan mencari pasangannya sendiri sendiri pada umur 8 bulan dan bertelur dalam waktu satu bulan setelah perkawinan. Periode bertelur 4.5 - 5.5 bulan sekali sehingga kecepatan perkembangan populasi burung hantu ini cukup tinggi yaitu 4 - 8 anak per tahun. 25 3 bulan 2.5 - 3 bulan

KESIMPULAN
Tyto alba dapat mengendalikan hama tikus, Rattus tiomanicus , secara efektif karena makanan pokoknya spesifik tikus (99%) dan serangga (1%) (Duckett, 1989). Daya konsumsi T. alba 2-4 ekor tikus / hari / burung hantu (Lenton 1980; Sipayung dkk 1990) Selain itu Talba burung hantu (Lenton, 1980; Sipayung dkk, 1990). Selain itu T. alba melakukan aktifitasnya pada malam hari mulai pukul 19.00 - 06.00 wib dimana bersamaan dengan aktifitas tikus.

Pengendalian tikus secara biologis memberikan nilai tambah sbb
• Tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan
kebun (air, tanah, udara)
• Biaya pengendalian dapat ditekan sampai 60% apabila dibandingkan dengan penggunaan rodentisida
• Tidak memerlukan tenaga kerja yang khusus untuk pengawasan pg
• Efektif sepanjang tahun
• Tyto alba sebagai satwa langka, dapat dikembangkan populasinya