RSS
Syndicate content

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK RANTING TANAMAN PALA

Sumber Gambar: Balittri & UNDP 2011
Kumbang Hama penggerek Ranting (scolitydae) dengan membuat gerakan melingkar pada pangkal ranting. Semua stadia (telur, larva, pupa dan kumbang dewasa) dapat ditemui dalam lubang.
Sangat berbahaya karena menyerang secara agregasi, sehingga mampu mematikan ranting dalam waktu yang relatif singkat.

Gejala serangan :
1) cabang atau ranting permukaannya berlubang-lubang kecil dengan diameter ± 1 mm.
2) Bila cabang dikupas tampak aluralur gerekan yang ditumbuhi oleh jamur-jamur ambrosia makanan larva (keturunannya), kumbangnya sendiri makan kayu. Cabang atau ranting yang terserang akan kering dan mudah patah, sehingga tanaman tampak meranggas.
3) Umumnya hama ini menyerang tanaman yang kondisinya kurang sehat, karena habis dipangkas
4) atau panen atau oleh serangan hama /penyakit lain.

Pengendalian hama penggerek batang:
Penggunaan pestisida kimia yang terus menerus dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti berupa keracunan pada manusia dan hewan peliharaan, pencemaran air tanah, terbunuhnya organisme bukan sasaran, serta terganggunya keseimbangan alam.

Beberapa komponen pengendalian Hama Penggerek Ranting / OPT
1. Varietas Tahan
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Industri telah melepas 3 varietas
pala produksi tinggi di antaranya Ternate 1, Tidore 1 dan Tobello 1.
Untuk mencari varietas tahan terhadap penyakit akar maupun penggerek batang/ranting, dapat dilakukan dengan mencari sumber ketahanan baik dari varietas lokal maupun varietas yang sudah dilepas.

Caranya;
a. Menseleksi nomor/klon yang secara alami di lapang tidak terserang hama atau patogen penyebab penyakit.
b. Untuk penyakit jamur akar, dapat dilakukan dengan teknik grafting dengan menggunakan batang bawah yang tahan terhadap jamur akar (putih/hitam) dan bagian atas varietas yang berproduksi tinggi (teknik graffing yang tepat telah ditemukan oleh Balittri).
c. Teknik graffing ini juga sangat membantu dalam percepatan rehabilitasi kebun yang sudah tua atau yang terserang hama dan penyakit.

d. Kultur teknis? membersihkan kebun dari sumber infeksi, pengaturan jarak tanam, pemangkasan yang tepat juga dapat mengurangiCaaranya; serangan hama dan penyakit di lapang.
e. Untuk penanaman baru, karena JAP mempunyai inang yang banyak seperti karet, teh, kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, nangka, ubi kayu, cengkeh, lamtoro, dadap, akasia dll, perlu diperhatikan sumber-sumber infeksi ini dan harus dimusnahkan.
f. Untuk peremajaan
g. pembersihan kebun dari sumber infeksi, seperti tunggul-tunggul yang terinfeksi dibakar atau diracun.

Menggunakan tanaman penutup tanah:
a. Mengatur jarak tanam, anjuran adalah 9 x 10 m atau 10 x10 m.
b. Untuk tanaman yang terlalu rapat dapat dilakukan pemangkasan supaya menjaga kelembaban dan cahaya matahari cukup masuk di antara tanaman pala, serta pembersihan gulma.
c. Pembuatan drainase dan pembukaan leher akar.
d. Tumpang sari tanaman pala dengan berbagai tumbuhan yang bersifat antagonis terhadap jamur akar seperti kunyit, lidah mertua, pohon sigsag, sambiloto dan laos.
e. Melakukan sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan tanaman yang terserang hama dan penyakit dengan cara eradikasi membakar bagian tanaman yang sakit.

Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir apabila teknik pengendalian yang lain dinilai tidak berhasil, dan harus dilakukan secara bijaksana.

(Sumber : Balittri & UNDP 2011)